Sering Ngorok? Waspada Sinyal Bahaya Gangguan Irama Jantung yang Picu Stroke

ganguan irama jantung

Bagi sebagian besar masyarakat, suara dengkuran atau ngorok saat tidur sering kali dianggap sebagai hal yang lumrah. Bahkan, tidak sedikit yang percaya bahwa orang yang mendengkur berarti sedang tidur nyenyak akibat kelelahan beraktivitas.

Di sisi lain, banyak pula individu yang merasa sudah menghabiskan waktu berjam-jam di tempat tidur, namun begitu terbangun di pagi hari, tubuh tetap terasa lelah, lemas, dan rasa kantuk yang berat terus dirasakan sepanjang siang. Ada yang pernah mengalaminya?

Dua kondisi ini, ngorok dan rasa kantuk yang tak kunjung hilang sering kali disepelekan dan hanya terkait dengan masalah kebugaran biasa. Padahal, dunia medis memperingatkan bahwa kondisi ini bisa menjadi alarm bahaya tersembunyi yang mengancam kesehatan organ paling vital di tubuh kita, yaitu jantung.

Mitos “Tidur Nyenyak” di Balik Dengkuran

Mengapa kebiasaan mendengkur bisa berdampak buruk? Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Aritmia RS Pondok Indah – Pondok Indah, dr. Dony Yugo Hermanto, Sp.JP, Subsp.Ar(K), FIHA meluruskan anggapan keliru yang berkembang di masyarakat. Ia menegaskan bahwa dengkuran keras justru menandakan kualitas tidur yang buruk.

“Gangguan tidur, kadang-kadang kita nggak sadar tuh ngorok, terus siangnya ngantukan aja bawaanya. Itu adalah salah satu bentuk dari gangguan tidur yang namanya obstructive sleep apnea yang bisa menyebabkan atrial fibrilasi,” jelas dr. Dony.

Pada penderita obstructive sleep apnea (OSA), saluran pernapasan mengalami penyumbatan sebagian atau total secara berulang saat tidur. Akibatnya, aliran oksigen terputus dan napas bisa berhenti selama beberapa detik.

Kondisi ini membuat otak ‘terkejut’ dan memaksa tubuh terbangun sejenak untuk mengambil napas, meskipun sering kali orang tersebut tidak menyadarinya. “Kalau ngorok dia tidurnya nggak nyenyak,” tambah dr. Dony. Karena siklus tidur yang terus terganggu malam demi malam, tubuh tidak benar-benar beristirahat, sehingga memicu rasa kantuk berlebihan di siang hari.

Mengenal Gangguan Irama Jantung (Atrial Fibrilasi) 

ganguan irama jantung

Jika dibiarkan tanpa penanganan, gangguan tidur seperti OSA ini lama kelamaan akan memberikan beban tekanan yang besar pada dinding dada dan menurunkan kadar oksigen dalam darah secara drastis. Stres fisik yang terjadi terus-menerus ini pada akhirnya memengaruhi kerja kelistrikan jantung dan memicu gangguan irama jantung.

Secara garis besar, gangguan irama jantung atau dalam istilah medis disebut aritmia adalah kondisi di mana detak jantung seseorang tidak berjalan normal, bisa terlalu lambat, terlalu cepat, atau tidak teratur. Salah satu jenis aritmia yang paling sering dipicu oleh gangguan tidur ini adalah Atrial Fibrilasi (AF).

Pada kondisi Atrial Fibrilasi, serambi (atrium) jantung tidak berdenyut secara teratur, melainkan hanya bergetar dengan cepat dan kacau. Akibatnya, aliran darah ke seluruh tubuh menjadi tidak efisien. dr. Dony menggambarkan kondisi ini secara sederhana, “Dia bisa nadinya jadi lari.”

Detak jantung yang melonjak tidak beraturan ini membuat penderitanya mudah merasa lelah, dada terasa tidak nyaman (berdebar-debar), hingga mengalami sesak napas saat melakukan aktivitas fisik yang tergolong ringan.

Bahaya Gangguan Irama Jantung yang Kerap Diabaikan

Tantangan terbesar dari penyakit ini adalah kesadaran masyarakat yang masih sangat rendah. Banyak orang tidak menyadari bahwa diri mereka mengidap gangguan tidur maupun gangguan irama jantung karena gejalanya yang bersifat fluktuatif.

“Kadang muncul, kadang nggak muncul,” kata dr. Dony mengenai gejala atrial fibrilasi.

Sifat gejalanya yang hilang-timbul membuat banyak pasien memilih untuk mengabaikannya dan menunda pemeriksaan ke dokter. Padahal, menyepelekan Atrial Fibrilasi bisa berujung pada komplikasi medis yang sangat serius dan mematikan.

Nadi yang berdetak tidak teratur pada penderita AF menyebabkan darah menggenang di serambi jantung, yang memicu terbentuknya gumpalan atau bekuan darah. Jika gumpalan ini lepas dan terbawa hingga ke otak, terjadilah stroke penyumbatan.

“20 sampai 30 persen stroke pada sumbatan itu disebabkan oleh atrial fibrilasi,” jelas dr. Dony.

Selain risiko stroke yang tinggi, beban kerja jantung yang terlalu berat dan tidak teratur dalam jangka panjang juga dapat memicu penurunan fungsi pompa jantung, yang berujung pada gagal jantung serta meningkatnya risiko rawat inap berulang di rumah sakit.

Peduli pada Tidur yang Berkualitas, Tidak Hanya Fokus pada Durasi

Dengan fakta ini, masyarakat tentu saja diharapkan bisa mulai mengubah paradigma mengenai tidur. Tidur yang sehat bukan lagi sekadar urusan berapa jam kita memejamkan mata atau berapa lama durasinya. Tetapi yang penting justru seberapa optimal tubuh kita melakukan pemulihan (kualitas) tidur,

Jika Anda anggota keluarga sering mendengkur dengan keras, kerap terbangun dengan rasa lelah, mudah mengantuk secara ekstrem di siang hari, atau merasakan jantung tiba-tiba berdebar tanpa alasan, jangan dianggap sepele, yah! Segera konsultasikan ke dokter spesialis terkait untuk mendapatkan pemeriksaan penunjang demi memitigasi risiko gangguan jantung sejak dini.

Yuk, mulai sekarang, perhatikan tanda-tanda pada diri sendiri maupun pasangan di rumah. Apakah sering ngorok salah satu tanda gangguan irama jantung?

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

forty ÷ four =