Beberapa hari ini linimasa media sosial kita dipenuhi oleh kabar pilu tentang Timothy Anugerah Saputra, mahasiswa Universitas Udayana yang ditemukan meninggal dunia, diduga mengakhiri hidupnya sendiri. Kabar duka ini cepat menyebar dan menyorot perhatian publik. Terlebih lagi dengan adanya fakta dan bukti yang memperlihatkan potongan percakapan para pelaku perundungan.
Ya, bukannya empati, Timothy bahkan tetap mendapat perundungan setelah ‘kepergiannya’. Ada yang mengolok, ada yang meremehkan, dan ada yang menertawakan tanpa tahu bahwa ejekan itu menumpuk menjadi beban yang begitu berat.
Apa yang terjadi pada Timothy tentu saja menyisakan duka mendalam sekaligus tamparan keras. Bukan hanya bagi dunia pendidikan, tapi bagi kita semua, tak terkecuali para orang tua. Peristiwa ini bukan sekadar kisah tentang seorang mahasiswa korban perundungan, melainkan cermin besar yang menyorot wajah kita sebagai masyarakat.
Sudahkah kita cukup peka terhadap tanda-tanda kesedihan atau depresi yang dirasakan oleh orang terdekat kita? Apakah lingkungan pendidikan anak sudah aman? Sudahkah kita membesarkan anak-anak yang tidak hanya cerdas, tapi juga penuh kasih, memilki hati dan empati terhadap orang lain?
“Peristiwa ini memang bisa jadi wake up call untuk kita, para orang tua. Bagaimana orang tua atau orang dewasa sebenarnya belum cukup membekali anak-anaknya dengan kemampuan sosialisasi dan emosi yang baik untuk bisa terjung langsung ke masyarakat,” ujar Nadya Pramesrani, selaku Psikolog Klinis Dewasa.
Menurut Nadya Pramesrani, penyebab seseorang menjadi pelaku perundungan bisa dikarenakan multi faktor, salah satunya efek anak-anak yang terlalu lekat dengan gadget. “Ingat nggak, beberapa waktu lalu ada pesan sosial tentang jangan gantikan peran orang tua dengan gadget? Ini bisa jadi pengingat bahwa anak-anak butuh kehadiran orang tuanya. Anak yang sudah memasuki usia dewasa muda, meski sudah dianggap besar tapi bimbingan juga masih butuh kok. Jangan cuma dilepas googling atau ngobrol dengan Chatgpt aja. Tapi jadi teman diskusi anak supaya nilai-nilai sosial, keluarga, moral, agama juga tetap ada.”
Empati Merupakan Skill yang Perlu Dilatih

Melihat sikap atau perilaku pelaku perundungan, mungkin akan timbul pertanyaan, “Mengapa mereka seakan tidak punya hati, tidak peka, dan tidak memiliki empati?”
Dalam hal ini Nadya menjelaskan saat seseorang memasuki usia dewasa muda (awal hingga pertengahan 20-an), koneksi antara pusat emosi dan pusat kontrol di otak mulai matang. Inilah yang membuat individu dewasa muda mulai bisa menyeimbangkan antara perasaan dan pertimbangannya.
“Dibandingkan anak remaja, anak yang sudah masuk usia dewasa muda empatinya sebenarnya sudah lebih matang, bukan hanya merasakan emosi orang lain, tetapi juga memahami konteksnya dan merespons dengan cara yang lebih bijak. Masalahnya yang perlu disoroti, meski otaknya lebih matang tetapi kalau selama ini tidak ada atau minim input yang mereka bisa olah, tentu jadinya tidak ada output kan?”
Hal senada pun ditegaskan Irma Gustiana Andriani, selaku Psikolog Klinis Anak, Remaja & Keluarga, ia menegaskan bahwa empati merupakan sebuah skill yang harus diajarkan pada anak sedini mungkin. “Ini berhubungan erat dengan kedewasaan dan kematangan secara emosional, dan bagaimana kita bisa berinteraksi secara sosial. Termasuk bagaimana kita bisa memaknai kehidupan.”
Psikolog yang kerap disapa dengan panggilan Ayank Irma ini juga menekankan agar sejak dini orang tua terus mengusahakan untuk memulai berdiskusi dan bertanya soal perasaan anak setiap harinya. Dari sini bisa diartinya bahwa orangtua punya peran besar menanamkan rasa empati pada diri anak. Selain itu, empati sejatinya muncul bukan hanya dari struktur otak, tapi juga dari pengalaman hidup dan pembelajaran sosial.
Saatnya Merangkul, Cegah Anak Menjadi Pelaku Perundungan
Sebagai orang tua, kita tak bisa mengubah masa lalu, tapi kita bisa mengubah cara kita hadir hari ini. Mungkin mulai dari langkah kecil, menatap mata anak kita lebih lama saat berbicara, bertanya dengan tulus bagaimana harinya, atau memeluk tanpa alasan. Karena kadang, hal sederhana itu bisa menyelamatkan seseorang yang hampir menyerah. Termasuk mencegah anak menjadi pelaku perundungan.
“Meskipun kejadian seperti ini bukan kesalahan orang tua saja, karena banyak pihak juga yang terlibat. Tapi Ini jadi alarm buat kita semua. Iya, anak-anak kita mungkin sudah besar, tapi guidance tetap saja mereka butuhkan loh. Yuk, rangkul anak-anak kita lagi, mereka yang sudah memasuki usia dewasa muda ini,” tukas Nadya.

Tidak ada kata terlambat untuk membangun komunikasi yang sehat dengan anak, termasuk yang sudah memasuki usia dewasa muda. Kuncinya lakukan tanpa perintah atau tekanan, melainkan dengan rasa aman dan penerimaan.
Seperti yang dituturkan Ayank Irma, “Tidak ada kata terlambat untuk memulai. Jangan lupa apresiasi apa yang sudah dilakukan anak, usahakan untuk mendengarkan tanpa menghakimi dan yang paling penting berusaha berikan penguatan jika anak dalam kondisi yang tidak aman. Jika kebiasan ini dilakukan terus menerus dan berkelanjutkan dapat membantu anak belajar memaknai hidup dan berempati terhadap orang lain.”
Anak akan mau terbuka jika mereka merasa didengar tanpa dihakimi. Itu sebabnya, penting bagi orang tua untuk memulai percakapan dengan niat memahami, bukan menasihati. Alih-alih langsung memberi solusi, cobalah untuk membuka ruang diskusi.
Contoh Pertanyaan yang Bisa Didiskusikan Bersama Anak
Membuka ruang diskusi dengan anak yang sudah memasuki usia remaja terlebih lagdewasa muda memang tidak tidak mudah. Meski demikian, ada beberapa pertanyaan yang bisa diajukan untuk mengawali ruang diskusi, seperti yang dicontohkan Nadya Pramesrani.
Apa saja?
- Apa yang kamu rasakan saat membaca berita soal ini?
- Bagaimana menurut kami tentang respon teman si anak yang melakukan bundir ini?
- Menurutmu, kita sebagai teman sebaiknya bagaimana merespon?
- Pernah nggak mengalami kondisi serupa? Mungkin ada teman kamu juga uang sedang kelihatan struggling? Bagaimana cara kamu merespon dan membantunya?
- Pernah nggak kamu yang justru ngerasa struggling? Mama dan papa terbuka menjadi tempat kamu cerita, ya. Tapi mungkin tanpa disadari ada hal-hal yang bikin kamu nggak nyaman cerita ke kami. Let me know biar nyaman cerita butuh mama dan papa ngapain ya.
“Cobalah untuk memulai ngobrol tentang empati, dan bagaimana merespon orang-orang sekitar yang sedang kesulitan secara internal. Jangan di-judge, langsung bilang, ‘Ih, kan mustinya kamu…’,”
Selain itu, Nadya mengingatkan hal yang penting untuk dilakukan adalah membuat momen komunikasi yang tidak formal. Kadang anak lebih mudah bercerita saat sedang makan bareng, atau di saat menjelang tidur.
Yang juga perlu diingat, diskusi bukan berarti harus selalu sependapat. Orang tua bisa berbeda pandangan, tapi tetap menunjukkan rasa hormat pada opini anak. Saat kita mau mendengarkan, anak tentu juga akan belajar bahwa tidak apa jika beda pendapat. Justru dari sanalah anak akan merasa didengarkan, tumbuh rasa percaya, dan memahami bahwa rumah adalah tempat di mana mereka bisa berbicara apa pun, tanpa takut disalahkan.
Hai, salam kenal 🤗, panggil saya Adis. ‘Terlahir’ jadi ibu, menjadi sadar kalau menjadi orang tua merupakan tugas seumur hidup. Meski banyak tantangan, semua tentu bisa dijalani jika ada dukungan dari lingkungan sekitar. #MamaSquads










and then