8 Ciri-ciri Suami Patriarki, Nomor 5 Sangat Khas!

ciri-ciri suami patriarki
Foto: Odua Images

Dilayani 24 jam penuh memang nikmat, ya, MamPap. Tapi apa tanggapan Mama jika ada suami –atau itu suami Anda sendiri– yang kepingin istrinya siap melayani 24 jam, tanpa peduli kondisi istri? Asal Mama tahu, ini ciri-ciri suami patriarki, nih

Ada memang suami yang seperti ini: Ingin punya istri yang siap melayaninya kapanpun, mulai dari urusan pakaian, makan, ‘ranjang’ hingga lainnya. “Jadi istri memang harus begitu, supaya suami betah!” itu katanya. 

Maksudnya gimana, ya, Ma? Apa itu artinya, kalau istri menolak, suami berhak mencari kepuasan di luar? 

Ada yang mengatakan bahwa pemikiran tersebut merupakan konsep patriarki.  Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan patriarki dan suami patriarki itu sendiri? Apakah suami yang menerapkan budaya patriarki bisa membahayakan anggota keluarganya?

Read More

Apa Itu Budaya Patriarki?

Sebelum menjelaskan apa saja ciri-ciri suami patriarki, Anda perlu tahu apa itu budaya patriarki. Budaya patriarki sebenarnya sangat mudah ditemui di Indonesia, bahkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Menurut Jovanka Yves Modiano, dalam jurnalnya di Savientia Et Virtus yang berjudul Pengaruh Budaya Patriarki Dan Kaitannya Dengan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (2021), budaya patriarki sudah mendarah daging seolah menjadi satu kesatuan dengan norma-norma dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat kita.

Jovanka menjelaskan, dalam budaya patriarki, laki-laki berada di posisi subordinat atau superior. Secara sederhana, istilah ‘patriarki’ kerap digunakan untuk menggambarkan sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pengendali kekuasaan atas perempuan, dimana kedudukan laki-laki lebih tinggi dari perempuan, laki-laki sebagai sosok yang dominan, serta menempatkan perempuan di posisi yang harus patuh dan mengikuti arahan laki-laki.

Budaya ini juga cenderung mengembangkan perilaku kesewenang-wenangan laki-laki terhadap perempuan –menghasilkan ketidakadilan gender (gender inequality). 

Ciri-ciri Suami Patriarki yang Jangan Diabaikan

Di Indonesia ternyata ada laki-laki yang menganut paham patriarki. Menurut Desy Raskika Darmayanti, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menjabarkan ciri-ciri suami patriarki sebagai berikut: 

1. Dominan dan cenderung ingin lebih berkuasa

Sebagai kepala keluarga, benar jika dikatakan bahwa suami adalah pemimpin di rumahnya. Namun lebih dari itu, suami yang menganut paham patriarki menganggap derajatnya jauh lebih tinggi dari istrinya. “Perempuan dianggap sebagai warga kelas 2, yang tidak memiliki keinginan bebas. Segala-galanya diatur dan tidak boleh memiliki pendapat sendiri,” terang Desy. 

Hal ini bisa dilihat dari aturan-aturan dalam rumah tangga yang dibuat sepihak menguntungkan suami saja. Misalnya, istri tidak boleh bekerja, cukup di rumah saja mengurus anak-anak dan rumah. 

2. Istri tidak diperbolehkan memiliki pendapat sendiri

“Budaya patriarki itu tidak membiarkan ada komunikasi dalam rumah tangga. Padahal, kunci rumah tangga itu ya di komunikasi,” kata Desy.

Ia juga menambahkan, ketika suami tidak membiarkan istri untuk berpendapat, dan tidak ada komunikasi antar suami-istri, suami cenderung memutuskan hal-hal penting yang menjadi tanggung jawab bersama secara sepihak. 

Dalam hal ini, suami juga menjadi antikritik dan tidak menerima nasihat dalam bentuk apapun dari istrinya. Ini karena suami menganggap dirinya “pemimpin” dan merasa bahwa segala yang dilakukannya benar.

3. Istri tidak boleh mencampuri urusan suami

Dengan kata lain, istri tidak boleh tahu apa saja yang dilakukan suami di luar rumah, karena memang dalam budaya patriarki kodrat perempuan hanya sebatas urusan ‘dapur’. Anda pasti pernah dong pernyataan ini: “Istri tuh kerjaannya di dapur.” Nah, anggapan seperti ini berasal dari budaya patriarki. 

Hal ini juga menjadikan suami bebas bertindak sesuka hati karena ia merasa ruang kekuasaannya jauh lebih luas dibandingkan ‘dapur’ istri. 

4. Istri harus melayani dan mengikuti semua perintah suami 

Tidak hanya mengurus pekerjaan rumah tangga dan bertanggung jawab secara penuh mengurus keperluan anak, istri juga diwajibkan melayani suami setiap waktu. Bahkan kadang, suami tidak perlu mempedulikan kondisi istrinya: lelah, sakit, sibuk dengan anak, atau lainnya. “Memang itu kan sudah tugasnya,” dalam pikirannya.

5. Suami tidak turut membantu urusan rumah tangga

Ciri-ciri suami patriarki yang khas adalah menganggap urusan rumah tangga sepenuhnya tanggung jawab istri. Ia cenderung menolak terlibat dalam pekerjaan rumah atau pengasuhan anak, dengan alasan “itu tugas istri”. Konsep berbagi peran dianggap melemahkan kelelakiannya.

Jadi jangan berharap ia sudi ‘menurunkan’ derajatnya membantu istri seperti memasak, mencuci piring, atau bahkan menemani anak bermain. 

Tanpa disadari, pemahaman patriarki ini juga cenderung membuat suami jadi mudah menyuruh istri melakukan ini-itu dan bermalas-malasan saat berada di rumah.

6. Istri tidak boleh bekerja

Mayoritas budaya patriarki melarang perempuan untuk keluar atau beraktivitas di rumah. Itulah mengapa, suami patriarki tidak suka jika istrinya bekerja.

Kalaupun diizinkan, terutama jika karier istri jauh lebih bagus darinya, umumnya suami patriarki menganggap itu sebagai ancaman. Baginya, karier dan gaji istri yang lebih tinggi menunjukkan kedudukannya lemah.

7. Ciri-ciri Suami Patriarki, terlalu mengontrol

Suami patriarkis sering kali ingin mengatur bagaimana istri berpakaian, dengan siapa ia berteman, atau ke mana ia pergi. Ia merasa punya hak penuh atas tubuh dan kehidupan sosial istrinya.

8. Meremehkan kemampuan atau aspirasi istri

Hati-hati, ciri-ciri suami patriarki lainnya adalah tidak mendukung karier, pendidikan, atau mimpi-mimpi istri. Bahkan bisa jadi ia merasa terancam jika istri lebih sukses atau mandiri secara finansial. Sebab, ia menganggap posisi suami harus di atas, tidak ada kesetaraan dalam pola pikir dan pandangannya.

Apakah Sikap Patriarki pada Suami Berbahaya? 

ciri ciri suami patriarki, tanda suami patriarki
Foto: Shotprime

Dengan tegas Desy mengatakan, ⁠berbahaya. Seharusnya, kata Desy, rumah tangga dibangun atas kerja sama antar suami-istri. 

“Pasangan wajib menjadi teamwork yang solid agar rumah tangga menjadi lebih baik. Komunikasi adalah kunci rumah tangga yang baik, dan budaya patriarki tidak akan membiarkan wanita untuk urun pendapat,” jelas Desy.

Praktik budaya patriarki juga cenderung menyalahkan istri apabila ada kesalahan pada pola asuh anak yang tidak baik atau hal lainnya, seperti manajemen keuangan dalam rumah tangga.

Dominasi suami atas istri yang tidak dilandasi rasa kasih sayang ini, jika dibiarkan terus-menerus, bisa berkembang menjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) –KDRT dianggap wajar.

Berdasarkan data Komnas Perlindungan Perempuan, KDRT di Indonesia cenderung meningkat setiap tahunnya, yakni sekitar 5-10%. Dan berdasarkan kesimpulan beberapa penelitian, KDRT kerap terjadi karena budaya patriarki yang kuat dalam rumah tangga tersebut. 

Salah satunya penelitian yang dihimpun GoodStats mengungkapkan, sepanjang tahun 2024 ada sebanyak 7.099 perempuan dilaporkan menjadi korban kekerasan dimana 5.396 korban mengalami KDRT –berdasarkan data Komnas Perempuan dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) melalui Simfoni PPA 2024. 

Ini artinya, upaya negara mengkampanyekan kesetaraan gender (dalam masyarakat kita yang patriarkis) melalui aturan hukum masih belum sanggup mengurangi kasus KDRT. 

Tidak hanya istri, paham patriarki dalam keluarga juga bisa berdampak pada anak. Alifiulahtin Utaminingsih dalam bukunya yang berjudul Kajian Gender: Berperspektif Budaya Patriarki juga mengatakan, keluarga yang dibangun atas paham patriarki juga cenderung menunjukkan kasih sayang yang berbeda terhadap anak laki-laki dan perempuan. 

Sebagai penerus keturunan dan calon pemimpin di keluarganya nanti, ayah lebih mengutamakan segala hal kepada anak laki-lakinya, seperti pendidikan, pengembangan minat, dan lain sebagainya.

Cara Menghadapi Suami Patriarki

Butuh waktu untuk melepaskan paham patriarki dari pikiran suami, apalagi jika paham ini sudah ‘bersemayam’ dalam kehidupannya sejak dini. 

Lamanya tergantung dari usaha istri dan keinginan suami membuka diri untuk berubah. 

Pertama, kata Desy, harus ada kesadaran dari pihak suami. 

Kedua, jalin komunikasi yang baik. Semua hal harus dikomunikasikan, jadi beranikan diri Anda mengungkapkan perasaan atau pendapat. Jika merasa ada tindakan atau keputusan suami yang tidak wajar atau melewati batas, jangan takut mengatakan ‘tidak’.  

Utarakan perasaan dan pemikiran Anda dengan sikap dan perkataan yang baik juga dalam suasana nyaman agar suami mudah menerima dan tidak tersinggung.

Ketiga, minta bantuan ahli. Ketika Anda tidak sanggup menghadapi suami patriarki sendirian dan merasa tidak ada jalan keluar, segera cari bantuan ahli. Jika memungkinkan, minta suami untuk bersama-sama dengan Anda mengikuti konseling pernikahan guna mendapatkan solusi terbaik.

Jawaban di atas mungkin terdengar klise, tapi percayalah, usaha Anda tidak akan sia-sia apalagi tujuannya untuk kebaikan. Biar bagaimana pun, rumah tangga yang sehat bukan tentang siapa yang lebih berkuasa, tetapi tentang dua orang dewasa yang saling mendukung dan tumbuh bersama.

Memahami dan melawan pola pikir patriarkis adalah langkah penting menuju hubungan yang lebih adil dan saling menghargai. Untuk itu, jangan normalisasi dan  waspadai ciri-ciri suami patriarki perlu dipahami sejak dini. 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × two =