Pemerintah mengatur usia minimal anak untuk masuk SD negeri, yaitu usia 7 tahun. Hal ini biasanya membuat galau banyak orang tua yang memiliki anak dengan ‘usia tanggung’. Pada akhirnya, mereka akan dihadapkan beberapa pilihan, apakah harus mengulang anaknya masuk ke TK B kembali, atau tetap lanjut menyekolahkan anak ke SD swasta di usia 6 tahun, atau malah memutuskan untuk gap year sebelum masuk SD di usia 7 tahun.
Namun, memilih gap year sebelum masuk SD mungkin bukan keputusan yang mudah bagi sebagian orang tua. Selain takut dianggap sebagai keterlambatan, orang tua yang memutuskan anaknya untuk gap year sebelum masuk SD juga kerap merasa kebingungan untuk mengisi aktivitas si kecil selama setahun anak menganggur di rumah.
Sebenarnya, adakah kelebihan dan dampak jika anak gap year sebelum masuk SD? Apa saja kegiatan yang bisa MamPap lakukan selama anak menjalani gap year sebelum masuk SD? Simak ulasannya di artikel berikut, yuk!
Apa Itu Gap Year?
Gap year adalah istilah yang merujuk pada periode waktu jeda dari pendidikan formal yang diambil setelah kelulusan untuk mengembangkan diri, mendapat pengalaman baru, dan mempersiapkan diri untuk langkah selanjutnya.
Tahun jeda ini biasanya berlangsung selama setahun, bisa lebih pendek atau lebih lama, terutama dalam konteks siswa yang lulus SMA sebelum menuju ke jenjang kuliah.
Namun, istilah gap year ini juga kerap digunakan pada anak yang baru lulus TK untuk mempersiapkan kematangan anak sebelum masuk SD.
Kapan Anak Siap Masuk Sekolah dasar?
Sebelum memasuki sekolah dasar, seorang anak perlu memiliki beberapa keterampilan tertentu dan siap secara psikologis, kognitif, serta sosial-emosional.
Menurut Psikolog Agstried Elizabeth Piether dari Rumah Dandelion, selain usia, ada beberapa kriteria anak dikatakan siap masuk SD, di antaranya:
- Kematangan sosial-emosional. Anak mampu mengelola emosi dasar, seperti marah, kecewa, senang, dan berinteraksi secara fungsional dengan teman dan guru.
- Kemampuan kognitif. Anak mampu fokus selama ±15–20 menit, memahami instruksi sederhana, serta mengenali huruf dan angka.
- Kemandirian dasar. Anak harus mandiri, seperti bisa ke toilet sendiri, memakai pakaian sendiri, membawa dan membereskan barang pribadinya.
- Regulasi diri. Contoh sederhananya adalah mampu menunggu giliran, mendengarkan arahan, dan menyelesaikan tugas sederhana.
Kelebihan dan Kekurangan Gap Year Sebelum SD
Sebelum memutuskan untuk gap year, MamPap tentu akan mempertimbangkan tentang kelebihan dan kekurangan, dan apakah ada dampak bagi si anak jika memutuskan untuk gap year.
Memang semua keputusan tentu memiliki kekurangan dan kelebihan. Di sini, Anda bisa memutuskan sesuai tujuan apa yang ingin MamPap capai terhadap si anak. Apakah tujuan Anda memberlakukan gap year pada anak agar ia merasa lebih siap menghadapi lingkungan belajar sekolah dasar yang tentunya lebih menantang? Jika ya, keputusan Anda mungkin sudah tepat, asalkan waktu periode gap year dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Ya, gap year sebelum masuk SD memang harus dimanfaatkan dengan berbagai aktivitas pengembangan si anak yang bisa membuatnya memaksimalkan kemampuan dan kesiapannya menghadapi jenjang belajar berikutnya.
Menurut Agstried, jika gap year dilakukan dengan baik, maka anak mungkin bisa menjadi lebih siap secara usia untuk menghadapi sekolah dasar. “Akan tetapi, jika gap year tidak diisi dengan kegiatan yang bertujuan, khawatirnya anak juga bisa kehilangan kemampuan mengikuti rutinitas dan struktur seperti kehidupan sekolah formal, karena terbiasa bebas di rumah,” ungkapnya.
Selain itu, ada juga kemungkinan anak menjadi tidak minat pada sekolah formal, jika terlalu bebas dan tidak diberlakukan aturan di rumah. “Hal ini bisa saja terjadi. Makanya, yang penting adalah apa yang dilakukan selama gap year. Tetap memiliki jadwal, tugas-tugas menantang, dan kewajiban “akademik” di rumah tetap harus dilakukan,” tambah Agstried.
Hal tersebut, tentu bisa menjadi kekurangan atau dampak dari gap year. Jadi bisa dibilang, manfaat atau dampak gap year yang bisa dirasakan si anak tergantung dari bagaimana orang tua memfasilitasi program belajar si kecil selama masa gap year tersebut.
Kegiatan yang Bisa Dilakukan Selama Gap Year Sebelum Masuk SD
Agar gap year bisa dirasakan manfaatnya, MamPap tetap perlu memberlakukan kegiatan-kegiatan rutin si kecil yang bertujuan, misalnya:
- Aktivitas fisik (olahraga). Selain dapat meningkatkan kesehatan fisik, olahraga juga meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan mental si kecil, lho. Jadi selain tubuh si kecil tetap bugar, aktivitas fisik juga dapat meningkatkan keterampilan yang dimiliki anak.
- Mengerjakan tugas. Agar kemampuannya tetap terstimulasi, MamPap bisa membiasakan si kecil untuk mengerjakan tugas-tugas, seperti mewarnai, mengenal huruf dan berhitung lewat berbagai media yang menyenangkan.
- Eksplorasi hal yang mereka sukai. Jika si kecil menyukai kegiatan atau aktivitas tertentu, MamPap bisa membantunya bereksplorasi melalui hal yang mereka sukai. Misalnya, mengikuti les berenang, les musik, menari, sepatu roda, atau kegiatan kelompok lainnya yang sesuai usianya.
Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Memutuskan untuk Gap Year
Agstried mengingatkan, orang tua perlu merancang dan menetapkan tujuan untuk memberi jeda anak dari pendidikan formal atau gap year. Selain itu, perlu diperhatikan juga bagaimana persiapan orang tua untuk benar-benar membantu anak dalam mengoptimalkan masa gap year ini.
“Orang tua juga perlu mempersiapkan kegiatan-kegiatan apa saja yang diperlukan untuk mengisi waktu jeda ini. Selain itu, orang tua juga perlu merancang rutinitas harian anak agar anak tetap terbiasa dengan ritme struktur sebelum sekolah,” ujarnya.
Masuk SD Usia 6 Tahun vs 7 Tahun
Masalah usia masuk SD ini selalu menjadi polemik para orang tua saat usia anaknya belum genap 7 tahun. Apakah tepat memasukkan si kecil ke sekolah dasar di usia yang lebih dini sebelum 7 tahun, atau harus menunggu anak genap 7 tahun terlebih dahulu?
Sebelum menjawab hal ini, sebenarnya ada alasan tersendiri mengapa anak-anak disarankan masuk sekolah dasar di usia 7 tahun. Hal ini berhubungan dengan kematangan dan kesiapan seorang anak secara umum di usia 7 tahun dalam menghadapi tuntutan-tuntutan tertentu yang secara umum diberlakukan di tingkat sekolah dasar.
“Jadi sebenarnya kenapa harus 7 tahun, karena secara natural di usia 7 tahun itu anak sudah bisa mengalami tuntutan tumbuh kembang yang ditentukan. Misalnya, sudah bisa berkomunikasi dengan baik, kemudian sudah bisa duduk tegak dan tenang cukup lama, rentang konsentrasinya juga sudah cukup. Jadi, itu adalah usia yang biasanya secara rata-rata perkembangannya sudah optimal,” jelas Agstried kepada tim Parentsquads.
Namun, ia juga menegaskan bahwa tidak menutup kemungkinan ada anak yang dinilai sudah matang dan siap untuk memasuki lingkungan sekolah dasar di usia di bawah 7 tahun. “Memang ada juga, tapi tidak secara umum. Makanya kalau usianya di bawah 7 tahun, mereka (pihak sekolah negeri) biasanya meminta surat pengantar pembuktian bahwa anak ini sudah dinyatakan matang dan siap,” lanjutnya.
Ia juga menambahkan, selama metode pembelajaran dan tuntutan sekolah sang anak sesuai dengan usia, perkembangan, dan kemampuan anak, biasanya anak-anak akan bisa mengatasi kesulitannya masing-masing. “Biasanya menjadi sulit diatasi ketika tuntutan dan level stresnya di atas kemampuan mereka (anak-anak)” tutup Agstried.
Mempersiapkan anak menuju tingkat sekolah dasar (SD) merupakan langkah penting dalam perjalanan kehidupannya. Masa transisi ini tidak hanya melibatkan perubahan lingkungan belajar, tetapi juga kesiapan mental, emosional, dan kematangan kognitif anak.
Yang perlu diingat, masing-masing anak memiliki tahapan perkembangan dan kesiapan yang berbeda. Jadi, orang tua perlu memahami bagaimana tahapan perkembangan masing-masing anak, serta langkah apa yang akan Anda lakukan untuk membantu anak beradaptasi dengan baik di jenjang pendidikan berikutnya.
Mendiskusikannya dengan guru yang membimbing anak sebelumnya atau ahli profesional juga cukup membantu untuk memutuskan langkah MamPap dalam membimbing si kecil melalui setiap fase transisi ini. Semoga membantu, MamPap.
Content Writer Parentsquads










and then