Bahaya Doomscrolling, Scroll Ponsel Seharian Tanpa Tujuan

bahaya doomscrolling
Foto: Prostock-studio

Terus-menerus mengonsumsi berita yang ‘mengganggu’ dapat berdampak buruk pada kesehatan Anda, terutama kesehatan otak. Pelajari cara penggunaan ponsel yang benar dan cara menjauhkan diri dari kebiasaan dan bahaya doomscrolling berikut ini.

Yang Dimaksud Doomscrolling

Apa hal pertama yang biasanya Anda lakukan sesaat setelah bangun pagi? Jika Anda meraih  telepon seluler (ponsel) dan menggulir berita demi berita terutama yang memberitakan kabar buruk hingga seharian penuh, itu pertanda Anda sedang melakukan doomscrolling

Banyak memang orang yang melakukan kebiasaan ini, dan ini artinya Anda tidak sendirian. Dan dorongan untuk mencari tahu kabar buruk ini juga terbilang wajar. 

Bayangkan saja, orang waras manalah yang tidak ingin mengetahui apa yang sedang terjadi di luar sana, entah itu soal perang yang terus berkecamuk di negara-negara Timur Tengah, penembakan di sekolah di AS, banjir bandang di Bali, atau presiden terpilih di Korea Selatan. Kebutuhan akan keingintahuan masyarakat itu pulalah yang membuat media massa menyajikannya. Tak heran jika setiap harinya linimasa media sosial (medsos) dipenuhi dengan informasi-informasi seperti itu. 

Read More

Mungkin ada dari Anda yang tidak peduli, tapi ada juga yang ‘memindainya’ dengan lahap, terus-menerus, setiap hari tanpa henti. 

Fenomena doomscrolling menjadi populer selama masa pandemi Covid beberapa waktu lalu. Saat itu orang-orang berusaha mencari tahu dan melacak korban-korban COVID terbaru. Kemudian masa pandemi berakhir, tapi tidak dengan masalah sosial, politik, dan ekonomi. Kebiasaan ‘mencari tahu’ inilah yang diteruskan masyarakat, hingga fenomena doomscrolling terus berlanjut hingga sekarang. 

Dikatakan oleh para ahli Harvard pada lamannya, kebiasaan doomscrolling ini kemudian timbul menjadi ancaman baru yang berbahaya bagi pikiran dan tubuh manusia.

Di sisi lain, media juga semakin menjadi-jadi dalam membuat beritanya. Mereka cenderung menampilkan informasi buruk sebagai headline agar masyarakat semakin tertarik untuk membacanya. Hingga ada pepatah yang mengatakan: “If it bleeds, it leads”, yang artinya “(harus) berdarah-darah, (agar) jadi berita utama”.

“Ini bagaikan serangan bertubi-tubi. Otak dan tubuh kita dirancang khusus untuk menangani stres sesaat. Namun selama beberapa tahun terakhir, stres itu seolah tak kunjung berakhir. Doomscrolling adalah respons kita terhadap hal itu,” kata Dr. Aditi Nerurkar, dosen di Divisi Kesehatan Global dan Kedokteran Sosial di Harvard Medical School. 

“Kita tidak (lagi) menerima pesan tentang harapan, semuanya negatif,” kata Profesor Psikiatri Harvard Medical School Dr. Richard Mollica.

Perempuan yang Paling Rentan dengan Doomscrolling

Kalau ditanya siapa yang rentan melakukan doomscrolling, jawabannya semua orang. Lebih tepatnya, menurut Dr. Nerurkar, orang-orang yang memiliki gawai.

Hal ini sangat bisa dijelaskan secara medis. Kata Dr Nerurkar, perilaku doomscrolling berakar pada sistem limbik otak –sering disebut sebagai otak kadal atau reptil– yang didominasi oleh struktur yang disebut amigdala. 

Saat otak merasa stres, stres itu mendorong pertahanan diri dan mendorong respons melawan atau lari dari bahaya. Dalam hal ini otak manusia terdorong untuk mencari-cari ancaman lainnya.

“Stres memicu keinginan utama kita untuk menggulir (scrolling),” terang Dr Nerurkar. “Kita menjadi sangat waspada dan memindai bahaya. Semakin sering kita menggulir, semakin kita merasa perlu,” tambahnya lagi.

Namun, dari semua kelompok manusia, ada dua kelompok yang sangat rentan dengan doomscrolling, yaitu perempuan dan orang-orang dengan riwayat trauma. 

Dr. Mollica menjelaskan alasannya, karena sebagian besar media kekerasan bercerita tentang menyakiti perempuan dan anak-anak. Sementara di sisi lain, orang-orang yang pernah mengalami kekerasan justru melakukan doomscrolling karena takut. 

“Mereka tidak merasa aman di dunia dan ingin memahami apa yang sedang terjadi agar dapat meredakan kecemasan mereka. Namun, pada orang-orang yang sama ini, doomscrolling justru menjadi pemicu,” kata Direktur Program Harvard untuk Trauma Pengungsi di Rumah Sakit Umum Massachusetts itu lagi.

Bahaya Doomscrolling Bagi Fisik dan Mental

bahaya doomscrolling, apa itu doomscrolling
Foto: Syda Productions

 

1. Dampak Fisik

Anda mungkin pernah membaca berita buruk hingga membuat perut terasa mual. Menurut para ahli Harvard, dampak fisik dari doomscrolling itu tidak sekadar mual. Melainkan bisa berupa sakit kepala, ketegangan otot, nyeri leher dan bahu, nafsu makan menurun, sulit tidur, hingga tekanan darah tinggi.

“Ketika seseorang melakukan doomscrolling berjam-jam, mereka juga tidak banyak bergerak dalam waktu lama,” catat Dr. Nerurkar. Sehingga, efek riaknya bisa sangat luas dan bermasalah.

Pada tataran praktis, Dr. Nerurkar mengatakan, doomscrolling dapat memicu popcorn brain (otak popcorn). 

Sang pelopor istilah, ilmuwan komputer University of Washington David M. Levy, Ph.D., menggambarkan popcorn brain pada laman Mayo Clinic sebagai kondisi di mana seseorang “begitu kecanduan dengan multitasking elektronik sehingga kehidupan luring yang lebih lambat terasa membosankan.” 

“Ini adalah fenomena biologis nyata, yaitu merasa otak berdetak kencang karena terlalu terstimulasi daring. Kemudian, sulit untuk terlibat dengan dunia nyata, yang bergerak dengan kecepatan jauh lebih lambat.”

2. Dampak Mental

Pascapandemi, para peneliti meneliti dampak doomscrolling terhadap kesehatan mental secara lebih lanjut. Salah satunya tinjauan penelitian yang dilakukan April 2023 dan diterbitkan Applied Research in Quality of Life. Penelitian tersebut menganalisis tiga studi terpisah yang melibatkan sekitar 1.200 orang dewasa yang menunjukkan keterkaitan doomscrolling dengan kepuasan hidup dan kesejahteraan mental yang lebih buruk.

Sebuah studi lain juga dilakukan pada Agustus 2024 terhadap 800 orang dewasa, dan hasil analisisnya diterbitkan di Computers in Human Behavior Reports. Dari penelitian ini ada temuan kuat yang menunjukkan bahwa doomscrolling dapat membangkitkan tingkat kecemasan eksistensial yang lebih tinggi –perasaan takut/panik yang muncul saat seseorang menghadapi keterbatasan keberadaannya. 

Studi lainnya lagi pada April 2024 yang diterbitkan di Computers in Human Behavior memberikan perspektif tambahan. Di mana ditunjukkan bahwa karyawan yang memiliki kebiasaan doomscrolling cenderung kurang terlibat dengan tugas profesional mereka saat bekerja.

Cara Mengatasi Doomscrolling

Ya, mengikuti dan tahu perkembangan terkini di dunia mungkin perlu dan penting bagi Anda. Tapi doomscrolling tidak memberikan Anda manfaat tambahan, malah sebaliknya. 

“Kita memang perlu tetap terinformasi, tetapi bukan dengan mengorbankan kesehatan mental kita,” kata Dr. Nerurkar. “Dan menguranginya bukan berarti pantang. Ini tentang mengurangi ketergantungan (doomscrolling).”

Salah satu strategi utama mengatasi doomscrolling adalah menciptakan “batasan digital yang dapat memberi otak dan tubuh Anda kesempatan untuk kembali ke kondisi normal,” kata Dr Nerurkar.

Ada beberapa pendekatan lainnya yang disarankan Dr. Nerurkar dan Dr. Mollica. Di antaranya:

1. Jauhkan ponsel dari nakas

Bukan berarti ponsel tidak boleh dibawa ke kamar tidur, tapi usahakan jauh dari jangkauan Anda –sulit diraih secara kompulsif saat bangun tidur. Lakukan hal sama saat ruang kerja. Letakkan ponsel di laci meja atau 3 meter atau lebih dari tempat Anda duduk selama jam kerja.

Jangan juga membawa ponsel ke meja makan. Dan saat makan, atur ponsel ke mode senyap.

2. Atur ponsel ke mode abu-abu

Batasan visual seperti ini bisa mengurangi tingkat saturasi warna di layar ponsel yang dapat membuat aktivitas menggulir ponsel menjadi kurang menarik. 

3. Hentikan notifikasi

Bunyi bip dan dering dari notifikasi. Entah itu yang berasal dari email, pesan, atau lainnya. Hal ini dapat mengalihkan perhatian dari hal yang sedang Anda kerjakan. 

“Ini tentang menetapkan kembali beberapa batasan. Apakah Anda yang menggunakan ponsel Anda, atau ponsel yang menggunakan Anda?” kata Dr. Nerurkar.

4. Fokuslah pada berita komunitas

Berita utama lokal cenderung tidak terlalu suram dan lebih membangkitkan semangat. “Tetaplah pada lingkungan tempat Anda tinggal,” kata Dr. Mollica.

5. Katakan tidak

Beri tahu orang-orang yang membagikan kisah-kisah depresif atau kekerasan bahwa Anda tidak tertarik lagi dengan berita-berita seperti itu. 

“Ini membuat Anda memegang kendali dengan Anda tidak lagi menyerahkan kekuasaan Anda kepada orang lain,” kata Dr. Mollica.

6. Fokus pada hal-hal baik

Jadilah sukarelawan di badan amal atau komunitas parenting. Atau, ikuti kegiatan yang membebaskan emosi, seperti kelas tari atau jalan-jalan di alam. 

“Anda perlu berbagi pengalaman emosional yang positif dengan orang lain,” tambah Dr. Mollica.

7. Konsultasikan dengan dokter 

Jika merasa benar-benar tidak bisa berhenti membaca berita negatif atau hal seperti itu dapat dengan cepat membuat Anda kesal, Dr. Mollica menyarankan agar Anda segera berkonsultasi dengan seorang profesional. 

“Sebagian kecil orang benar-benar membutuhkan bantuan profesional, dan tempat terbaik untuk memulai adalah dengan membicarakannya dengan dokter. Karena memang ada masalah-masalah tertentu yang sangat sulit diatasi sendiri.” 

Yuk, MamPap, mulai sekarang stop scrolling ponsel terutama untuk hal-hal yang tidak penting, terutama yang membuat kesehatan fisik dan mental Anda terganggu. 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× one = one