Pernahkah anak terlihat lesu, mudah lelah, atau bahkan lebih pucat dari biasanya? Bisa jadi itu bukan sekadar kelelahan biasa, lo. Bisa jadi itu tanda anemia pada anak, ketika salah satu penyebabnya adalah karena kekurangan zat besi. Kondisi ini tentu tidak bisa disepelekan dan perlu menjadi perhatian MamPap agar tumbuh kembang Si Kecil tetap optimal. Agar MamPap lebih aware dengan kondisi ini, kenali dan pelajari gejala serta cara deteksi dini anemia defisiensi besi pada anak.
Apa itu Anemia Defisiensi Besi (ADB)?
Anemia yang disebabkan oleh kekurangan zat besi dikenal sebagai Anemia Defisiensi Besi (ADB,) adalah kondisi kurangnya cadangan zat besi di dalam tubuh. Zat besi sendiri berperan penting dalam pembentukan hemoglobin, atau komponen darah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Ketika tubuh kekurangan zat besi, perkembangan otak dan tumbuh kembang anak akan terhambat, bahkan kemampuan IQnya bisa menurun.
Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi ADB pada kelompok usia 0-59 bulan sebanyak 38,5%. Artinya, anak-anak yang menderita ADB masih tergolong tinggi.
Padahal, zat besi adalah salah satu mikronutrien yang berperan sangat penting di dua tahun kehidupan pertama seorang anak. Hal ini juga disampaikan oleh dr. Melia Yunita, MSc, SpA, di mana zat besi sangat dibutuhkan untuk perkembangan otak dan tumbuh kembang anak.
“Perkembangan otak anak berlangsung sangat cepat di 2 tahun pertama kehidupan. Jadi 80% volume otak dewasa akan dibentuk di 2 tahun pertama. Apa yang bisa dilakukan di 2 tahun pertama supaya bisa optimal perkembangan otaknya? Salah satu yang paling penting adalah kecukupan Zat Besi,” kata dr. Melia saat ditemui dalam acara peluncuran kalkulator zat besi, Alfamart Sahabat Generasi Maju bersama SGM Eksplor.
Peranan Zat Besi untuk Tumbuh Kembang Anak
Bukan tanpa alasan mengapa asupan zat besi perlu sangat diperhatikan. Sebab zat besi punya peranan penting untuk tubuh. Dokter anak yang kerap disapa dr. Lia juga mengatakan kalau zat besi adalah salah satu mikronutrien yang dibutuhkan untuk perkembangan pada dua bagian otak, yaitu korteks serebral, dan hipokampus.
Korteks serebral memegang peranan penting dalam hal Attention (perhatian), Memory (daya ingat), Thought (cara berpikir), dan Language (kemampuan berbicara). Sedangkan hipokampus merupakan struktur utama dalam daya ingat, pemrosesan daya ingat spasial, dan mentransfer memori jangka pendek ke memori jangka panjang.
“Dua area ini sangat penting untuk daya ingat atau memori. Misalnya si kecil kalau diajarin lupa-lupa nggak? Hari ini diajarin, besok ditanya udah lupa. Nah, jangan-jangan ada masalah nih dengan area ini. Cara berpikir, kemampuan bicara, daya ingat spasial. Kedua area ini ternyata sangat sensitif dengan kondisi kekurangan zat besi. Kalau zat besinya kurang, dua area tersebut tidak berkembang dengan baik. Akibatnya, fungsi-fungsi yang ada di area tersebut terganggu. Daya konsentrasi di sekolah menurun, dan daya ingatnya menurun. Jadi penting banget untuk memastikan zat besi Si Kecil cukup,” kata dokter yang kerap disapa dr. Lia
Tidak hanya untuk pembentukan dua bagian otak tersebut, zat besi punya peran penting lainnya, yaitu:
1. Pembentuk Hemoglobin
Zat besi adalah komponen utama dalam pembentukan hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Sekitar 70% zat besi dalam tubuh ditemukan di dalam hemoglobin.
Jadi, bila tubuh kekurangan zat besi, tubuh tidak bisa menghasilkan hemoglobin yang cukup. Akibatnya, pasokan oksigen ke jaringan dan organ menjadi berkurang, sehingga menyebabkan anak mudah lelah, lemas, dan sulit berkonsentrasi.
2. Berperan sebagai sistem imunitas tubuh
Zat besi juga berperan penting dalam mendukung fungsi kekebalan tubuh. Ini karena zat besi dibutuhkan untuk produksi dan aktivasi sel imun tertentu, seperti limfosit dan neutrofil. Dua sel ini ini berfungsi melawan bakteri dan virus.
3. Membangun pertumbuhan otot
Zat besi mendukung pertumbuhan dan kekuatan jaringan otot. Termasuk dalam produksi mioglobin, atau protein yang menyimpan oksigen di otot. Tanpa zat besi yang cukup, otot tidak bisa bekerja dengan optimal.
4. Mendukung fungsi dan perkembangan otak (Neurotransmitter & Sistem Saraf)
Zat besi punya peran sangat penting untuk perkembangan otak dan sistem saraf, khususnya pada anak-anak.
- Neurotransmitter: Zat besi membantu kerja dan pembentukan berbagai kimia otak seperti dopamin, norepinefrin, dan serotonin, ini berhubungan dengan regulasi emosi, perilaku, serta kemampuan belajar.
- Mielinisasi Neuron: adalah proses pembentukan selubung pelindung pada serabut saraf. Zat besi sangat dibutuhkan agar sinyal antar neuron ini berjalan cepat dan lancar.
- Sistem sensori (visual dan auditori): Zat besi juga mendukung perkembangan penglihatan dan pendengaran.
Gejala Anak yang Mengalami Anemia Defisiensi Besi

Meski terkadang gejalanya tampak samar, namun beberapa gejala fisik bisa MamPap kenali sejak dini. Misalnya, anak yang mengalami ADB biasanya terlihat lebih pucat, mudah lelah, kurang nafsu makan, dan terlihat kurang aktif dibanding anak seusianya.
“Gejalanya ini pucat, lemas, gampang sakit, terus ada yang namanya pika. Pika itu saat anak suka makan benda-benda yang aneh. Misalnya saya pernah punya pasien yang suka makan gerusan tembok, itu bukan perilaku yang normal. Setelah di cek ternyata dia punya anemia berat, Hb nya cuma 7, anaknya pucat banget, berat badan tidak bagus, keterlambatan perkembangan, dan kadar zat besinya rendah,” ucap dr. Lia.
Beberapa gejala lainnya, yaitu:
- Pucat, lemah, letih, lesu
- Irritable (rewel dan cengeng)
- Pusing, sakit kepala
- Glossitis (lidah bengkak dan meradang)
- Sariawan di sudut mulut
- Spoon nail (kuku menjadi tipis dan cekung di bagian tengah seperti bentuk sendok)
- Pica (suka memakan benda tertentu seperti tanah, kertas, pasta gigi, dll)
- Keterlambatan pertumbuhan
- Mudah terkena infeksi
- Gangguan perilaku yang irreversible atau tidak bisa diubah kembali
Bila sampai MamPap melihat ada gejala-gejala ini, segera periksakan Si Kecil ke dokter anak.
Faktor Risiko
MamPap, tidak semua anak memiliki faktor risiko yang sama terhadap kekurangan zat besi. Tapi ada beberapa kelompok yang lebih rentan mengalami kondisi ini, terutama bayi dan anak-anak dengan pola makan atau kondisi kesehatan tertentu.
Mengutip dari MayoClinic.org, misalnya bayi prematur atau memiliki berat badan lahir rendah cenderung memiliki cadangan zat besi yang lebih sedikit. Beberapa faktor risiko lainnya, yaitu:
- Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR)
- Bayi kembar
- Bayi atau anak yang mengalami percepatan pertumbuhan
Sedangkan anak-anak yang paling berisiko mengalami kekurangan zat besi adalah mereka yang:
- Berusia 1 hingga 5 tahun dan mengonsumsi lebih dari 710ml susu sapi, susu kambing, atau susu kedelai per hari.
- Memiliki kondisi kesehatan tertentu, seperti infeksi kronis atau asupan gizi yang sangat terbatas.
- Terpapar timbal.
- Tidak mengonsumsi cukup makanan yang kaya zat besi.
- Mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.
Pentingnya Deteksi Anemia Defisiensi Besi pada Anak Sejak Dini
Deteksi dini ini sangat penting mengingat dampak kekurangan zat besi tidak main-main. Disampaikan oleh dokter Lia, anak yang tidak terdeteksi kekurangan zat besi tumbuh kembangnya bisa terganggu dan tidak optimal. Dari sini, kita tahu akan ada dampak panjang bila deteksi dini kekurangan zat besi tidak dilakukan.
“Sayangnya, masih banyak orang tua yang tidak menyadari peran penting pemenuhan asupan zat besi, bahkan cenderung mengabaikan gejala kekurangan zat besi, yang jika dibiarkan akan berdampak pada penurunan fokus atau konsentrasi dan memori, lebih pasif karena gejala letih, lesu, gangguan perilaku, sosio-emosional, perkembangan motorik dan juga lebih rentan sakit, sehingga nantinya dikhawatirkan bisa mempengaruhi kemampuan kognitif dan prestasi anak,” ucap dr. Lia.
Dari penjelasan dr. Lia jelas kalau upaya deteksi dini perlu dilakukan untuk mencegah ADB. MamPap bisa melakukannya di rumah dengan beberapa cara, namun MamPap perlu mengetahui apa saja gejala ADB.
3 Cara Deteksi Dini Anemia Defisiensi Besi pada Anak
Tentu saja lebih baik mencegah daripada mengobati, kan. Bila sudah aware dengan kondisi ini, MamPap bisa mulai mendeteksi dini apakah asupan zat besi si kecil sudah tercukupi atau masih kurang. Bagaimana mendeteksinya?
1. Perhatikan Asupan Gizi Si Kecil
MamPap perlu memastikan apakah sudah cukup memberikan asupan gizi untuk Si Kecil? Termasuk memberikan makanan dengan kandungan zat besi yang tinggi.
Ada dua jenis zat besi di dalam makanan yaitu heme dan non-heme. Zat besi heme bisa didapatkan dari protein hewani seperti daging, ikan, telur, dan susu. Sedangkan zat besi non-heme berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti bayam. Dari dua jenis ini, zat besi heme memiliki kandungan zat besi yang lebih tinggi dari zat besi non-heme.
Selain mencukupi asupan gizinya, MamPap juga perlu memastikan asupan susu terfortifikasi dan suplementasi zat besi. Apakah Si Kecil konsumsi susu pertumbuhan secara rutin, dan mengkonsumsi vitamin zat besi harian?
Dikatakan oleh dr. Lia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sudah memberi ketentuan untuk memberikan suplementasi zat besi, terutama untuk anak usia 6 bulan sampai 2 tahun.
“IDAI sudah menentukan eajib diberi suplementasi zat besi dengan dosis tertentu. Wajib, karena itu untuk mencegah kekurangan zat besi,” ucap dr. Lia.
Bila asupan zat besi dirasa masih kurang, dan ada gejala kekurangan zat besi, Si Kecil mungkin membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
2. Diagnosis Klinis
Mengutip dari IDAI, diagnosis klinis menjadi salah satu deteksi dini ketika sudah ada gejala kekurangan zat besi. Diagnosis klinis dari dokter perlu dilakukan ketika anak sudah terlihat lesu, lemas, nafsu makan berkurang, mudah terdistraksi, tidak bersemangat, cepat lelah dan sulit konsentrasi.
Setelah diagnosis ditegakkan, cek laboratorium mungkin akan dibutuhkan untuk pemeriksaan selanjutnya.
3. Kalkulator Zat Besi
Selain mendeteksi gejala fisik dan asupan gizi Si Kecil, MamPap bisa menggunakan Kalkulator Zat Besi dari SGM Eksplor dan Alfamart. Kalkulator Zat Besi ini adalah alat bantu non-medis pertama di Indonesia yang dirancang untuk mengidentifikasi faktor risiko kekurangan Zat Besi pada anak.
Dengan menjawab beberapa pertanyaan sederhana seputar pola makan dan asupan gizi Si Kecil, MamPap bisa mendapatkan gambaran awal apakah anak berisiko kekurangan zat besi atau tidak. Selain itu kalkulator Zat Besi ini juga dapat dimanfaatkan sebagai alat pemantauan berkala sebelum dilakukan pemeriksaan lanjutan oleh tenaga kesehatan.
Mendeteksi ADB sejak dini adalah langkah penting untuk memastikan tumbuh kembang Si Kecil optimal. Dengan mengenali gejala awal, memahami faktor risiko, dan melakukan deteksi dini kekurangan zat besi, MamPap bisa lebih sigap mengambil tindakan pencegahan.
Ingat, kekurangan zat besi bukan sekedar lemas atau pucat saja, tapi bisa berdampak jangka panjang pada kecerdasan, perilaku, dan kesehatan Si kecil secara menyeluruh.










and then