13 Mitos Pernikahan yang Perlu Diluruskan, Nomor 7 Masih Sering Dipercaya!

mitos pernikahan

Kita tentu sepakat ya kalau pernikahan bukan garis finis, melainkan garis start dari perjalanan panjang yang butuh penyesuaian dan kompromi untuk bisa saling bertumbuh. Jangan sampai terjebak dengan banyaknya mitos pernikahan yang justru sebenarnya perlu dijadikan tanda bahaya. 

Pernikahan sejatinya merupakan proses belajar seumur hidup yang dilakukan bersama-sama. Dalam perjalanannya, sering kali yang membuat pernikahan terasa berat bukan hanya realitanya, tapi juga ekspektasi yang dibentuk dari berbagai mitos pernikahan yang dipercayai sejak lama.

Iya! Nyatanya mitos memang tidak hanya berkaitan dengan kesehatan saja, mitos penikahan pun ada dan sayangnya masih banyak dipercaya. Sehingga tidak sedikit pasangan yang masih ‘terjebak’ dengan cara pandang yang tidak tepat terkait dengan pernikahan. 

“Kita tumbuh dengan banyak ‘dongeng’ tentang pernikahan bahagia, tapi tidak pernah benar-benar belajar cara membangun pernikahan yang sehat itu seperti apa. Akibatnya, ketika realita tidak sesuai ekspektasi, banyak pasangan merasa gagal padahal yang terjadi sebenarnya normal,” ujar Nadya Pramesrani, psikolog klinis dewasa dari Rumah Dandelion.

Read More

Untuk itu, sebelum (atau bahkan setelah) menikah, penting untuk memahami satu per satu mitos pernikahan. Ini penting untuk mencapai tujuan pernikahan, satu sama lain bisa melihat cinta dan komitmen dengan cara yang lebih matang dan jujur.

Mitos Pernikahan yang Masih Sering Dipercaya

mitos pernikahan

Agar tidak salah dan terus terjebak dengan mitos pernikahan, berikut beberapa pernyataan yang sebenarnya kurang tepat seperti yang dijelaskan Nadya Pramesrani.

1. Jika menikahi orang yang ‘tepat’, maka cinta itu akan selalu ada.

Cinta dalam pernikahan tentu saja penting, tapi pernikahan tidak cukup dibangun dengan cinta. Sebuah hubungan, khususnya pernikahan butuh komunikasi, kepercayaan, dan usaha yang dilakukan dari dua arah. Cinta bisa jadi bahan bakar, tapi ibarat mobil yang tanpa arah dan perawatan, tentu saja akan bisa mogok di tengah jalan.

Artinya, jika tidak ‘dipelihara’ dengan baik, cinta yang terasa begitu menggebu-gebu dalam sebuah pernikahan bisa hilang. Sebab, cinta bukan sekadar perasaan. Cinta adalah sesuatu yang perlu dilakukan, dirawat, dipelihara. Jika tidak, tanpa disadari tentu saja bisa merasakan masa-masa di mana rasa cinta dapat lenyap bergitu saja.

2. Pasangan yang baik tahu apa yang kita mau tanpa perlu dijelaskan.

Sayangnya, pasangan bukan cenayang yang bisa membaca pikiran begitu saja. Komunikasi adalah kunci penting dalam pernikahan.  Malah ada yang bilang, isi pernikahan adalah obrolan. Mencintai juga berarti mau menjelaskan, saling bercerita dan tentu saja saling mendegarkan satu sama lain. Bukan menuntut untuk terus dipahami.

3. Mitos pernikahan yang menganggap, “Kalau cinta, ya, nggak akan marah”.

mitos pernikahan

“Padahal marah itu bagian dari emosi dasar manusia, seperti senang, sedih, jijik, atau terkejut. Jadi, marah dengan pasangan salah satu bentuk emosi yang wajar dirasakan siapa pun juga. Sebab yang penting itu bukan menghindari marah, tapi bagaimana mengekspresikannya rasa marah tanpa merusak dan menyakiti dan mengarah pada solusi atau penyelesaian masalah,” tegas Nadya.

4. Anggapanpasanganku akan berubah menjadi lebih baik setelah menikah”.

Ini adalah salah satu mitos pernikahan yang cukup berbahaya, terutama bagi orang yang sedang dalam masa pra-nikah. Percayalah, pernikahan bukan alat untuk mengubah seseorang. Mengubah pasangan menjadi lebih perhatian, lebih dewasa, tidak kasar atau perubahan sikap lainnya. Pernikahan tidak otomatis membuat seseorang berubah, justru biasanya sifat asli semakin terlihat karena hubungan menjadi lebih dekat dan intens.

Pernikahan justru memperkuat pola yang sudah ada. Lagi pula, perubahan hanya terjadi jika ada kesadaran pribadi untuk mau berubah. Sadar bahwa sikap atau tindakannya tidak tepat. Mengandalkan pernikahan sebagai pemicu perubahan sering berakhir dengan kekecewaan. Mengabaikan perasaan yang mengganggu berarti hanya menunda masalah yang lebih besar terjadi di masa depan.

5. Menikah otomatis membuatmu bahagia.

Banyak orang kaget saat menyadari bahwa menikah tidak otomatis menghapus rasa sepi. Bahagia datang bukan karena status baru, tapi karena kita terus berproses jadi versi diri yang lebih sadar dan siap berbagi hidup.

6. Pernikahan yang bahagia dan sehat akan bebas dari konflik.

Pernikahan yang bahagia tentu saja bukan yang tanpa konflik, tapi yang tahu cara memperbaikinya. Kadang, perbedaan pendapat justru menunjukkan bahwa kalian masih peduli. Dua individu yang disatukan dalam pernikahan tentu saja tetap memiliki sudut pandang yang berbeda. 

Ketika dua orang yang berbeda bersatu, meskipun secara fundamental mereka selaras, mereka akan memiliki pendapat yang berbeda tentang hal-hal tertentu. Untuk berada dalam pernikahan yang sehat, kita harus berada di lingkungan yang membuat merasa aman untuk membahas hal-hal yang tidak disetujui atau disukai untuk menemukan kesepakatan bersama. 

7. Memiliki anak membantu pasangan untuk terus bertahan dalam pernikahan yang sedang bermasalah.

mitos pernikahan

Ini adalah mitos pernikahan yang masih sering dipercaya. Faktanya, memiliki anak tidak membantu pasangan dalam pernikahan yang sedang bermasalah. Jika pernikahan sedang bermasalah, penuh konflik apalagi untuk kasus KDRT,  justru berisiko besar memunculkan banyak luka pada diri anak. Ia akan tumbuh dengan banyak trauma. 

8. Anak akan memperkuat hubungan pernikahan.

Anak bisa membawa cinta baru, tapi juga ujian baru. Kurang tidur, kelelahan, perbedaan pola asuh, semuanya bisa menguras energi hingga memicu parental burn out. Terlebih lagi, tantangan orang tua dalam pola asuh akan terus ada di semua fase usia anak, mulai sejak new born, hingga anak tumbuh menjadi remaja dan dewasa. “Tapi kehadiran anak tentu bisa saja menambah kebahagiaan pada pernikahan yag sehat dan memuaskan,” tambah Nadya. 

9. Masalah kecil dalam pernikahan tidak perlu dibahas merupakan salah satu mitos pernikahan

Pernyataan atau nasihat yang mengatakan kalua “masalah kecil dalam pernikahan tidak perlu dibahasadalah salah satu mitos pernikahan. Justru mengabaikan hal-hal kecil bisa menjadi sumber masalah besar di kemudian hari. Masalah yang dianggap kecil sering menumpuk hingga akhirnya bisa adi bom waktu, meledak dalam bentuk pertengkaran besar. tidak jarang, pasangan memilih diam Ketika ada sesuatu yang mengganggu.

Bahkan meyakinkan diri kalua masalah tersebut sangat sepele sehingga tidak perlu dibesar- besarkan. Terdengar klise, tapi memang komunikasi adalah kunci hubungan sehat. Pernikahan yang sehat dibangun di atas komunikasi terbuka. Membicarakan hal-hal kecil bukan berarti mencari masalah, tetapi menjaga agar tidak terjadi kesalahpahaman dan menciptakan rasa saling mengerti. Kadang kala, masalah kecil menunjukkan kebutuhan yang belum terpenuhi.

10. Mitos Pernikahan: Menikah otomatis membuat seseorang menjadi lebih dewasa.

Status boleh berubah, tapi kedewasaan datang dari proses belajar menghadapi tanggung jawab dan realita. Banyak orang menikah muda tapi bijak, ada juga yang menikah matang tapi masih egois, semua tergantung kesiapan, bukan usia. Dalam hal ini Nadya menjelaskan beberapa penelitian menemukan bahwa untuk dewasa itu butuh kematangan emosional, yaitu kemampuan untuk identifikasi emosi, memahami penyebab munculnya emosi tersebut serta apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya.

11. Dalam pernikahan pondasi paling penting adalah cinta.

Cinta memang penting, tapi ada banyak hal yang tidak kalah penting yang membuat pernikahan menjadi kokoh. Misalnya urusan komunikasi, dan keterbukaan soal finansial yang menjadi bentuk kepercayaan.  Faktanya, urusan finansial menjadi salah satu faktor yang kerap memicu terjadinya perceraian. 

12. Pasangan yang bahagia akan melakukan segalanya bersama-sama.

mitos pernikahan

Pernyataan “Pasangan yang bahagia akan melakukan segalanya bersama” adalah mitos pernikahan. Kenyataannya, hubungan yang sehat tidak berarti selalu bersama, tapi justru mampu memberi ruang bagi masing-masing individu untuk tetap menjadi dirinya sendiri.

Setelah menikah kita tentu memerlukan identitas pribadi. Bahwa masing-masing individu memiliki minat, kebutuhan, dan cara mengisi waktu yang mungkin tidak selalu sama. Nadya juga mengingatkan bahwa di sini,  kualitas dan kuantitas sama-sama memiliki peran yang penting. Katanya,  “Kuantitas tanpa kualitas, kosong dan cape aja jadinya. Kualitas tanpa kuantitas yang cukup, bisa berasa kurang.”

Kedekatan pasangan suami istri memang tidak cukup diukur dari frekuensi kebersamaan. Kebahagiaan dalam hubungan lebih ditentukan oleh kualitas interaksi, bukan kuantitas waktu bersama.

13. Kalau sudah lama nikah, nggak perlu kencan lagi.

Justru sebaliknya. Setelah bertahun-tahun, “waktu berdua” makin langka dan inilah yang perlu dijaga. Kencan tidak selalu berarti makan malam mewah  cukup ngobrol tanpa gangguan, atau nonton film bareng setelah anak tidur, sudah bisa jadi bentuk cinta yang nyata.

Jadi bagaimana MamPap, apakah mitos pernikahan ini sudah ratusan kali didengar? Jangan langsung percaya ya!

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventy six + = 79