Mama sebenarnya bukan orang yang mudah marah. Tapi entah mengapa, amarah Mama bisa dengan mudah meledak jika berhadapan dengan anak-anak, baik itu di rumah atau saat bepergian. Berikut ini solusi dan tips agar tidak mudah marah pada anak.
Penyebab Ibu Marah
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), marah adalah perasaan sangat tidak senang (karena dihina, diperlakukan tidak sepantasnya, dan sebagainya), berang atau gusar.
Sebenarnya kemarahan tidak bisa muncul begitu saja. Pasti ada pemicunya. “Ibarat gunung es, yang terlihat di permukaan adalah luapan kemarahan. Sementara yang tersembunyi di bawahnya lah yang menciptakan perasaan marah tersebut,” kata Konselor Terapi Master Terdaftar di Calgary, Kanada, Jen Reddish, melansir laman Today’s Parent.
Para ahli juga mengatakan, pemicu amarah bisa berupa hal-hal yang, secara intelektual, Anda sadari itu seharusnya tidak sampai mengganggu Anda. Namun di lain waktu, Anda mungkin mendapati diri sedang berteriak pada anak-anak meski Anda juga tahu kalau mereka sebenarnya tidak melakukan kesalahan.
Dan yang menarik lagi, seperti disampaikan Laura Markham, Psikolog Klinis dan penulis buku Peaceful Parent, Happy Kids., seringkali pemicu kemarahan Anda tidak ada hubungannya dengan anak.
“Bisa jadi sebelumnya Anda bertengkar dengan pasangan, Anda mengalami hal buruk di tempat kerja, atau masalah yang belum terselesaikan dari masa kecil.”
Dari sini kita bisa lihat kalau yang menjadi pemicu atau penyebab kemarahan tiap ibu bisa berbeda-beda.
Tips Agar Tidak Mudah Marah pada Anak
Jika saat ini sedang kesulitan mengatasi kemarahan pada anak, ikuti tips agar tidak mudah marah pada anak berikut ini, yuk, Ma.
1. Cari Tahu Penyebab Kemarahan
Apapun bisa jadi pemicu seorang ibu marah kepada anaknya. Mulai dari yang sepele seperti balita melempar makanan atau memuat suara-suara konyol, hingga masalah besar seperti anak main korek api, melempar barang dari balkon lantai atas atau lainnya.
“Rasanya seperti kulit Anda merinding, seperti ada amarah yang mendidih di dalam diri, dan Anda hanya ingin berteriak kepada semua orang lalu melarikan diri,” kata Ellen Kolomeyer, spesialis kesehatan mental perinatal di Florida, AS, melansir Psych Central.
2. Tuliskan dalam jurnal
Baik Jen juga Laura menyarankan, agar mencatat kapan Anda marah pada anak. Tujuannya untuk menemukan pola yang menjadi penyebab dari kemarahan.
Menulis jurnal terasa alami bagi beberapa orang yang canggung menceritakan perasaannya kepada orang lain. Para ahli juga mengatakan, ini salah satu cara yang efektif untuk mengatasi masalah amarah.
“Jika sikap pembangkangan anak yang menjadi pemicu amarah, tuliskan apa arti ‘pembangkangan’ bagi Anda,” kata Laura.
Dari situ kemungkinan Anda akan menyadari bahwa amarah Anda saat anak membangkang dipicu karena Anda tidak pernah berbicara kasar kepada orang tua Anda. Kemudian, amarah Anda didasarkan pada rasa khawatir tentang perilaku anak di usia dewasa jika saat ini ia sudah kerap membangkang.
3. Meditasi
Laura merekomendasikan agar Mama melakukan meditasi setiap hari melalui saluran seperti YouTube atau aplikasi seperti Calm dan Breathe & Think.
Dahulu dianggap sebagai sesuatu yang berbau New Age, tapi praktik ajaran alternatif dan meditasi ini terbukti membuat hidup penganutnya menjadi lebih tenang.
Selain itu, kata Laura, meditasi juga dapat membantu melatih otak. “Ketika Anda perlu menenangkan diri, Anda dapat memanfaatkan koneksi saraf tersebut.”
4. Cari tahu apa yang Anda butuhkan
Anda tidak selalu bisa mengendalikan anak-anak, jadi kendalikan apa yang bisa Anda kendalikan. Jika misalnya menyadari Anda mudah marah karena lapar, ya jangan biarkan perut Anda kelaparan. Pilih makanan sehat yang dapat memberi Anda energi lebih lama.
Situasi (lapar) itu membuat toleransi Anda menjadi sangat rendah sehingga apapun bisa memicu kemarahan . Carilah waktu untuk sekadar berjalan-jalan, berolahraga, atau melakukan me time lainnya.
5. Cari bantuan
Anda bisa mempertimbangkan untuk mencari dukungan profesional jika pemicu dari kemarahan Anda sangat kompleks dan/atau disebabkan oleh kombinasi banyak faktor. Seperti stres, tekanan finansial, kurangnya atau tidak memadainya pengasuhan anak, perselisihan dengan pasangan, perubahan fisik setelah kehamilan, fluktuasi hormonal, kurang tidur, kelelahan, kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi, pernah mengalami pelecehan seksual atau lainnya.
Masalah seperti ini harus diselesaikan dari akarnya untuk memutus kemarahan Anda yang tak berdasar pada anak.
Waspada Dampaknya pada Anak dan Pasangan
Kebiasaan marah, tidak hanya berdampak pada kesehatan mental Anda, tapi juga hubungan Anda dengan anak dan pasangan.
1. Hubungan pada anak
Anak-anak yang kerap menyaksikan ledakan amarah ibu rentan rentan stres, ketakutan hingga merasa bertanggung jawab atas emosi dan perilaku ibunya. Ellen juga mengatakan, rasa takut itu bisa berpotensi mempengaruhi anak hingga mereka tumbuh dewasa.
“Anak-anak adalah pengamat yang selalu memperhatikan dan mereka menyerap semuanya,” kata Annia Palacios, Konselor Profesional Berlisensi di Texas.
Pada intinya, anak-anak adalah ‘spons’ kecil yang menyerap pengaturan emosi dan keterampilan perilaku dari orang tua mereka. Dampaknya kemudian adalah:
- Masalah emosional dan perilaku.
- Masalah keterikatan dan hubungan.
- Mengulangi perilaku orang tua, seperti berteriak.
- Menjadi terlalu patuh dan takut untuk ‘mengganggu ketenangan’.
2. Hubungan pada pasangan
Merasa kewalahan dengan beban menjadi orang tua merupakan salah satu pemicu kemarahan ibu, dan itu kemungkinan dapat menciptakan rasa kesal pada pasangan.
Jika Anda merasa kesal, komunikasikan kebutuhan Anda dan minta dukungan ekstra secara jelas dari pasangan.
Selain itu, sisihkan waktu berduaan saja dengan pasangan (tanpa anak-anak) untuk melakukan hal-hal yang hanya Anda dan pasangan. Selain membantu membangun ‘saldo emosional’, juga dapat membantu mengatasi perasaan yang selama ini ‘terputus’.
Itulah 5 tips agar tidak mudah marah pada anak. Mudah-mudahan ini bisa membantu mengatasi masalah Anda, Ma.











and then