Sebelum Menerapkannya pada Anak, Pahami Dulu Apa Itu Parenting VOC 

apa itu parenting VOC
Foto: AndreyPopov/Getty Images

Terlihat tegas dengan aturan dan sanksi yang terkesan tidak bisa diganggu-gugat, tapi sebenarnya apa itu parenting VOC? Benarkah bisa memberi dampak buruk pada perkembangan akademik dan emosional anak? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini.

Apa Itu Parenting VOC?

Gaya pengasuhan yang diterapkan orang tua berperan krusial dalam membentuk perkembangan anak, mulai dari perilaku hingga kesejahteraan emosionalnya. Sebelum membahas lebih dalam mengenai Parenting VOC, MamPap perlu tahu apa saja pola asuh anak yang umumnya dipakai para orang tua sedunia. 

National Institutes of Health (NIH) menjelaskannya dalam 4 gaya parenting sebagai berikut: 

  • Pola Asuh Otoritatif (Authoritative Parenting)

Melalui pola asuh ini, orang tua menjalin hubungan demokratis dengan anak di mana mereka menetapkan aturan dan harapan dalam batasan yang jelas. dengan pedoman yang jelas, juga hukuman tegas di balik tindakan indisipliner anak. Antara orang tua-anak terjalin komunikasi yang baik dan terbuka. 

Read More

Ini gaya pengasuhan yang paling sehat. Anak tumbuh dengan rasa percaya diri tinggi, bertanggung jawab, mampu mengelola emosi negatif secara efektif, lebih mandiri, tahu apa tujuan hidupnya, serta cenderung berprestasi secara akademis.

  • Pola Asuh Permisif (Permissive Parenting)

Orang tua permisif cenderung hangat, suportif, dan mengambil peran lebih seperti teman alih-alih orang tua. Ekspektasi mereka terhadap anak juga ‘minimal’, hanya menerapkan sedikit aturan dan menciptakan komunikasi terbuka. 

Sayangnya, kurangnya ekspektasi dari orang tua menyebabkan anak kurang disiplin dan hidup lebih bebas. Situasi ini juga mengembangkan kebiasaan makan yang tidak sehat, terutama terkait camilan –lebih berisiko mengidap obesitas, suka-suka dalam jam tidur, kurang memiliki tanggung jawab dengan pekerjaan rumah, banyak menuntut, egois, dan sulit mengatur diri. 

Sebaliknya, mereka tumbuh dengan harga diri dan keterampilan sosial yang baik pula.

  • Pola Asuh Cuek/Tidak Terlibat (Uninvolved/Neglectful Parenting)

Orang tua tidak mau mencampuri urusan anak meski memenuhi semua kebutuhan dasar anak. Mereka juga tidak memberi batasan yang tegas mengenai aturan, tidak menganut gaya disiplin tertentu, dan berkomunikasi seadanya saja.

Anak yang tumbuh dengan pola asuh ini mungkin mandiri, tapi anak jadi sulit mengatur emosi negatif, sulit memelihara hubungan sosial, serta sulit bersaing di bidang akademis.

  • Pola Asuh Otoriter (Authoritarian Parenting)

Di Indonesia, pola asuh otoriter lebih dikenal dengan sebutan Parenting VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) –perusahaan Hindia Timur Belanda, perusahaan dagang milik Belanda yang berdiri tahun 1602. 

VOC menjalankan perusahaannya dengan sistem dagang otoriter dan kejam. Di masa itu, mereka tak segan memerintah dan membentak pribumi demi mendapatkan keuntungan dagang yang maksimal. 

Orang tua yang menerapkan Parenting VOC juga sama: otoriter dan anak wajib patuh pada otoritas orang tua. 

Mereka menerapkan pola komunikasi satu arah, menetapkan aturan ketat berstandar tinggi yang diharapkan dipatuhi anak tanpa bertanya atau negosiasi. Satu lagi, selalu ada hukuman untuk tiap kesalahan anak. 

Psikolog Perkembangan Diana Baumrind menjelaskan dalam laman Verywell Mind, orang tua dengan gaya Parenting VOC juga menetapkan ekspektasi yang sangat-sangat tinggi terhadap anak. Jika ekspektasinya tidak kesampaian, orang tua akan membalasnya dengan feedback (umpan balik) yang bersifat negatif (lisan dan/atau hukuman lain).

Ya, berteriak dan memberikan hukuman fisik juga merupakan ciri khas gaya pengasuhan otoriter. Alih-alih mengajarkan kedisiplinan, orang tua gaya Parenting VOC lebih senang memberi hukuman pada anak yang melakukan kesalahan. 

Tapi jika anak benar atau berhasil, jangan harap ada pujian. Feedback yang diberikan tetap ketidakpuasan atau mengingat kembali kesalahan yang pernah anak lakukan. 

8 Ciri Orang tua dengan Parenting VOC

Ciri lainnya pada orang tua dengan gaya Parenting VOC adalah: 

  1. Tidak menjelaskan dengan baik tentang aturan dan hukuman. Tidak ada penjelasan mengapa aturan dan hukuman itu diadakan. Semua aturan dan hukuman dibuat sepihak. 
  2. Menuntut dan tidak responsif. Membuat banyak sekali aturan untuk anak –di hampir di semua aspek kehidupan dan perilaku anak.  
  3. Tidak hangat. Orang tua sering tampil dingin, acuh tak acuh, dan kasar. Mereka kerap mengomel dan/atau membentak anak alih-alih memberikan dorongan atau pujian. Jangan harap anak-anak bisa bersenang-senang bersama orang tuanya. 
  4. Selalu memberi hukuman, entah itu lisan atau fisik, serta cenderung bereaksi cepat dan kasar saat anak melakukan kesalahan. 
  5. Anak tidak diberi banyak pilihan. Dalam hal apapun, anak tidak diajak negosiasi dan komunikasi dua arah sehingga anak tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya.
  6. Tidak percaya dan sabar pada anak. Orang tua tidak percaya anak mampu berbuat baik/benar sehingga kerap mengawasi anak dan memastikan mereka tidak membuat kesalahan. 
  7. Tidak suka bernegosiasi. Segala situasi dipandang hitam dan putih, tidak ada area ‘abu-abu’, sehingga  tidak ada ruang untuk kompromi. 
  8. ‘Senang’ membuat anak malu. Orang tua otoriter menggunakan rasa malu anak sebagai taktik untuk memaksa anak mematuhi aturan. 

Faktor Penyebab Parenting VOC

Gaya Parenting VOC mungkin bukan sesuatu yang dilakukan orang tua secara sengaja. Dengan kata lain, ada beberapa faktor yang bisa saja berkontribusi pada penggunaan gaya asuh ini. Di antaranya:

1. Diasuh orang tua otoriter

Sebuah studi tahun 2024 menemukan, gaya pengasuhan selama masa kanak-kanak secara signifikan dapat mempengaruhi cara seseorang mengasuh anaknya sendiri di masa depan. Ini senada dengan yang dikatakan Psikolog Desy Raskika Darmayanti, S.Psi., M.Psi., kepada Parentsquads.

“Adanya luka masa lalu yang menyebabkan munculnya trauma pada mereka dapat menjadi penyebab, karena ada pola yang berulang,” kata Desy

Ditambahkannya lagi, pengalaman masa kecil akan kurangnya kasih sayang, juga cenderung membuat mereka tidak memiliki kemampuan komunikasi yang baik di mana lebih sering menerapkan komunikasi satu arah dan tidak bisa menerima/mendengarkan masukan dari anak.

2. Kurang ramah

Penelitian juga menunjukkan, orang tua otoriter cenderung memiliki skor ‘keramahan’ yang rendah. Untuk diketahui, orang yang kurang ramah rasa empatinya cenderung kurang, senang mencari musuh, sulit menjalin hubungan dengan seseorang termasuk anak-anaknya sendiri.

3. Lebih neurotisisme

Studi juga menunjukkan, orang tua otoriter cenderung memiliki skor lebih tinggi pada ukuran neurotisisme. Yakni, dimensi kepribadian yang melibatkan stabilitas emosional yang ditandai dengan kecemasan, keraguan, depresi, dan perasaan negatif lainnya sehingga cenderung lebih hati-hati dalam segala hal.

4. Minimnya wawasan

Orang tua yang menerapkan pola asuh ini bisa jadi minim wawasan atau kurang mendapatkan informasi atau tidak mencari ilmu yang benar tentang pola pengasuhan anak  –terutama tentang Parenting VOC. 

“Mungkin mereka berpikir, pola-pola otoriter yang diterapkan dianggap yang paling baik untuk membentuk mental anak menjadi kuat, padahal malah sebaliknya,” tambah Desy.

Dampak Terburuk Parenting VOC 

apa itu parenting VOC, gaya asuh
Foto: Odua Images

Anak yang tumbuh dengan gaya Parenting VOC umumnya berperilaku baik karena takut dengan konsekuensi yang ditetapkan orang tua. Mereka juga cenderung mengikuti instruksi dengan tepat dan efektif agar bisa mencapai tujuan yang diharapkan. 

Terlihat positif ya, MamPap. Tapi di balik itu ada banyak dampak buruk gaya Parenting VOC yang dapat mempengaruhi keterampilan sosial dan prestasi akademik anak. Ini selengkapnya mengenai dampak buruk gaya Parenting VOC pada anak:

  1. Kepatuhan dan kesuksesan menjadi tolak ukur kasih sayang.
  2. Mudah menyesuaikan diri tapi takut atau malu bertindak di sekitar orang lain karena tidak percaya pada diri sendiri (harga diri rendah).
  3. Mudah depresi dan cemas.
  4. Sulit membuat pilihan atau keputusan untuk diri sendiri –terbiasa disetir orang tua. 
  5. Kurang disiplin dan mandiri, terutama saat orang tua tidak memperhatikan. 
  6. Hiperaktif dan memiliki masalah perilaku, seperti agresif dan sulit mengendalikan diri saat emosi karena sering menahan diri di depan orang tua dan merasa tertindas.
  7. Jadi pemberontak akibat sering dilarang.

Melengkapi poin nomor 2, menurut Desy, anak akan mengalami masalah sosial, seperti, “Sulit beradaptasi dengan lingkungan sosial, cenderung pendiam atau malah menjadi sangat agresif, kurang pandai bekerja sama dengan kelompok, tidak memiliki empati terhadap sesama.” 

“Ingin selalu menyenangkan orang lain dengan cara mengorbankan diri sendiri karena takut ditinggalkan. Dampak ini akan nampak dan dibawa sampai dewasa,” kembali Desy menerangkan.

Psychology Today juga menjabarkan, apa saja dampak yang dirasakan anak yang tumbuh dengan gaya Parenting VOC saat remaja dan dewasa. 

Kebiasaan orang tua yang suka merendahkan, cenderung membuat mereka kesulitan mengendalikan amarah. Mereka juga jadi impulsif dan agresif secara verbal dan fisik, karena sejak kecil kerap menerima tuntutan tinggi dan hukuman fisik –tanda kecerdasan emosional rendah. 

Saat remaja mereka juga rentan terlibat dalam kenakalan remaja, serta berkontribusi pada peningkatan perundungan dan viktimisasi. Penyebabnya dari sikap otoriter orang tua yang melakukan kontrol sangat tinggi dan mereka tidak diberikan kesempatan untuk bicara. 

Di usia dewasa, mereka kemungkinan mengalami kesehatan mental yang buruk serta menunjukkan gejala depresi –berdasarkan studi yang dilakukan terhadap 1.320 orang dewasa.

Tips Agar Tidak Menjadi Orang tua dengan Parenting VOC

Jika dulu MamPap dibesarkan oleh orang tua otoriter, jangan mengulangi pola yang sama terhadap anak Anda, ya. Kasihan anak-anak, loh…

Anda sendiri kan sudah merasakan ‘sakitnya’ tumbuh dalam pola asuh Parenting VOC, jadi jangan sampai buah hati Anda mengalami hal yang sama. 

Ini beberapa hal yang bisa MamPam lakukan untuk menghindari pola asuh Parenting VOC pada buah hati: 

  • Pelajari pola asuh Parenting VOC dengan baik. Semakin banyak belajar, maka semakin Anda paham mana yang baik dan buruk dari pola asuh ini. 
  • Dengarkan anak. Dengan mendengarkan, Anda jadi tahu apa yang mereka rasakan dan pikirkan. Penting bagi Anda memvalidasi emosinya. Ini sekaligus membantu anak  belajar mengenali emosinya sendiri juga mengendalikan diri dan perasaannya.
  • Tetapkan aturan rumah tangga. Tidak hanya pada anak, tapi buat pedoman, aturan, dan ekspektasi yang berlaku bagi semua orang yang tinggal di rumah (anak, ibu, bapak, pengasuh dan lainnya). Ini cara agar aturan ditegakkan secara proporsional dengan konsekuensi yang konsisten.
  • Terapkan hukuman yang logis dan hindari hukuman fisik. Selain itu, jangan mempermalukan anak saat atau karena ia melakukan kesalahan.
  • Pertimbangkan kelas parenting. Jika Anda dan pasangan merasa khawatir atau tidak yakin dengan gaya asuh yang akan diterapkan pada anak, pertimbangkan untuk mengikuti kelas parenting atau berkonsultasi dengan terapis keluarga. 

Akhir kata, Desy menegaskan, gaya Parenting VOC tidak cocok diterapkan pada generasi manapun. 

“Karena kunci dari pola asuh adalah komunikasi. Menjalin komunikasi dan menghargai orang lain adalah kunci pola asuh yang baik. Ajarkan anak untuk memiliki empati, mengomunikasikan kebutuhan dan ketidaksetujuannya pada sesuatu dengan cara yang santun, mampu untuk mengenali emosi diri sendiri dan emosi orang lain dengan baik, agar anak mampu mengontrol emosinya,” kata Desy.

Desy juga menyarankan agar orang tua menghargai keinginan anak, dan mengarahkan jika pendapat anak terlihat kurang memuaskan. Usahakan juga untuk selalu mendiskusikan masalah-masalah yang dihadapi anak, lengkap dengan pilihan-pilihan solusi yang mencakup dampak negatif dan positif.

“Sehingga ketika anak mengambil keputusan, anak memiliki gambaran risiko apa yang bakal mereka hadapi dari keputusannya.” 

Bagaimana menurut MamPap, apa tertarik menerapkan gaya Parenting VOC pada si buah hati?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ fifty = 59