Pernahkah MamPap merasakan ada benjolan kecil di leher yang terasa mengganjal saat menelan? Bisa jadi itu nodul tiroid, benjolan yang tumbuh pada kelenjar tiroid. Kelenjar kecil berbentuk kupu-kupu yang terletak di bagian depan leher. Meski ukurannya mungil, tiroid punya peran besar dalam mengatur metabolisme tubuh, detak jantung, suhu tubuh, hingga energi yang kita gunakan sehari-hari.
Ketika jaringan di dalam kelenjar ini tumbuh berlebih, bisa terbentuklah nodul atau benjolan. Sebagian besar nodul tiroid bersifat jinak dan tidak berbahaya, namun bukan berarti bisa diabaikan begitu saja. Jika ukurannya membesar, benjolan ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, gangguan menelan, perubahan suara, atau bahkan memengaruhi penampilan.
“Sebagian besar nodul tiroid memang jinak, tapi bila ukurannya besar atau menimbulkan keluhan, tentu perlu diperhatikan dan ditangani,” jelas dr. Andi Kurniawan, Sp.THT-KL, dokter spesialis THT di RS Pondok Indah – Puri Indah. “Pasien biasanya datang karena mulai merasa tidak nyaman atau melihat adanya tonjolan di leher yang semakin jelas.”
Nodul tiroid bisa disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari pertumbuhan jaringan tiroid berlebih (adenoma), kista berisi cairan, hingga gondok multinodular akibat kekurangan yodium. Meski jarang, sebagian nodul juga bisa menandakan kondisi yang lebih serius, seperti kanker tiroid. Karena itu, pemeriksaan medis tetap penting untuk memastikan penyebabnya.
Ketika Benjolan di Leher Tak Lagi Sekadar Gangguan Ringan
Begitu tahu ada benjolan di leher, sebagian orang kerap kali merasa khawatir dan langsung membayangkan operasi besar dengan sayatan panjang di leher. Padahal, tidak semua kasus membutuhkan pembedahan. Bagi pasien dengan nodul tiroid jinak yang menimbulkan keluhan, kini ada solusi modern yang lebih ringan dan minim risiko, yaitu Radiofrequency Ablation (RFA).
RFA merupakan prosedur minimal invasive atau tanpa sayatan, yang bekerja dengan menggunakan gelombang radiofrekuensi untuk menghasilkan panas dan menghancurkan jaringan nodul secara selektif. Dengan panduan ultrasonografi (USG), dokter akan memasukkan elektroda tipis ke dalam nodul, lalu memanaskannya perlahan hingga suhu 60–100°C.
“Prinsipnya sederhana: bagian nodul yang bermasalah dipanaskan sampai menyusut, sementara jaringan tiroid yang sehat tetap dipertahankan. Jadi fungsi tiroid tidak terganggu,” ujar dr. Andi.
Prosedur ini dilakukan dengan anestesi lokal dan biasanya memakan waktu sekitar 30 hingga 60 menit. Pasien tidak perlu rawat inap, dan dalam satu hingga dua hari sudah bisa kembali beraktivitas. Dalam beberapa minggu, ukuran benjolan mulai mengecil, dan hasil maksimal biasanya terlihat dalam tiga hingga enam bulan — dengan pengurangan volume hingga 80 persen.
Solusi untuk Pasien yang Ingin Menghindari Operasi
RFA direkomendasikan bagi pasien dengan nodul tiroid jinak yang sudah dikonfirmasi melalui pemeriksaan biopsi (Fine Needle Aspiration Biopsy/FNAB). Selain itu, prosedur ini juga efektif untuk menangani toxic adenoma, yaitu nodul yang aktif menghasilkan hormon dan menyebabkan gejala hipertiroid ringan hingga sedang.
“Bagi pasien yang secara medis tidak memungkinkan untuk menjalani operasi, atau merasa khawatir dengan risiko pembedahan, RFA menjadi alternatif yang sangat aman dan efektif,” jelas dr. Andi. “Prosedur ini juga bisa diulang bila suatu saat nodul tumbuh kembali, tanpa risiko jaringan parut seperti pada operasi.”
Keunggulan lain dari RFA adalah hasil estetik yang lebih baik. Tidak ada luka sayatan di leher, tidak ada bekas, dan masa pemulihannya sangat singkat. Hal ini menjadi nilai tambah, terutama bagi perempuan aktif yang ingin tetap percaya diri tanpa harus melewati proses penyembuhan panjang.
Apakah Semua Kasus Nodul Tiroid Bisa Diatasi dengan RFA Tiroid?

Menurut dr. Andi, RFA direkomendasikan bagi pasien yang memiliki nodul tiroid jinak yang sudah dikonfirmasi melalui pemeriksaan biopsi (Fine Needle Aspiration Biopsy/FNAB). Prosedur ini juga dapat menjadi alternatif bagi pasien dengan toxic adenoma, yaitu nodul yang aktif secara hormonal dan menyebabkan gejala hipertiroid ringan hingga sedang.
“RFA sangat membantu pasien yang tidak memungkinkan untuk menjalani operasi, misalnya karena kondisi medis tertentu, usia lanjut, atau kekhawatiran terhadap risiko anestesi umum. Prosedur ini aman, efektif, dan bisa diulang bila nodul tumbuh kembali,” tambahnya.
Keunggulan lain dari RFA adalah hasil estetik yang jauh lebih baik dibandingkan operasi. Tidak ada luka sayatan di leher, tidak ada bekas, dan tidak ada waktu pemulihan panjang yang bisa mengganggu rutinitas. Bagi perempuan aktif yang ingin tetap tampil percaya diri, hal ini tentu menjadi nilai tambah yang besar.
Sebelum tindakan dilakukan, pasien akan menjalani pemeriksaan USG dan FNAB untuk memastikan bahwa nodul bersifat jinak. Prosedur dilakukan dalam kondisi steril dengan panduan USG real-time menggunakan teknik moving-shot, di mana elektroda digerakkan perlahan agar panas menyebar merata ke seluruh jaringan nodul.
Setelah tindakan, pasien cukup beristirahat singkat sebelum diperbolehkan pulang. Sebagian besar melaporkan perbaikan gejala cukup cepat, terutama pada rasa tidak nyaman di leher dan perubahan suara. “Yang paling sering kami dengar dari pasien adalah rasa lega karena bisa pulih cepat tanpa operasi besar,” ujar dr. Andi. “Mereka bisa langsung kembali bekerja atau beraktivitas bersama keluarga.”
Selain hasil klinis yang baik, kepuasan pasien juga tinggi. Karena hanya jaringan nodul yang dihancurkan, fungsi tiroid tetap terjaga. Pasien tidak memerlukan terapi hormon tambahan seperti pada operasi pengangkatan kelenjar tiroid total, dan risiko komplikasinya pun sangat rendah.
RFA tiroid menjadi bukti bagaimana teknologi medis modern kini semakin berpihak pada pasien. Prosedur ini menghadirkan cara baru untuk mengatasi nodul tiroid jinak tanpa sayatan, tanpa rasa sakit berkepanjangan, dan tanpa mengorbankan kualitas hidup.
“Tujuan kami bukan hanya mengobati penyakit, tapi membantu pasien menjalani hidupnya dengan lebih baik,” tutup dr. Andi.
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.









and then