Saat hamil Mam jadi sering lupa? Tenang, itu normal dan ternyata ada penjelasan medisnya. Kondisi ini disebut ‘momnesia’, ‘mommy/mom brain’, atau juga ‘pregnancy brain’. Berikut ini penjelasan penyebab momnesia pada ibu.
Istilah Momnesia, Mom Brain, dan Pregnancy Brain
Banyak ibu hamil yang bercerita kalau daya ingat, fokus, dan fungsi kognitifnya semakin menurun selama kehamilan jika dibandingkan sebelum hamil. Baby Center menulis, hal ini normal dan memang dialami oleh 81 persen wanita hamil –umumnya penurunan tersebut menjadi lebih buruk lagi di trimester akhir.
Kondisi ini dikenal dengan istilah ‘pregnancy brain’ –ada juga yang menyebutnya ‘momnesia’ atau mommy brain– di mana ibu hamil mengalami kesulitan kognitif dan brain fog (kabut otak) yang gejalanya meliputi:
- Daya ingat menurun atau mudah lupa
- Konsentrasi atau fokus memburuk
- Linglung
- Merasa canggung
- Disorientasi
- Kesulitan membaca
- Kesulitan mengingat kata dan nama
- Fungsi kognitif menurun, seperti sulit melakukan pengorganisasian tugas, mengingat detail, mengatur waktu, hingga memecahkan masalah.
Awalnya, penyebab brain fog selama kehamilan tersebut memang belum jelas. Saat itu, ada beberapa teori yang dijadikan sebagai penyebab sementara. Di antaranyai:
- Hormon. Selama hamil, semua hormon dalam tubuh ibu fluktuatif. Gelombang hormon tersebut memicu perubahan fisiologis yang signifikan, dan kemungkinan juga mempengaruhi otak dan daya ingat.
- Sulit tidur. Masalah insomnia yang kerap melanda sebagian ibu hamil terbukti berdampak pada fungsi kognitif dan daya ingatnya.
- Stres dan cemas. Secara intuitif, menjadi ibu meningkatkan rasa bahagia sekaligus cemas yang kemudian mengganggu kemampuan dalam berkonsentrasi dan mengingat berbagai hal.
- Perubahan struktur otak. Seperti yang sudah dibuktikan oleh beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa otak ibu mengecil (perubahan struktur) selama kehamilan.
Ini Penyebab Momnesia

Tampaknya, poin nomor 4-lah yang menjadi penyebab momnesia atau ibu mengalami brain fog selama kehamilan. Ada banyak penelitian yang sudah membuktikannya. Salah satunya penelitian yang dilakukan para ahli saraf kognitif dari University of California sekitar di tahun 2019.
Saat itu yang menjadi objek penelitiannya adalah Elizabeth Chrastil (44). Chrastil yang juga ahli saraf di universitas tersebut adalah seorang ibu baru yang hamil melalui program IVF (in vitro fertilization) dan melahirkan bayi laki-laki (kini berusia 4,5 tahun) – saat itu usia Chrastil 38 tahun.
Melansir Reuters, para peneliti melakukan pemindaian otak untuk memetakan perubahan yang terjadi selama kurang dari 3 tahun. Pemindaian otak dilakukan sebanyak 26 kali, dimulai 3 minggu sebelum pembuahan (4 pemindaian), 9 bulan kehamilan (15 pemindaian), hingga 2 tahun pascapersalinan (7 pemindaian).
Dalam jurnal Nature Neuroscience, Ahli Saraf Emily Goard Jacobs, penulis senior penelitian tersebut, menuliskan kesimpulan dari hasil pemindaian mereka. Yakni sebagai berikut:
- Terjadi penurunan luas volume materi abu-abu kortikal (4% dari 80% wilayah otak yang diteliti), yakni area keriput yang membentuk lapisan terluar otak. Materi abu-abu terdiri dari badan sel saraf otak.
- Kedua, terjadi peningkatan sekitar 10% pada integritas mikrostruktur materi putih yang terletak lebih dalam di otak. Materi putih terdiri dari berkas akson (serat panjang dan tipis), sel saraf yang mengirimkan sinyal dalam koneksi jarak jauh melintasi otak. Peningkatan mencapai puncaknya di akhir trimester kedua dan awal trimester ketiga, setelah itu kembali ke status sebelum kehamilan pascapersalinan.
Kedua perubahan tersebut dipengaruhi oleh peningkatan kadar hormon estradiol dan progesteron.
Ini yang dikatakan Laura Pritschet, peneliti pascadoktoral dan penulis utama studi dari University of Pennsylvania, melansir New York Times:
“Perubahan ini dapat mengindikasikan penyempurnaan sirkuit otak, mirip dengan apa yang terjadi pada semua orang dewasa muda saat mereka bertransisi melalui masa pubertas –otak menjadi lebih terspesialisasi. Perubahan itu juga terjadi sebagai respons terhadap tuntutan fisiologis yang tinggi dari kehamilan itu sendiri,”
Ditambahkannya lagi, hal ini kemungkinan terjadi sebagai penyempurnaan konektivitas ibu dan si bayi yang bermanfaat selama pengasuhan.
Cara Mengatasi Momnesia
“Kok, rasanya saya makin bego ya pas hamil?” Mungkin ini yang Mam rasakan selama hamil atau pascapersalinan. Nah, sekarang Mam sudah tahu kan penyebabnya?
Menurut Baby Center, kondisi brain fog ini bisa berlangsung hingga enam tahun setelah melahirkan, Mam. Tapi tenang, Mam tidak akan menjadi ‘bego’ selama itu. Mam bisa secerdas dan secakap sebelumnya dengan melakukan beberapa strategi mengatasi momnesia berikut ini:
- Membuat kalender harian, bisa menggunakan aplikasi kalender di ponsel atau buku agenda kecil.
- Tempatkan benda-benda penting di tempat khusus dan sama untuk memudahkan Mam mencarinya.
- Buat alarm dan notifikasi sebagai pengingat.
- Foto lokasi jika Mam memarkir mobil di tempat yang luas atau ramai. Ini juga berlaku catatan visual yang penting, seperti slide di rapat, brosur acara, kartu nama, atau lainnya.
- Selalu mengusahakan tidur cukup untuk membantu menyegarkan ingatan dan membuat Mam tetap waspada secara mental.
- Teratur berolahraga (konsultasikan dengan dokter olahraga apa yang tepat) untuk membantu mempertajam ingatan dan tidur lebih nyenyak di malam hari.
- Minta bantuan pasangan, keluarga, ART atau teman untuk membantu Mam mengerjakan tugas, urusan lain, dan/atau mengasuh anak. Semakin ringan beban Anda, semakin sedikit stres yang akan dihadapi.
- Simpan energi hanya untuk hal-hal yang penting, menghindari ghibah dan tidak mengurusi hal-hal yang bukan urusan Anda.
Jadi, lupa-lupa sedikit selama kehamilan itu normal ya, Mam. Tapi jika selama hamil Mam terus kesulitan berpikir dan fokus, bahkan sedih sepanjang hari dan kehilangan minat pada hal-hal yang biasanya disukai, kemungkinan Mam mengalami depresi kehamilan.
Segeralah konsultasikan kondisi Mam dengan dokter kandungan untuk mendapatkan solusinya.










and then