Ketika Anak-anak Jadi Objek Hasrat Seksual, Waspadai Parafilia yang Mengintai

gangguan seksualitas parafilia

Belum lama ini, media sosial kembali memperlihatkan sisi gelapnya. Beredar tangkapan layar dari sebuah grup Facebook yang secara terang-terangan berisi unggahan berbau fantasi seksual terhadap anggota keluarga sendiri, bahkan terhadap anak kandung. 

Tak sedikit warganet yang terkejut, marah, sekaligus merasa khawatir. Tapi di balik itu semua, ada pertanyaan besar yang muncul dan perlu dijawab, ‘Sebenarnya apa yang mendorong seseorang untuk mengungkapkan fantasi seksual sedarah di ruang publik seperti itu? Dan apakah pelaku memang memiliki gangguan kesehatan mental? Mengapa bisa terjadi?’

Dalam hal, ini dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, Psikiater dan Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial di RSJ dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor memberikan pandangannya. Dirinya menuturkan bahwa, bulan April merupakan bulan kesadaran kekerasan seksual (Sexual Assault Awareness Month), namun sayangnya masyarakat Indonesia banyak disuguhi dengan berita maraton tentang berbagai kekerasan seksual yang terjadi. 

Mulai dari kasus dokter yang melakukan pemerkosaan dan pelecehan saat memeriksa pasien, guru besar yang melakukan pelecehan seksual, guru yang memamerkan alat kelaminnya pada siswanya yang masih SD, laki laki yang masturbasi di transportasi publik, seorang oknum dokter yang mengintip mahasiswi mandi dan masih banyak lagi.

Menurutnya, fenomena ini bukan sekadar penyimpangan moral atau bentuk keisengan semata. Namun berkaitan dengan kegagalan maturitas dan kerusakan pada sirkuit saraf di otak.

Adanya Gangguan di Dalam Otak

Dijelaskan dr. Lahargo, sebuah perilaku kekerasan/agresivitas adalah sebuah PROSES YG KOMPLEKS yg terjadi di dalam OTAK. Apa yg terjadi dalam otak adalah proses neurobiologi yg menyebabkan suatu perilaku kekerasan terjadi? Menurutnya, ada dua bagian penting otak yang berperan yaitu :

1. Top Down (Brake/rem)

Bagian otak di area pre frontal cortex, bagian otak sebelah depan yg berfungsi sebagai pembuat keputusan, kontrol diri, pikiran rasional, logis dan pertimbangan

2. Bottom Up (Drive/gas)

Bagian otak tengah yaitu amigdala, yg dikenal sebagai sebagai pusat emosi/perasaan

Di dalam area otak ini terdapat struktur, sirkuit saraf, neurotransmiter (zat kimia di otak) dan proses fisiologisnya.

“Kegagalan maturitas dan kerusakan pada  sirkuit saraf di otak ini dapat menyebabkan terjadinya kegagalan pada dua area otak tersebut. Bagian otak  pre frontal cortex gagal menjalankan fungsinya mengontrol perilaku dan kontrol diri. Bagian otak amigdala menjadi hiper responsif sehingga ada trigger sedikit saja langsung memicu emosional. Ini semualah yg kemudian berujung pada terjadinya sebuah perilaku kekerasan/agresivitas, “ jelas dr. Lahargo. 

Selain itu, dr. Lahargo juga mengatakan adanya memori yang traumatis yang tersimpan di area hipokampus membuat adanya ‘trigger’ yang mengingatkan peristiwa tidak menyenangkan dapat memicu kemarahan dan agresivitas.

Gangguan Seksualitas Parafilia 

Fantasi seperti ini bisa jadi merupakan gejala dari gangguan mental yang disebut Parafilia,  suatu kondisi psikopatologis di mana hasrat seksual seseorang tertuju pada objek, situasi, atau individu yang secara sosial dan hukum dianggap menyimpang, seperti anak-anak, benda mati, atau anggota keluarga sendiri.

“Parafilia bukan hanya soal ‘selera seksual yang aneh’. Ini adalah gangguan mental ketika dorongan seksual menyimpang itu berulang dan intens selama minimal enam bulan, serta menyebabkan penderitaan, kerusakan relasi, bahkan membahayakan orang lain,” papar dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, Psikiater dan Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial di RSJ dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor.

Dalam klasifikasi Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association, Parafilia digolongkan sebagai Paraphilic Disorders apabila hasrat atau perilaku seksual tersebut menyebabkan penderitaan klinis yang signifikan atau menyebabkan kerugian pada orang lain. Salah satu bentuknya adalah pedofilia (ketertarikan seksual pada anak-anak), dan dalam beberapa kasus ekstrem, berkembang menjadi insestofilia, yakni hasrat terhadap hubungan sedarah.

Fenomena grup-grup media sosial yang mewadahi narasi ini menciptakan semacam ruang aman palsu bagi para pelaku. Di sana mereka tak hanya berbagi fantasi, tapi juga mencari validasi dan penguatan dari sesama penyimpang. Hal ini bisa memicu transisi dari sekadar fantasi menjadi tindakan nyata. 

“Seseorang yang memiliki hasrat menyimpang dan dibiarkan mengasuhnya dalam komunitas yang mendukung, akan mengalami penurunan kontrol diri. Ini bukan hanya bahaya bagi dirinya sendiri, tapi terutama bagi mereka yang jadi objek hasratnya, yang seringkali adalah anak-anak tak berdaya,” lanjut dr. Lahargo.

Dampak dari Kekerasan Seksual dalam Keluarga

gangguan seksualitas parafilia, kekerasan seksual
Foto: Africa Images

Dampak dari kekerasan seksual dalam keluarga sangat kompleks, hal inilah yang ditekankan dr. Lahargo Kembaren, SpKJ. Korban, terutama anak, sering mengalami trauma yang membekas seumur hidup, mulai dari gangguan stres pasca-trauma (PTSD), depresi berat, hingga kerusakan pada perkembangan seksual dan relasi interpersonal. Penanganan psikologis jangka panjang sangat dibutuhkan. Di sisi lain, pelaku juga perlu dirawat dengan pendekatan medis dan psikiatris yang tepat, bukan hanya dipenjara, tapi juga direhabilitasi secara mental.

Namun, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, mengingatkan bahwa melakukan langkah preventif adalah kunci utama yang perlu dilakukan. 

Pendidikan seksualitas pada anak, pengawasan terhadap aktivitas digital, dan kesadaran orang tua terhadap gejala-gejala gangguan jiwa dalam keluarga perlu ditingkatkan.

“Kesehatan jiwa adalah fondasi dari kesehatan sosial. Bila seseorang menyimpan fantasi menyimpang terhadap keluarganya sendiri dan tidak segera ditangani, maka itu bisa menjadi bom waktu,” tegas dr. Lahargo.

Lebih lanjut, dr. Lahargo menuturkan ada beberapa upaya penting yang wajib dilakukan dalam mencegah perilaku kekerasan sekeksual.

1. Hindari situasi yang membahayakan, upayakan bepergian dengan pendamping bila di tempat yang sepi, hindari minum alkohol dan obat terlarang yang dapat membuat kondisi kesadaran menurun.

2. Berikan batasan yang tegas pada sikap dan perilaku orang yang tidak menyenangkan secara seksual. Sampaikan dengan asertif bahwa anda tidak nyaman diperlakukan seperti itu dan segera tinggalkan tempat tersebut atau minta pertolongan orang lain saat keadaan tidak berubah. Bila diperlukan berteriak dan berlari ke tempat yang aman.

3. Ajarkan pada anak materi seksualitas sedini mungkin, seperti :

  • Tidak seorangpun boleh melihat dan menyentuh area pribadi tubuh nya seperti mulut, dada, bokong dan kemaluan.
  • Tidak ada seorang pun boleh menyuruh atau memaksa untuk melihat dan menyentuk area pribadi milik orang tersebut.
  • Tidak seorangpun boleh memperlihatkan foto, video yang tidak senonoh.

4. Ajarkan anak untuk terbuka dengan apa yang dialaminya terutama bila perilaku kekerasan seksual yang dialaminya dan mereka akan aman bila bercerita pada orang tuanya.

5. Kenali orang dewasa yang ada di sekitar anak anak, pastikan mereka berada di lingkungan yang aman dari risiko perilaku kekerasan seksual.

6. Monitor bacaan, tontonan, dan permainan/games anak dan remaja. Pastikan tidak ada yang berbau pornografi.

7. Ajarkan anak dan remaja untuk menghargai dan menghormati teman dan orang lain dengan cara tidak berperilaku kasar terutama yang berhubungan dengan seksualitas.

8. Pastikan lingkungan sekolah, kampus, tempat kerja dan lainnya terawasi oleh kamera pengawas sehingga tindakan perilaku yang tidak baik dapat terdeteksi.

9. Waspada dan deteksi dini perubahan emosi, sikap dan perilaku yang mendadak karena bisa jadi merupakan tanda telah ada perilaku kekerasan seksual yang dialami.

10. Segera konsultasikan ke profesional kesehatan jiwa apabila ada anggota keluarga, teman atau relasi yang mengalami kekerasan seksual agar trauma psikologis yang dialami dapat segera ditangani.

 

Kami berharap tidak ada lagi anak yang mengalami kekerasan seksual. Maka itu, selalu lindungi anak dari berbagai kejahatan seksual, bahkan yang bisa dilakukan oleh orang-orang terdekat si kecil, ya, Ma.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 ÷ = five