Sanofi Berdayakan dan Tingkatkan Kompetansi Apoteker Lewat PharmAcademy

PharmAcademy berdayakan apoteker di seluruh Indonesia. Ini merupakan salah satu tujuan utama perushaan farmasi multinasional Sanofi Indonesia berkolaborasi dengan perusahaan jaringan apotek terbesar di Asia, SwipeRx untuk membuat platform PharmAcademy.

***

MamPap, pernah tidak merasa bingung memberikan obat yang tepat saat si Kecil atau anggota keluarga sedang sakit? Sementara kondisinya belum bisa kontrol langsung dengan dokter? Atau, MamPap masih bertanya-tanya terkait penggunaan obat? Jika sedang berada di posisi ini, bertanya pada apoteker merupakan pilihan yang tepat.

Ya, tidak hanya dengan dokter, saat memerlukan obat MamPap juga bisa melakukan konsultasi dengan opoteker. Jika selama ini yang kita pahami tugas apoteker sebatas meracik obat, nyatanya anggapan ini tidak tepat. Setidaknya hal ini ditegaskan Lusy Noviani Pakar farmasi sekaligus Kepala Apotek Atma Jaya.

Bacaan Lainnya

PharmAcademy Berdayakan Apoteker

Dalam acara talkshow PharmAcademy yang digagas Sanofi Indonesia di acara  acara perhelatan Indonesian Pharmacy Expo and Conference (IPEC) 2024, ia mengatakan bahwa apoteker sebenarnya juga berperan sebagai penasihat kesehatan terpercaya untuk membimbing pasien menuju diagnosis yang lebih akurat sehingga pengobatan menjadi lebih tepat.

PharmAcademy Berdayakan Apoteker

Menurutnya, apoteker bisa bertindak sebagai penasihat kesehatan terpercaya untuk membimbing masyarakat menuju diagnosis yang lebih akurat serta pengobatan yang lebih tepat. Oleh karena itu, apoteker perlu memiliki kemampuan untuk mengedukasi tentang tindakan preventif, ataupun pengelolaan kondisi kesehatan. 

Sementara, Dr. apt. Drs. Muhamad Yamin, M.Farm, Ketua PD IAI DKI mengatakan bahwa opoteker berperan sebagai garda terdepan dalam menjaga mutu obat dan memastikan obat diterima masyarakat dengan aman, kualitas apoteker harus terus diasah lewat pengayaan berkelanjutan,” kata Yamin.

Sayangnya, saat ini jumlah apoteker masih terbatas. Di tahun 2023 kemarin, data Kementerian Kesehatan memperlihatkan jumlah apoteker di Indonesia baru mencapai 130.643 orang.  Artinya, 1 apoteker menangani 2.134 penduduk. Padahal, menurut Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), rasio idealnya adalah 0,8 s.d. 1 apoteker per 1.000 penduduk.  

Atas dasar inilah, sejak satu tahun lalu, perusahaan farmasi multinasional Sanofi Indonesia berkolaborasi dengan perusahaan jaringan apotek terbesar di Asia, SwipeRx untuk membuat platform PharmAcademy.

Sanofi menggagas pembuatan platform PharmAcademy yang berkolaborasi dengan SwipeRx. Lewat platform telah ini sudah berhasil memberdayakan 2.750 apoteker di Indonesia. Tidak hanya itu, melalui PharmAcademy, komunitas farmasi juga mendapatkan kemudahan akses terhadap modul pengetahuan dan keterampilan guna meningkatkan kompetensi.

Dengan adanya platform memberikan kemudahan buat apoteker untuk mengakses pendidikan dan pelatihan tentang berbagai aspek kefarmasian, termasuk manajemen penyakit, manajemen terapi obat, dan konseling pasien.

PharmAcademy Berdayakan Apoteker

Modul pengetahuan dan keterampilan yang disajikan PharmAcademy disusun terstruktur di bawah arahan dari asosiasi profesi guna memastikan para apoteker menerima materi secara terukur. Bahkan, PharmAcademy memungkinkan apoteker mendapatkan poin Pengembangan Profesional Berkelanjutan (CPD) untuk mendorong kemajuan karier.

Dengan adanya kemajuan teknologi seperti ini harapannya bisa berdampak besar pada percepatan peningkatan kompetensi apoteker. Sebab, selama ini sebagian besar apoteker kesulitan mengakses informasi, produk, tools, dan pelatihan yang diperlukan untuk memberikan layanan berkualitas.

Di acara yang sama, Head of Sanofi CHC ASEA, Maria Valentina (Matina) Sposito, mengatakan bahwa PharmAcademy merupakan komitmen Sanofi untuk memberdayakan apoteker menjadi konsultan kesehatan terpercaya di Indonesia.

“Setelah setahun hadir, kami berharap PharmAcademy dapat menjangkau semakin banyak apoteker, serta mampu memfasilitasi penguatan kualitas mereka, sehingga apoteker semakin berdaya mendampingi masyarakat guna memenuhi kebutuhan kesehatan yang terus berkembang di Indonesia,” jelas Maria Valentina (Matina) Sposito, Head of Sanofi CHC ASEA. 

Farouk Meralli, CEO SwipeRx melihat pendekatan inovatif PharmAcademy dan SwipeRx memberikan kemudahan bagi apoteker dalam pengembangan kompetensinya. Artinya apoteker yang berada di area terpencil juga bisa mudah mendapatkan akses. 

Sebagai pionir, PharmAcademy menggunakan teknologi SwipeRx untuk menjembatani para apoteker dalam memenuhi kebutuhan untuk terus berdaya dan meningkatkan kompetensinya. Masyarakat pun dapat terbantu untuk mendapatkan informasi khususnya terkait dengan obat-obatan. 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× 4 = sixteen