“Ya sudahlah, lebih baik saya diam saja!” mungkin itu yang ada di pikiran MamPap saat sedang berselisih paham dengan pasangan. Waspada, MamPap, “diam itu emas” tidak selamanya baik, loh. Dampak silent treatment justru bisa bersifat abusif, bukan menyelesaikan masalah, apalagi masalah dalam hubungan pasangan suami-istri.
Pepatah lama yang mengatakan “diam itu emas” tidak selalu baik, ternyata. Artinya, ada beberapa masalah yang memang harus dikomunikasikan dua arah agar bisa terselesaikan dengan baik
Masih ingat atau pernah dengar tentang kasus perceraian pasangan artis sinetron Faby Marcelia dan Revand Narya nggak, MamPap? Pertengahan 2024 lalu keduanya bercerai setelah 11 tahun menikah. Faby mengaku di beberapa podcast, alasan mereka bercerai adalah karena silent treatment.
Apa Itu Silent Treatment?
Pernah nggak MamPap melihat seseorang marah, kecewa atau tidak setuju dan melampiaskannya dengan cara berteriak, menangis, atau bahkan melempar-lempar barang? Nah, silent treatment itu kebalikannya.
Silent treatment, seperti dijelaskan pada laman Medical News Today, adalah adalah situasi di mana seseorang menolak berkomunikasi sebagai bentuk ekspresi kemarahan, ketidaksetujuan atau sengaja untuk mengabaikan orang lain. Tujuannya jelas, yakni memutus percakapan yang bermakna, menghentikan aliran informasi, dan pada akhirnya (disadari atau tidak) menyakiti orang lain.
Silent treatment bisa saja dilakukan sesekali atau terus menerus (seperti kebiasaan), bisa juga karena disengaja atau tidak disengaja (spontanitas karena marah).
Mengidentifikasi Sikap Diam dalam Silent Treatment
Untuk bisa membedakan diam dalam silent treatment dengan sikap diam lainnya –dalam hubungan suami-istri– Anda bisa melihat contoh sederhana di bawah ini:
- Mengabaikan atau tidak merespon saat atau setelah berselisih.
- Saat ketahuan bersalah, diam dilakukan sebagai bentuk penolakan meminta maaf dan menghindari tanggung jawab.
- Menolak berbicara, melakukan kontak mata, menjawab panggilan telepon juga membalas pesan.
- Memilih diam agar pasangan merasa bersalah.
- Diam dilakukan untuk memanipulasi sehingga Anda melakukan apa yang pasangan inginkan –secara tidak sadar Anda sedang dikendalikannya.
- Diam untuk menghukum pasangan atau agar pasangan merasa bersalah.
- Diam untuk membatasi atau menjauhkan diri dari kekerasan verbal yang dilakukan pasangan –untuk mencegah kekerasan yang lebih buruk.
- “Aku tidak mau membahas ini,” atau “Sebaiknya kita bahas masalah ini lain waktu,” itulah kalimat pamungkas yang kerap diucapkan bersamaan dengan aksi ‘diam’. Saat mengatakan itu, sebenarnya pasangan sedang melakukan penolakan mentah-mentah untuk membahas masalah, baik itu sekarang atau nanti.
Sikap diam di atas berbeda dengan diam sebagai upaya melindungi diri dari seseorang karena kekerasan (korban KDRT, misalnya). Diam yang ini murni karena perasaan takut akan menerima kekerasan yang lebih buruk lagi, sekaligus sebagai cara melindungi diri.
Berbeda juga dengan diam saat mengambil jeda waktu. Diam pada ‘jeda waktu’ dilakukan dengan penuh kesadaran, dan digunakan ketika seseorang butuh ketenangan untuk menjernihkan pikiran.
Jeda waktu juga butuh persetujuan dari semua orang (yang terlibat dalam percakapan) dan kesepakatan kapan percakapan akan dilakukan kembali.
Silent Treatment Jadi Abusif?
Situasi silent treatment dalam rumah tangga umumnya terjadi berulang dan dalam waktu lama. Itulah mengapa sikap ini dapat mempengaruhi hubungan suami-istri.
Padahal sudah jelas, suatu masalah tidak akan bisa selesai jika suami-istri tidak bekerja sama untuk menyelesaikannya. Jika situasi ini dibiarkan berlarut-larut, sama saja Anda dan pasangan sedang menyiapkan bom waktu. Tinggal menunggu pemicunya saja untuk bisa ‘meledak’.
Verywell Mind menyebutkan, sikap diam yang terus-menerus bisa berkembang menjadi pola perilaku destruktif dan taktik kontrol yang bersifat abusif secara emosional.
“Banyak masalah yang tak terurai. Akhirnya, karena (masalah) yang satunya aja nggak terurai, gimana mau menyelesaikan (masalah) yang lain? Ternyata banyak banget efek-efek yang tidak baiknya ke kita. Salah satunya, mungkin, kita jadi nggak pede untuk ngomong,” kata Faby kepada Maia Estianty saat diundang ke podcast-nya AlElDul TV (6/7/2025).
Bahkan faktanya, melalui penelitian yang juga ditulis Verywell Mind, mengabaikan atau mengucilkan seseorang dapat mengaktifkan area otak yang sama dengan yang diaktifkan oleh rasa sakit fisik.
Seperti yang juga dialami Faby. Lambat-laun kondisi tersebut lambat-laun juga membuat kondisi Faby stres dan kesehatannya menurun.
“Kalau waktu itu lebih ke fisik, sakit-sakitan, Bunda. (Dalam) seminggu tuh aku nggak mungkin nggak ke rumah sakit. (Penyebabnya) asam lambung itu sudah pasti, (karena) stres,” cerita Faby lagi.
Sayangnya waktu itu, Faby juga tak menceritakan kondisi kesehatannya kepada sang suami. Ia benar-benar memendamnya sendiri. “Beliau tahunya tuh aku capek syuting saja, karena aku juga nggak pernah ngomong.”
Akhirnya, orang yang kerap menerima perlakuan diam itu, tidak hanya akan menanggung perasaan sakit hati, merasa tidak dicintai dan dihargai. Tapi ia juga akan berpikir bahwa perceraian adalah jalan terbaik. Itu juga yang akhirnya terjadi pada Faby dan Revand.
Kesimpulannya, silent treatment menjadi abusif jika:
- Tidak ada satupun masalah dalam rumah tangga yang terselesaikan bersama.
- Merasa tidak lagi dicintai/dihargai oleh pasangan.
- Stres meningkat dan kesehatan menurun.
- Ada keinginan untuk bercerai.
Cara Menghadapi Silent Treatment
Bagaimana cara merespons silent treatment bergantung pada apakah pasangan melakukan kekerasan atau tidak. Jika silent treatment tampak sebagai bentuk hukuman atau kontrol, ini yang bisa Anda coba untuk lakukan:
- Pilih waktu: Pilih waktu yang tepat untuk bicara, seperti di waktu santai, bukan saat makan, baru pulang kerja, atau di ruang publik yang sangat ramai.
- Nyatakan sikapnya: Jika terlihat dengan jelas pasangan tidak merespon Anda, katakan saja, “Saya perhatikan kamu tidak menanggapi saya.”
- Akui perasaannya: Turunkan ego Anda dan validasi perasaannya dengan mengatakan, “Saya tahu kamu kesal dengan saya,” atau “Saya tahu saya sudah bikin kamu kesal.”
- Ajukan pertanyaan: Coba ajukan pertanyaan yang menunjukkan kesediaan untuk mendengarkan dan menyelesaikan masalah. Misalnya, “Itu karena saya peduli sama kamu dan mau masalah ini selesai. Bisakah kita bicara?” atau “Saya berusaha ingin memahami kamu. Apa kamu mau kasih tahu aku apa yang bikin kamu kesal?”
- Jika pasangan merespons: Coba untuk terus mendengarkan apa yang dikatakannya tanpa bersikap defensif agar tidak memperburuk situasi.
Bagaimana Jika Anda Pelaku Silent Treatment?
Pasti ada alasan mengapa Anda memilih untuk diam. Misalnya karena kesal atau menghindari konflik yang lebih buruk. Alih-alih diam, coba cara lain untuk menangani perasaan negatif yang muncul dalam hubungan Anda dengan pasangan. Seperti berikut ini:
- Rencanakan apa yang akan dikatakan: Ini sangat membantu agar perkataan dan sikap Anda tidak keluar jalur saat berbicara dengan pasangan.
- Gunakan kata ganti “Saya”: Kata ganti “Saya” membantu pasangan menggambarkan perasaan Anda tanpa menuduh.
- Waktu jeda: Minta waktu jeda untuk membahas masalah tersebut nanti setelah perasaan Anda lebih jernih.
Pada beberapa kasus, diam memang bisa menjadi hal yang positif. Terutama jika diam itu bertujuan untuk mencegah Anda berkata-kata buruk yang dapat menyakiti pasangan dan akan Anda sesali kemudian.
Namun diam untuk menghindari masalah, mengakui kesalahan, menghindari tanggung jawab, atau menyakiti pasangan, ada baiknya tidak dilakukan, ya, MamPap.










and then