Menjalani pernikahan tentu jadi perjalanan panjang yang penuh warna. Kadang warnanya cerah, kadang gelap karena banyak konflik dengan pasangan, tapi ada kalanya bahkan tidak berwarna. Mungkin, karena inilah orang bijak mengatakan pernikahan adalah sekolah tanpa ijazah yang dilakukan seumur hidup.
Sama seperti saat belajar di sekolah, menjalani pernikahan juga perlu proses belajar, kesabaran, dan ujian komitmen setiap hari. Mengingat pernikahan menyatukan dua individu yang berbeda dan yang terus tumbuh, maka tidak heran kalau pernikahan menuntut kedua belah pihak untuk terus beradaptasi, saling berkompromi serta memahami satu sama lain seumur hidup.
Setiap pasangan pada awalnya pasti menginginkan dan memiliki tujuan yang sama. Ingin pernikahannya adem ayem, bisa harmonis, dan minim konflik. Namun, sering kali keinginan tidak sebanding lurus dengan realita. Gesekan kecil hingga adu argumen dengan pasangan adalah hal yang mustahil dihindari.
Jangankan saat diskusi soal keuangan, konflik pun bisa muncul saat membahas mau makan siang di restoran mana saat akhir pekan. Atau, sekadar karena masalah handuk basah yang lupa diletakan begitu saja di atas kasur?
Ini baru masalah kecil yang bisa memunculkan konflik, dalam perjalanannya konflik besar pun bisa muncul. Dan saar itu tiba, tak jarang muncul rasa cemas, “Apakah pernikahan kita baik-baik saja? Kenapa kita sering berbeda pendapat?”
Eits, tunggu dulu. Nyatanya punya konflik dalam rumah tangga tidak selamanya berarti buruk, lho. Setidaknya hal ini ditegaskan psikolog keluarga, Anyank Irma. Menurutnya, adu argumen justru bisa menjadi sinyal bahwa hubungan Mam dan Pap berada di jalur yang sehat.
Kok bisa? Yuk, simak penjelasannya!
Konflik dengan Pasangan Justru Diperlukan di Dalam Pernikahan?
Menyatukan dua kepala dengan latar belakang, pola asuh, dan sudut pandang yang berbeda jelas bukan perkara mudah. Sayangnya saat menjelani pernikahan, tidak sedikit yang masih terjebak dengan mitos “relationship goals” yang menggambarkan pernikahan sehat itu harus selalu mulus, adem ayem, dan tanpa masalah atau konflik.
Menurut Ayank Irma, Psikolog dari Ruang Tumbuh, konflik dalam rumah tangga sebenarnya ti
dak perlu ditakuti atau dihindari secara berlebihan. Pernikahan yang sama sekali tidak pernah diwarnai argumen justru bisa menjadi lampu kuning. Kenapa? Karena absennya konflik bisa jadi indikasi adanya rasa takut, perasaan “tidak enak”, atau aksi saling bungkam demi menghindari masalah.
Ketika pasangan memilih mendiamkan masalah terus-menerus, level emosi dan kelekatan antar-pasangan perlahan justru akan menurun. Sebaliknya, berargumen secara sehat terbukti bermanfaat untuk memicu kembali keterikatan emosional dan mengembalikan kejujuran dalam hubungan.
Tidak hanya itu, saat pasangan berani berargumen, itu artinya mereka merasa aman di dalam hubungan tersebut. Mereka tahu bahwa masih ada ruamg untuk bisa mengekspresikan ketidaksetujuan, kejujuran, atau kekecewaan tidak akan membuat pasangan langsung pergi meninggalkan mereka.
Menurut Ayank Irma, kunci utama pernikahan bukan pada “bagaimana cara agar tidak pernah bertengkar”, melainkan bagaimana cara mengomunikasikannya agar bisa menemukan titik temu dan kesepakatan bersama. Ini juga bisa jadi salah satu tanda adanya kepeduli dan sedang berproses untuk berkompromi.
Siasat Cerdas Mengubah Konflik Menjadi Solusi
Agar adu argumen tidak berujung pada keretakan hubungan, ada beberapa cara yang bisa diterapkan saat menghadapi konflik dengan pasangan.
1. No More Kode-Kodean!
Jika ada hal yang mengganjal di hati, sampaikan langsung kepada pasangan dengan jujur. Menimbun kekesalan dan berharap pasangan bisa membaca pikiran hanya akan memperpanjang masalah. Masalah tidak akan selesai sebelum dibicarakan.
2. Ubah Pola Komunikasi dengan Teknik “I-Message”
Cobalah beralih menggunakan teknik I-Message, yang fokus pada perasaan diri sendiri. Mungkin ada keinginan untuk melontarkan kalimat seperti, “Kamu itu nggak peka banget, ya!”, tapi cobalah untuk mengubahnya dengan mengatakan, “Aku merasa lelah dan butuh dibantu kalau rumah lagi berantakan seperti ini. Bisa kan bantu aku jagain anak-anak saat aku mengerjakan tugas domestik?”.
3. Fokus pada Masalah, Bukan Menyerang Personal
Saat berdiskusi, hindari kalimat yang sifatnya memojokkan atau menyalahkan, seperti, “Ini semua gara-gara kamu!” atau “Coba kalau kamu nggak kayak gitu…”. Fokuslah pada esensi masalah dan bagaimana perasaan Anda, bukan mencari siapa yang salah.
4. Coret Kata “Selalu” dan “Tidak Pernah” dari Kamus Bertengkar
Dua kata ini sangat toxic karena bisa langsung menutup ruang diskusi. Kalimat seperti, “Kamu selalu sibuk sama game” atau “Kamu nggak pernah bantuin aku urus anak”, hanya akan membuat pasangan merasa defensif dan menutup diri.
5. Dengarkan dengan Jiwa dan Raga
Meskipun tensi sedang naik, usahakan untuk menahan ego dan dengarkan penjelasan pasangan dengan saksama. Sering kali, apa yang kita anggap sebagai masalah besar ternyata hanyalah sebuah kesalahpahaman yang butuh diluruskan.
6. Coba ‘Gunakan Kacamata’ dari Pasangan
Cobalah sesekali berdiri di posisi suami. Mengapa dia bersikap demikian? Apa yang sedang dia rasakan? Memahami perspektif yang berbeda akan membantu Parents meredam emosi dan melihat masalah dengan lebih objektif.
7. Sepakati Aturan Time-Out
Ketika argumen sudah mulai diwarnai suara tinggi atau detak jantung yang berdegup kencang, itu tandanya otak logis kita sedang dibajak oleh emosi. Jika terus dipaksakan, tentu akan berisiko keluar kalimat yang justru memicu penyesalan. Untuk itu, tidak ada salahnya untuk ambil ‘time out’ sebentar. Tapi ingat. bukan berarti menghindari konflik dan enggan membicarakannya secara terbuka, ya. Kuncinya adalah komunikasi dan kesepakatan. Gunakan time out ini untuk menarik napas dalam-dalam, minum air putih, atau sekadar menyendiri, lalu kembali ke meja diskusi dengan kepala yang jauh lebih dingin.
Ingat ya, Mam, Pap. badai kecil dalam rumah tangga itu wajar. Membuat pernikahan langgeng ternyata tidak selalu harus sependapat dan ttanpa konflik konflik. Nyatanya ‘absennya’ konflik biasanya bukan karena kedua belah pihak sejalan, melainkan karena ada salah satu atau kedua pihak yang memilih mengalah secara ekstrem demi menghindari keributan. Atau, justru tanda sikap apatis karena sudah mulai menyerah dengan hubungan yang dijalani. Ujung-ujungnya, memakai “topeng” semuanya baik-baik saja, padahal di dalam hati ada banyak hal yang mengganjal.
Hai, salam kenal 🤗, panggil saya Adis. ‘Terlahir’ jadi ibu, menjadi sadar kalau menjadi orang tua merupakan tugas seumur hidup. Meski banyak tantangan, semua tentu bisa dijalani jika ada dukungan dari lingkungan sekitar. #MamaSquads










and then