Ingin si kecil tumbuh jadi laki-laki yang tidak patriarki? Jika ya, mari kita ingat kembali, pernah tidak kita sebagai orang tua meminta anak lelaki untuk mengalah dikarenakan ia lelaki? Atau, memintanya tidak menangis dengan alasan anak lelaki harus kuat? Mungkin, juga meminta mereka untuk tidak bermain boneka dan mengenakan baju warna merah muda lantaran tidak ingin ia dicap sebagai anak perempuan?
Jika ya, hati-hati. Tanpa disadari jutsru tindakan yang seperti ini dapat menjadi bibit membentuk anak lelaki menjadi patriarki dan tidak menghargai perempuan.
Bila dibiarkan, tentu saja dapat berisiko membuat anak laki-laki bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya lebih tinggi dari perempuan, lebih berhak, dan lebih layak memimpin hanya karena ia laki-laki. Namun yang lebih parah, anak lelaki ini dapat memandang rendah dan menganggap perempuan tidak akan pernah setara dengan lelaki.
Mencegah budaya patriarki tentu menjadi salah satu langkah besar dan perlu diupayakan. Ini pun dapat mencegah anak lelaki tidak tumbuh menjadi sosok suami yang toxic dan menjadi red flag di kemudian hari.
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara kita sebagai orang tua untuk bisa membantu anak laki-laki yang tidak patriarki, dan dapat menghargai perempuan? Berikut beberapa tips dari Agstried Piethers psikolog anak dan pendidikan dari Rumah Dandelion.
Membentuk Anak Laki-Laki yang Tidak Patriarki
1. Berikan Kesempatan Anak Lelaki untuk Menangis
Ini adalah poin yang paling dasar dan utama. Anak laki-laki yang tidak patriarki bisa dimulai dengan mengijinkan mereka untuk menangis, membuat mereka bisa lebih jujur dengan emosi dan kondisi dirinya sendiri. Selain itu saat mengajarkan anak untuk boleh menangis tidak perlu bahkan jangan mengaitkan menangis dengan kelemahan. Dari sini, anak-anak jadinya juga bisa lebih empati dengan lingkungan juga, loh.

Sejak dini kita sebagai orang tua juga perlu mengajarkan anak untuk mengenal berbagai emosi yang yang dirasakan, termasuk emosi negatif seperti kecewa, sedih, marah. Nah, ketika mereka sedih atau kecewa, tentu bisa saja menangis.
2. Menjadi Contoh Konkret dalam Keseharian
Cara penting lainnya dalam agar anak laki-laki yang tidak patriarki tentu saja menjadi contok konkret. Anak belajar paling banyak dari apa yang ia lihat dalam kesehariannya, bukan hanya dari apa yang ia dengar. Untuk itu, memperlihatkan bagaimana sikap ayah menghargai ibu, bagaimana ibu didengarkan saat berbicara, dan bagaimana keputusan di rumah diambil bersama. Sikap saling menghargai antara orang tua akan menjadi contoh nyata bagi anak.

Pada saat ayah dapat menghargai ibu, di rumah tidak ada pembagian peran karena gender, maka anak bisa melihat dan berlajar. Misalnya, ibu memasak bukan karena ibu perempuan, tapi karena ibu yang bisa memasak. Kalau ayah bisa memasak, maka ayah juga bisa memasak. Dengan begitu dari sini anak juga bisa melihat bahwa perempuan dan laki-laki itu bisa setara dan melakukan tugas yang sama.
3. Perkenalkan Tokoh Perempuan yang Inspiratif
Selain role model yang konkret yang bisa dilihat setiap hari dan dijadikan contoh, anak-anak juga bisa kita berikan contoh juga beberapa “strong independent woman”. Kita bisa kasih lihat bahwa super hero itu nggak harus laki-laki, loh. Atlet, nggak harus laki-laki, scientist atau engineer banyak perempuan juga.
Selain itu, dengan membacakan buku atau tunjukkan film dengan karakter perempuan yang kuat, pintar, dan berani juga bisa menjadi alternatif yang dipilih. Anak laki-laki perlu melihat bahwa perempuan bukan hanya “pendukung” atau “pelengkap”, tapi juga pemimpin, penemu, dan bahkan dapat mengubah dunia.
4. Ajarkan Anak untuk Menerima Kata Tidak
Ini penting sekali, untuk mengajarkan anak untuk menerima kata tidak. Tapi mungkin poin ini juga agak susah, ya. Contohnya seperti ini, terkadang, nih, terutama anak-anak usia 3-4 tahun masih mau cium atau peluk temannya. Kalau temannya bilang tidak, ya, tidak. Jangan yang menolak dibujuk untuk jadi iya. Mengajarkan anak supaya paham tidak adalah tidak. Kalau kita mau cium dia kita bilang dulu. Mama cium ya kak.. boleh?
5. Ajarkan Batasan Tubuh dan Persetujuan (Consent)
Perlu digarisbawahi bahwa consent adalah izin yang jelas dan sadar yang diberikan seseorang sebelum sesuatu dilakukan padanya, baik secara fisik, emosional, atau sosial. Hal ini menjadi salah satu poin penting yang wajib diajakrkan pada anak lelaki sehingga mereka paham bahwa tidak ada yang berhak menyentuh atau memaksa orang lain, termasuk perempuan, tanpa izin mereka. Ini bukan cuma soal seksualitas; ini soal menghargai integritas tubuh dan kehendak orang lain.
Mengajarkan tentang batasan tubuh (body boundaries) dan persetujuan (consent) kepada anak laki-laki adalah salah satu hal paling penting dalam membentuk karakter yang menghormati perempuan, bahkan sejak mereka masih kecil.
Faktanya, banyak perilaku tidak menghormati perempuan saat dewasa, termasuk pelecehan atau kekerasan yang bermula dari gagalnya seseorang memahami konsep consent dan batas pribadi. Ketika anak laki-laki terbiasa merasa ‘boleh’ menyentuh, mengatur, atau memaksakan kehendak terhadap orang lain (terutama perempuan), ini bisa berkembang menjadi perilaku dominatif dan merendahkan ketika mereka tubuh menjadi dewasa.
Ketika anak laki-laki tumbuh dengan pemahaman tentang persetujuan dan batasan, mereka akan belajar untuk lebih sadar diri terhadap dampak tindakannya, menjadi orang yang aman dan suportif bagi perempuan di sekitarnya termasuk mampu menjalin relasi yang sehat dan setara.
7. Awasi dan Dampingi Anak Saat Konsumsi Media Sosial

Di era digital saat ini, anak-anak, termasuk anak laki-laki, sangat mudah terpapar berbagai konten dari televisi, YouTube, TikTok, game, hingga media sosial. Sayangnya, banyak dari konten yang secara halus atau bahkan terang-terangan memperkuat stereotip gender, objektifikasi perempuan, atau bahkan membenarkan kekerasan dan dominasi laki-laki.
Untuk itulah peran orang tua di sini sangat diperlukan. Jangan hanya mengawasi, namun tentu saja perlu mendapingi. Alih-alih langsung melarang, orang tua sebaiknya menonton atau bermain bersama anak, terutama saat mereka masih kecil. Ini memberi kesempatan untuk membuka ruang untuk berdiskusi. Lewat diskusi akan melatih kesadaran kritis anak terhadap apa yang ia lihat.
Kenyataanya, patriarki memang tidak muncul sendiri, sikap ini bisa dibentuk bahkan diwariskan sejak kecil. Anak laki-laki tidak tiba-tiba tumbuh menjadi pria yang meremehkan perempuan, merasa berhak mengatur, atau menolak kerja rumah tangga.
Membesarkan anak laki-laki yang tidak patriarki perlu dibentuk melalui pola asuh, contoh sehari-hari, dan nilai-nilai yang diserap sejak kecil. Dengan melatih anak lelaki agar bebas dari patriarki, jutsru kita membantu mereka tumbuh lebih utuh.
Hai, salam kenal 🤗, panggil saya Adis. ‘Terlahir’ jadi ibu, menjadi sadar kalau menjadi orang tua merupakan tugas seumur hidup. Meski banyak tantangan, semua tentu bisa dijalani jika ada dukungan dari lingkungan sekitar. #MamaSquads









and then