- Child grooming adalah ancaman digital serius. Proses manipulatif untuk mendekati anak demi eksploitasi seksual. Sering tidak disadari karena terlihat seperti perhatian biasa.
- Internet membuat grooming makin marak. Anak dengan kurang pengawasan atau butuh perhatian lebih berisiko tinggi.
- Modus dilakukan bertahap dan terselubung di mana pelaku menyamar, memberi perhatian/hadiah, lalu memanipulasi dan mengontrol korban. Prosesnya sistematis hingga sulit disadari.
- Berdampak pada mental, perilaku, dan hubungan sosial anak. Tanda umum: perubahan sikap, tertutup, dan aktivitas mencurigakan.
- Orang tua punya peran kunci, untuk itu awasi aktivitas digital dan bangun komunikasi terbuka. Segera cari bantuan jika ada tanda grooming.
Di era digital yang serba cepat dan terhubung, internet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita saat ini, termasuk anak dan remaja. Namun di balik kemudahan akses informasi dan hiburan, tersimpan ancaman serius yang sering luput dari perhatian orang tua, yaitu ancaman child grooming online terhadap anak dan remaja.
Child grooming merupakan bentuk kekerasan seksual terhadap anak yang kompleks, terutama dengan perkembangan teknologi digital saat ini. Fenomena ini sering tidak terdeteksi karena dilakukan secara manipulatif, bertahap, dan terselubung sebagai hubungan yang “normal” atau sebagai bentuk “kepedulian”.
Berbeda dengan ancaman fisik yang terlihat jelas, proses ini bekerja secara perlahan dan terencana, sering kali memanfaatkan ketidaktahuan korban maupun kelalaian pengawasan di lingkungan sekitar.
Bagaimana praktik child grooming di ruang digital dan apa yang harus dilakukan orangtua untuk melindungi anak-anak kita dari ancaman child grooming, terutama di ruang digital dengan kemudahan aksesnya? Simak di artikel berikut ya, MamPap.
Ancaman Child Grooming di Ruang Digital
Menurut Dr. dr. Ariani, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), M. Kes, Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, child grooming sendiri adalah proses manipulatif terhadap anak di bawah usia 18 tahun yang dilakukan pelaku untuk membangun kepercayaan dan kedekatan emosional dengan anak secara bertahap agar anak merasa aman dan percaya, dengan tujuan eksploitasi seksual.
Praktik ini melibatkan 3 hal, yaitu pendekatan emosional, manipulasi psikologis, dan desensitisasi terhadap perilaku seksual. “Serangkaian tindakan ini terencana dan bertahap, yang bertujuan untuk meruntuhkan batasan-batasan pribadi si anak dan menciptakan peluang untuk eksploitasi,” jelas dr. Ariani.
Ia menambahkan, kasus child grooming meningkat pesat dengan akses internet dan media sosial. Sayangnya, sering tidak dilaporkan karena korban tidak menyadari bahwa mereka menjadi korban child grooming. Dan ini seringkali menjadi tahap awal sebelum kekerasan seksual anak.
Anak-anak Rentan Mengalami Kekerasan di Ruang Digital
Laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sepanjang tahun 2025 tercatat 2.063 anak menjadi korban kekerasan. Data ini menunjukkan bahwa anak masih menjadi kelompok rentan, terutama di era digital.
Modus Child Grooming di Media Sosial dan Internet
Menurut dr. Ariani, pelaku child grooming memanfaatkan ruang digital dengan berbagai cara, antara lain:
- Menyamar sebagai teman sebaya untuk membangun kepercayaan.
- Memberikan perhatian berlebihan dan menjadi tempat curhat.
- Mengajak anak ke chat pribadi atau platform tertutup.
- Pelaku mungkin menggunakan pesan teks, pesan instan, atau obrolan daring untuk membangun hubungan dengan anak tersebut.
- Memberi hadiah, pulsa, atau item game sebagai ikatan emosional.
- Membahas topik pribadi hingga seksualitas.
- Melakukan manipulasi emosi dan ancaman.
“Dalam praktik child grooming online, pelaku akan melakukan aksinya melalui medsos, game, chat, dan seringkali pelaku menggunakan identitas palsu. Bisa juga, melanjutkan aksinya ke offline dengan melakukan janji untuk bertemu, lalu berlanjut,” kata dr. Ariani.
Tahapan Child Grooming Secara Umum
- Targeting the child. Pelaku mencari anak yang kesepian atau memiliki rasa percaya diri yang rendah, atau mungkin memiliki kehidupan rumah tangga yang tidak stabil, seperti orang tua jarang berada di rumah. Namun, pada anak yang tidak ada risiko seperti ini tetap bisa saja terjadi, terutama pada anak-anak remaja yang masih pada tahap mencari aktualisasi diri.
- Gaining trust. Membangun kepercayaan dari orang tua korban untuk mengurangi kecurigaan dan mendapatkan akses ke anak. Memperkenalkan rahasia ke korban anak, dan mengajak melakukan sesuatu yang tidak diizinkan orang tua.
- Fulfilling a Need. Memenuhi kebutuhan anak dengan hadiah, kasih sayang, atau perhatian, sehingga pelaku menjadi dianggap lebih penting dalam kehidupan anak.
- Isolasi. Si pelaku mencoba untuk “menyetir” si anak dan untuk melakukan lainnya. Ia membuat seolah-olah ia adalah satu-satunya yang benar-benar memahami dan mencintai si anak.
- Sexualizing the relationship. Perilaku manipulatif, melakukan aktivitas atau sentuhan nonseksual untuk membuat anak menjadi kurang peka sehingga tidak menolak/normalisasi sentuhan yang lebih seksual.
- Maintaining Control. Mengancam/memunculkan rasa bersalah untuk mempertahankan kekuasaan atas anak. Pelaku ingin anak merahasiakan dan memastikan praktik ini berkelanjutan, perilaku mulai memberi hadiah, dan lainnya.
“Jika anak mulai tidak nyaman, mulai lagi diberikan perhatian dan hadiah-hadiah. Jadi, si anak tidak bisa keluar dari lingkaran grooming ini,” ungkap dr. Ariani.
Faktor Risiko Anak yang Rentan Mengalami Ancaman Child Grooming di Internet
Menurut dr. Ariani, ada beberapa faktor risiko yang mengintai anak mengalami ini, di antaranya:
- Harga diri yang rendah.
- Paparan konten seksual dini.
- Remaja yang sedang mengembangkan pemahaman mereka tentang dunia di sekitar mereka.
- Anak-anak penyandang disabilitas.
- Anak-anak yang kurang pengawasan, orang tuanya sering sibuk atau kurang berperan dalam pengasuhan anak.
- Konflik keluarga, hubungan tidak dekat dengan orang tua.
- Anak-anak yang mengalami pengabaian dan membutuhkan dukungan emosional.
- Akses internet anak tanpa kontrol.
- Anak-anak yang terisolasi secara sosial.
Ciri-ciri Anak Mengalami Grooming
Anak dan remaja yang mengalami child grooming umumnya menunjukkan perubahan perilaku. Beberapa di antaranya:
- Menunjukkan perubahan perilaku drastis, menjadi tertutup, cemas, atau tertekan.
- Menyimpan rahasia aktivitasnya, termasuk online.
- Diketahui memiliki pasangan yang jauh lebih tua.
- Menunjukkan pemahaman/perilaku seksual yang tidak sesuai usianya.
- Ketergantungan pada orang tertentu.
- Cemas, depresi
- Mudah marah
- Perubahan mood
- Menarik diri dari keluarga, sering pergi keluar rumah tanpa izin atau menghilang dalam waktu tertentu.
- Penurunan prestasi.
- Terlihat sering mendapat hadiah dari orang dewasa. Mendadak memiliki barang mahal atau uang tanpa alasan jelas.
- Adanya kecurigaan komunikasi intens dengan orang tidak dikenal.
- Bolos sekolah atau kegiatan pendidikan lainnya.
- Menghabiskan lebih sedikit waktu dengan teman-teman atau tiba-tiba berganti kelompok pertemanan.
- Menghabiskan lebih banyak waktu sendirian di kamarnya.
- Tidak ingin membicarakan apa yang telah mereka lakukan atau berbohong tentang hal itu, atau berhenti menceritakan tentang hari mereka.
Dampak Kasus Child Grooming

Kasus child grooming meningkat secara global, terutama melalui media sosial dan platform digital, dengan tren peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Dampaknya tidak hanya jangka pendek, tetapi juga jangka panjang terhadap beberapa aspek:
- Kesehatan mental
- Perkembangan psikososial
- Relasi interpersonal anak
“Selain itu, fase-fase perkembangan anak yang harus dilaluinya jadi harus terganggu. Sebagai bagian dari perlindungan anak, diperlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan tenaga kesehatan, keluarga, sekolah, dan pemerintah,” tambah dr. Ariani dalam sesi Seminar Media bersama IDAI.
Selain itu, anak yang mengalaminya juga akan mengalami kecemasan, gangguan tidur, dan perubahan perilaku yang merupakan ciri-ciri dari child grooming.
Tindakan yang Dilakukan Jika Anak Mengalami Child Grooming
- Tetap tenang, agar anak melihat dan berpikir bahwa kita tidak emosi kepada anak.
- Berusaha memercayai anak meskipun tidak logis, karena anak dan kita mungkin mempunyai persepsi dan pemahaman yang berbeda.
- Pelecehan yang terjadi bukanlah salah anak, hal ini harus dipahami oleh anak dan orang tua wajib membantu pemahaman tersebut. Orang tua harus mendukung anak bahwa menceritakan kejadian tersebut merupakan tindakan yang benar dan minta pertolongan.
- Orang tua harus tetap bisa memberikan sebanyak mungkin rasa cinta dan rasa nyaman kepada anak.
- Konsultasikan dan diskusikan masalah dengan profesional yaitu dokter anak, psikolog, konselor, guru, atau ranah hukum jika kasus dirasa sudah diperlukan ke hukum.
- Anda juga bisa meminta tolong ke lembaga bantuan korban pelecehan seksual, seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tingkat Nasional, atau lembaga tingkat Kabupaten, Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Lembaga Perlindungan Anak (LPA), atau.Lembaga Swadaya Masyarakat.
Pelecehan anak tidak selalu terlihat jelas. Jangan tinggalkan anak sendirian dengan orang yang dikhawatirkan sampai Anda mengetahui lebih lanjut. Tanyakan juga kepada keluarga lain yang mengenal orang tersebut tentang hubungan mereka dengan orang tersebut.
Selain itu, cari tahu bagaimana perasaan anak Anda tentang orang tersebut dengan mengajukan pertanyaan seperti: “Apakah kamu suka cara si A bersikap terhadapmu?” atau “Pernahkah kamu mendapatkan pesan pribadi?”
Dorong anak Anda untuk berbicara dengan mengajukan pertanyaan seperti “Apakah ada sesuatu yang membuatmu khawatir?” atau “Apakah kamu baik-baik saja?”. Jika ada yang mencurigakan, hubungi Layanan Konseling profesional.
Bagaimana Melindungi Anak dari Ancaman Child Grooming Online?
Ancaman child grooming online semakin meningkat seiring dengan perkembangan teknologi. Berikut adalah beberapa tips untuk melindungi anak dari ancaman ini:
- Gunakan pengaturan privasi. Aktifkan pengaturan privasi di media sosial dan platform game online untuk membatasi siapa yang dapat berinteraksi dengan anak.
- Ajarkan anak untuk tidak berbagi informasi pribadi. Ingatkan anak untuk tidak pernah memberikan informasi pribadi seperti nama, alamat, atau nomor telepon kepada orang asing secara daring.
- Gunakan perangkat lunak untuk pemantauan. Pertimbangkan untuk menggunakan perangkat lunak pemantauan untuk memantau aktivitas online anak.
- Laporkan aktivitas mencurigakan. Jika mencurigai adanya aktivitas grooming online, segera laporkan kepada pihak berwenang.
Ancaman child grooming online pada anak dan remaja sering terjadi melalui media sosial, aplikasi chat, hingga game online yang banyak digunakan oleh anak-anak. Yang membuatnya berbahaya, proses ini tidak melibatkan paksaan fisik di awal, sehingga kerap tidak disadari baik oleh anak maupun orang tua.
Oleh karena itu, penting bagi orang tua, terutama yang memiliki anak remaja, untuk meningkatkan kewaspadaan dan memahami bagaimana ancaman ini bekerja. Dengan pengetahuan yang tepat, orang tua dapat lebih sigap dalam mendampingi anak saat beraktivitas di dunia digital.
Anak harus diberikan ruang aman baik di dunia nyata maupun di dunia sosial dan ruang digital. Intinya, bagaimana keluarga memberikan perhatian penuh untuk anak-anak secara adekuat.
Content Writer Parentsquads










and then