Kasus hantavirus kembali menjadi perhatian publik setelah muncul laporan penumpang kapal pesiar MV Hondius yang terinfeksi virus Andes, salah satu jenis hantavirus yang ditemukan di Amerika Selatan. Situasi ini memicu kekhawatiran masyarakat, terutama setelah adanya laporan korban meninggal dunia. Bagaimana penularan hantavirus?
Hantavirus Bukan Virus Baru
Menanggapi kasus hantavirus, Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menggelar media briefing untuk memberikan penjelasan mengenai hantavirus serta langkah pencegahannya.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso menekankan bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan, karena hantavirus memiliki pola penularan yang sangat berbeda dengan COVID-19 maupun influenza.
Prof DR Dr Dominicus Husada DTM&H MCTM(TP), Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI menjelaskan bahwa hantavirus sebenarnya bukan virus baru. Virus ini telah dikenal sejak lama dan umumnya ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus.
Virus tersebut dapat menyebar melalui partikel dari urine, kotoran, maupun air liur tikus yang terhirup manusia. Penularan melalui kulit yang terluka juga memungkinkan, meski lebih jarang terjadi.
“Hantavirus biasanya dibawa oleh rodents atau hewan pengerat. Yang paling sering memang tikus,” jelas Prof. Dominicus yang juga merupakan Guru Besar Bidang Ilmu PD3I Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya.
Ia menambahkan, terdapat lebih dari 40 jenis hantavirus yang telah diidentifikasi, namun hanya sekitar separuhnya yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Setiap jenis virus juga berkaitan dengan spesies tikus tertentu dan wilayah geografis tertentu.
Virus yang sedang ramai dibahas saat ini adalah virus Andes, yang banyak ditemukan di Argentina dan Chile. Berbeda dengan jenis hantavirus lain, virus Andes diketahui dapat menular antar manusia, tetapi hanya melalui kontak erat yang berlangsung lama.
Penularan Hanvirus Tidak Semudah COVID-19
Menurut Prof. Dominicus, risiko penyebaran luas seperti pandemi COVID-19 sangat kecil. “Ini bukan COVID, bukan influenza. Cara penyebarannya sangat berbeda,” katanya.
Penularan antar manusia pada virus Andes umumnya terjadi pada kontak erat, misalnya pasangan suami istri, anggota keluarga serumah, atau orang yang berada dalam satu ruangan dalam waktu lama.
Kasus di kapal MV Hondius sendiri diduga berasal dari pasangan wisatawan asal Belanda yang sebelumnya melakukan perjalanan di wilayah Amerika Selatan sebelum naik kapal pesiar tersebut. “Penularannya kemungkinan besar terjadi sebelum mereka naik kapal,” jelas Prof. Dominicus.
Ia juga menegaskan bahwa kapal pesiar tersebut tidak ditemukan tikus, karena kapal internasional memiliki standar sanitasi ketat.
Gejala Awalnya Mirip Flu
Salah satu tantangan dari hantavirus adalah gejalanya yang tidak spesifik. Gejala awal sering menyerupai flu biasa, seperti:
- Demam
- Nyeri otot
- Sakit kepala
- Tubuh lemas
- Mudah lelah
Pada beberapa kasus, kondisi dapat berkembang menjadi gangguan serius pada paru-paru atau ginjal, tergantung jenis hantavirusnya.
Jenis hantavirus di Amerika, termasuk virus Andes, lebih sering menyebabkan gangguan paru berat atau Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS), yang dapat menyebabkan sesak napas hingga gagal napas.
Sementara di Eropa dan Asia, hantavirus lebih sering memicu gangguan ginjal dan perdarahan atau Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). “Varian Amerika lebih banyak menyerang paru-paru, sedangkan di Eropa dan Asia lebih banyak menyerang ginjal,” terang Prof. Dominicus.
Kasus hantavirus pada anak memang lebih sedikit dibanding dewasa. Namun, anak dengan kondisi kesehatan tertentu tetap perlu mendapatkan perhatian khusus.
“Anak-anak dengan gangguan sistem kekebalan tubuh atau fungsi organ yang sudah terganggu tentu akan lebih cepat memberat bila terkena infeksi,” kata Prof. Dominicus.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa orang tanpa penyakit penyerta pun tetap berisiko mengalami kondisi berat.
Indonesia Pernah Menemukan Kasus Hantavirus
Prof. Dominicus juga menjelaskan bahwa Indonesia bukan negara yang benar-benar bebas hantavirus. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sejak 2015 telah ditemukan puluhan kasus hantavirus di beberapa provinsi, termasuk DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, NTT, dan Banten.
Namun, jenis virus Andes yang saat ini ramai dibicarakan belum pernah ditemukan di Indonesia. “Di Indonesia penularannya murni dari tikus. Virus Andes sampai saat ini belum ditemukan di Indonesia,” jelasnya.
Belum Ada Vaksin, Pencegahan Jadi Kunci
Hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun pengobatan khusus untuk penularan hantavirus. Karena itu, pencegahan menjadi langkah paling penting.
IDAI mengingatkan masyarakat untuk kembali menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk menjaga kebersihan lingkungan rumah dan menghindari kontak dengan tikus.
“Berbagai penyakit menular, kuncinya tetap PHBS. Rajin cuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan, sanitasi, dan memastikan makanan tidak terpapar tikus,” ujar Dr. Piprim.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah termakan kepanikan akibat informasi yang beredar di media sosial. “Jangan ikut menyebarkan kepanikan. Tetapi yang penting adalah kewaspadaan dari kita,” tegasnya.
Prof. Dominicus menambahkan bahwa langkah sederhana seperti menjaga kebersihan rumah, memakai masker saat berada di kerumunan, serta mencuci tangan tetap menjadi perlindungan yang efektif terhadap berbagai penyakit menular.
“Perilaku hidup bersih dan sehat itu murah, tetapi sangat efektif,” pungkas Dr. Piprim.
Partner terpercaya dan teman perjalanan parenting para orang tua agar bisa memberikan keamanan yang anak-anak butuhkan untuk tumbuh dan berkembang, serta mampu mewujudkan impiannya.











and then