Menjalani long distance marriage bukan sekadar tentang hidup terpisah oleh jarak, tetapi tentang merawat sebuah hubungan di tengah kesibukan, rasa rindu, dan tantangan komunikasi. Banyak pasangan yang harus menghadapi kondisi ini karena berbagai faktor, mulai dari karena pekerjaan, pendidikan, atau alasan tertentu untuk keluarga.
Namun, tak sedikit pasangan yang khawatir dengan pernikahan mereka, apakah bisa tetap hangat ketika berjauhan. Karena dibalik jarak yang memisahkan, sangat diperlukan kepercayaan, kedewasaan, dan perjuangan bersama untuk tetap terhubung.
Untuk membangun itu semua tentu tidak mudah ya, MamPap. Seperti perjuangan panjang yang diceritakan Gina Elia, salah satu pejuang LDM (Long Distance Marriage) yang telah menjalani hubungan jarak jauh dengan sang suami selama 6 tahun pernikahan mereka.
“Cita-cita Memisahkan Jarak Kami”
Gina Elia dan sang suami harus rela menjalani hubungan jarak jauh dalam pernikahan mereka karena alasan finansial. Meskipun mereka sempat berpikir bahwa hubungan LDM tidak akan berhasil dalam jangka panjang, pengalaman ini telah banyak memberi pelajaran tentang diri mereka sendiri dan satu sama lain.
“Ketika kami menikah, saya ingin menjadi profesor. Saya merasa beruntung ketika mendapatkan pekerjaan di sekolah dasar di Miami. Jaraknya hanya sekitar dua setengah jam perjalanan melintasi Florida dari Fort Myers, tempat saya dan suami tinggal bersama. Saya pindah ke Miami setelah menerima pekerjaan itu, dan suami tetap tinggal di rumah kami.”
“Meskipun suami saya juga melamar pekerjaan di Miami, tetapi tidak mendapatkan tawaran dengan kualitas yang diinginkannya. Setelah menjalani hubungan jarak jauh selama satu setengah tahun, dia pindah ke North Carolina untuk pekerjaan yang menurutnya merupakan langkah maju dalam kariernya.
Kami pun tetap hidup terpisah jarak dan sepakat untuk tidak meninggalkan karier masing-masing demi tinggal bersama. Karena suami saya memutuskan akan menjalani program MBA Harvard Business School, saya tidak ingin meninggalkan pekerjaan nyaman yang saya miliki, karena tahu bahwa saya akan menjadi satu-satunya ‘tulang punggung’ yang menghasilkan uang selama program MBA suami saya berjalan nanti. Jadi kami tetap menjalani hubungan jarak jauh selama empat tahun penuh.” cerita Gina Elia panjang lebar.
Mengenali Kebutuhan Diri Sendiri Itu Penting
“Kami tetap saling mengunjungi secara teratur selama enam tahun terpisah, dan itu sudah cukup baginya. Butuh waktu bagi saya untuk memahami bahwa kondisi ini bukan berarti mencerminkan sikap apatis, melainkan gaya yang berbeda dalam menunjukkan kasih sayangnya.
Beruntungnya, dia mendengarkan saya ketika saya mengatakan bahwa saya memang membutuhkan kedekatan fisik yang lebih sering. Itulah sebabnya, suami mulai melamar pekerjaan di Miami tempat tinggal kami, setelah program MBA-nya berakhir. Padahal, di kota-kota lain ada lebih banyak peluang di bidangnya.”
Menurut Gina, sebagai pejuang LDM, sangat penting untuk memahami kebutuhan diri sendiri dan mengkomunikasikannya dengan pasangan. “Hal ini pun telah memungkinkan saya untuk berkomunikasi dengan suami saya bahwa kita harus bersatu di bawah satu atap untuk selamanya sejak tahun 2025, setelah pendidikannya selesai.”
Pentingnya Quality Time dalam Long Distance Marriage
Seperti Gina, Eka Olivia yang sudah menjalani long distance marriage selama 10 tahun pernikahan dengan sang suami yang harus bekerja di luar kota, meyakini bahwa waktu yang berkualitas bersama pasangan merupakan fondasi terkuat bagi pernikahannya, selain komunikasi yang jujur dan kepercayaan yang tinggi.
Menurut Eka, ia dan suami selalu menyempatkan menikmati quality time berdua tanpa anak-anak, di saat suami sedang libur bekerja. Hal ini menjadi salah satu cara untuk ‘menabung’ keintiman dan meningkatkan koneksi antar pasangan, serta kegembiraan meskipun nantinya harus terpisah jarak lagi.
“Tetep rindu dan tidak sabar setiap dia mau pulang. Tetap excited dan ingin dandan cantik walaupun hanya diajak makan berdua di luar sebentar. Masih selalu seru ketika bersama suami seperti pacaran.” kata Eka.
Memahami Kebutuhan Pasangan
Eka bercerita bahwa sang suami selalu memprioritaskan kebutuhannya dan anak-anak. Hal ini membuat dirinya merasa diperhatikan dan dicintai. Begitu pun dirinya kepada suami. Sebagai pasangan, penting untuk memahami kebutuhan yang berkembang seiring bertambahnya usia. Yang paling penting juga saling menghormati.
Kepercayaan Dibangun dari Komunikasi yang Baik
Eka juga setuju bahwa dalam hubungan jarak jauh membutuhkan komunikasi yang nyaman dan baik, yang memungkinkan mereka merasa diperhatikan dan dicintai. Beriringan dengan itu, kepercayaan pun akan tumbuh. “Tidak ada pikiran yang berlebihan. Bahkan, kami tidak saling mengecek ponsel sama sekali saat bertemu. Itulah kepercayaan yang tumbuh di dalam hubungan kami.”
LDM atau long distance marriage bukan perjalanan yang mudah. Tetapi ia mengajarkan banyak hal tentang komitmen, komunikasi, dan keteguhan hati. Hubungan ini juga merupakan kesempatan bagi satu sama lain untuk membangun fondasi cinta yang lebih kokoh dan dewasa.
Content Writer Parentsquads










and then