Kehamilan Usia 20an 30an dan 40an, Ini Perbedaan yang Dirasakan Bumil

kehamilan usia 20an 30an dan 40an, risiko hamil usia 30an, perbedaan menjalani kehamilan usia 20an 30an 40an, 3 ibu hamil

Tiap ibu punya pengalaman kehamilan yang berbeda-beda, dan salah satu yang memengaruhinya adalah usia ibu saat hamil. Kalau Mama sendiri, bagaimana? Usia berapa Mama saat mengandung si kecil, dan ada bedanya kah dengan kehamilan kedua dan seterusnya? (terutama bila usia saat hamil di kepala 2, 3, atau 4). Berikut ini penjelasan mengenai kehamilan usia 20an 30an dan 40an, apa saja bedanya?

Perbedaan Menjalani Kehamilan Usia 20an 30an dan 40an

Usia 20an: Waktu yang Tepat untuk Hamil

Ini alasan hamil di usia 20an lebih baik:

  1.   Sel telur lebih sehat

Geeta K. Swamy, MD, ob-gyn di Duke University Medical Center, mengatakan, Secara fisik ini merupakan waktu yang tepat untuk hamil. Pada fase ini, siklus bulanan wanita sudah lebih teratur, sehingga ovulasi lebih dapat diprediksi. Plus, sel telur jauh lebih segar dan sehat, dan menjadikannya kandidat terbaik untuk pembuahan.

  1.   Tulang dan otot lebih kuat

Selain itu, dokter kandungan University of Michigan Medical School, Cosmas J.M. van de Ven, MD, mengatakan, “Tubuh wanita muda paling baik menangani beban tambahan pada tulang, punggung, dan otot selama kehamilan.” 

Bacaan Lainnya

Cosmas menjelaskan, pada usia 20an, sendi wanita sudah mengalami keausan minimal dan berada pada kondisi puncak kehidupan dewasa. Setelah itu, seiring bertambahnya usia, bila tidak dirawat dengan baik, tulang akan mengalami masalah medis.

  1.   Risiko komplikasi lebih minim

Menurut Robert H. Berry, MD, ob-gyn di UMass Memorial Medical Center, risiko komplikasi terkait kehamilan juga lebih rendah pada usia 20an, dengan pengecualian: preeklampsia atau hipertensi yang diakibatkan kehamilan. Tapi mengenai preeklampsia, masalah ini tidak selalu terkait dengan usia karena umumnya terjadi pada kehamilan pertama.

Pengecualian lainnya adalah bila saat remaja pola hidup sudah tidak sehat, seperti merokok, gizi buruk, dan seks bebas. Mama juga berisiko melahirkan bayi dengan berat badan rendah atau menularkan penyakit seksual pada bayi.

  1.   Banyak yang membantu

Umumnya di usia saat ini, usia orangtua Mama juga masih terbilang muda. Dengan kata lain, kata kata Diane G. Sanford, PhD, salah satu penulis Postpartum Survival Guide (New Harbinger), Anda punya support system untuk membimbing dan membantu dalam mengasuh bayi.

  1.   Lebih optimis dan masih produktif

“Seorang wanita berusia 20an tidak menghabiskan banyak waktu memikirkan kehamilan secara berlebihan. Mereka lebih optimis dan tidak terlalu cemas tentang memiliki bayi dan menjadi seorang ibu,” kata Diane. Enaknya lagi, bagi ibu bekerja, satu dekade kemudian Mama  masih bisa fokus mengejar impian dalam hal karier.

Usia 30an: Lebih Siap Secara Mental Vs Kesuburan Menurun

kehamilan usia 20an 30an dan 40an, risiko kehamilan usia 30 tahun, suami istri menunggu kelahiran

Secara fisik, di usia ini sel telur sudah matang, tapi kesuburan akan menurun setelah usia pertengahan 30. Ya, seiring bertambahnya usia, sel telur akan ‘berjalan’ lebih lambat. Apalagi bila usia Mama di akhir 30-an dan berencana hamil, jangan berharap akan cepat terealisasi.

Kata dr. Robert, setidaknya Mama harus menunggu 3 hingga enam bulan untuk bisa hamil –dalam kondisi prima dan tidak memiliki masalah medis yang memengaruhi kesuburan (seperti endometriosis atau fibroid rahim).

Seperti yang dialami Ester (42) ibu dari 3 anak yang menikah di usia 30 tahun dan dinyatakan hamil di usia 4 bulan pernikahannya. “Usia saya mendekati 31 tahun ketika tahu sedang mengandung putra pertama, dan ketika si kecil masih berusia 14 bulan saya dinyatakan hamil lagi.”

Berbeda dari kehamilan pertamanya, di kehamilan kedua, Ester kerap mengalami nyeri pada tulang dan otot. Dengan kata lain, ia merasa lebih sehat dan bugar di kehamilan pertamanya.

Hal itu, menurut dr. Robert, di kehamilan pertama si ibu masih menikmati energi yang biasanya diasosiasikan dengan wanita yang lebih muda. Sementara di kehamilan kedua, tulang dan otot ibu sudah tidak seprima saat ia berusia 20an, ditambah jeda dari kehamilan pertama belum terlalu jauh.

Hal lain yang mungkin dialami ibu saat hamil di usia 30-an adalah:

  • Awal risiko masalah kesehatan serius. Di usia ini, umumnya seseorang pertama kali mengetahui ada masalah kesehatan serius pada tubuhnya. Dan pada periode ini juga, kondisi kronis seperti diabetes, tekanan darah tinggi, atau obesitas lebih mungkin mempersulit kehamilan, kata dr. Geeta. Bahkan mulai usia 35, risiko kondisi khusus kehamilan seperti diabetes gestasional lebih mungkin terjadi.
  • Risiko bayi down syndrome. Pada usia 35, kemungkinan memiliki bayi dengan masalah kromosom seperti cacat kromosom atau kromosom ekstra lebih tinggi, salah satunya down syndrome.
  • Keguguran. Penyebabnya bisa banyak hal. Salah satunya dampak dari masalah kesehatan ibu.
  • Plasenta previa di mana plasenta tumbuh di dekat serviks dan menyebabkan perdarahan. Ini bisa terjadi karena masalah di kehamilan sebelumnya atau operasi caesar.

Tapi di balik kekurangan di atas, ada kelebihan dari hamil di usia 30an. Di antaranya:

  • Lebih matang secara emosional atau mental.
  • Lebih siap secara finansial.

Seperti yang juga dialami Ester (42), ketika itu posisinya dan suami di perusahaan tempat mereka masing-masing bekerja sudah mantap. Artinya, secara finansial mereka sudah mapan dan tidak ada masalah dalam hal keuangan.

“Secara emosional saya juga lebih siap. Di usia itu saya sudah tahu apa tujuan saya memiliki anak, dan sudah punya banyak pengalaman juga dari beberapa teman dekat bagaimana mengurus anak,” kata Ester.

Usia 40an: Lebih Banyak Risikonya

kehamilan usia 20an 30an dan 40an, risiko kehamilan usia 40 tahun, ibu hami diperiksa dokter kandungan

Kedengarannya mungkin sadis, tapi ini masuk akal, Ma. Terlepas dari izin Yang Maha Kuasa, dari sudut pandang medis, kehamilan di usia 40an sangatlan berat bagi ibu. Ini alasannya:

  • Sel telur dan pembuahan berada di fase terbawah. Di periode ini Mama sudah kehabisan sel telur dengan kualitas terbaik. Selain itu, pembuahan pun jauh lebih lambat dari sebelumnya. “Mama memiliki sel telur yang tidak hanya membutuhkan waktu paling lama dalam merespons isyarat tubuh untuk dilepaskan, tapi juga tidak berfungsi dengan baik selama pembuahan,” kata Dr. Robert.
  • Dan masalah ini berisiko tinggi meningkatkan risiko kelainan kromosom pada janin, keguguran, serta berisiko melahirkan anak kembar. “Mungkin pergeseran kadar hormon selama menopause merangsang pelepasan lebih dari satu sel telur saat ovulasi, jadi seperti obat kesuburan alami,” terang dr. Robert. Di usia ini, kehamilan kembar akan sangat berisiko.
  • Kehamilan juga dapat memperburuk kondisi kronis serta tanda-tanda awal penuaan, seperti sendi yang kaku dan nyeri. Masalah varises juga bisa menjadi lebih buruk.
  • Metabolisme tubuh juga semakin lebih lambat di mana jumlah makanan yang sama yang Mama konsumsi sebelum hamil akan lebih mudah membuat tubuh gemuk setelah hamil.
  • Bila kehamilan ini tidak direncanakan dengan matang, juga akan memberikan dampak buruk pada psikologis ibu, seperti yang dialami Ester.

“Saya hamil ketiga kali saat berusia 41 tahun. Saat itu saya benar-benar kaget, shock lebih tepatnya, karena ini bukan hamil yang direncanakan. Saat itu anak pertama dan kedua saya sudah berusia 10 dan 8 tahun, mereka sudah mandiri sehingga saya bisa fokus pada pekerjaan dan hal-hal lain yang saya tunda lakukan ketika mengurus anak-anak dulu,” kenang Ester.

“Tapi ketika saya baru mau memulai kehidupan saya yang ‘baru’, tiba-tiba saya tahu saya akan punya bayi lagi. Ini benar-benar bikin saya depresi. Sepanjang kehamilan, tiada hari tanpa saya menangis. Saya jadi lebih mudah marah dan menyalahkan suami juga Tuhan. Lebih suka membentak anak-anak. Memang saya tidak mengalami masalah fisik, seperti ngidam, morning sickness atau lainnya, tapi pekerjaan rumah dan kantor banyak terbengkalai karena mood saya sering down. Perasaan saya sering mellow dan saya juga malas ketemu orang karena menghindari pertanyaan mereka seputar kehamilan saya,” cerita Ester lagi.

Dari penjelasan dan pengalaman Ester tadi, itulah alasanya mengapa ahli kandungan tidak menyarankan wanita berusia 40an hamil. Akan jadi berbeda mungkin bila kehamilan ini direncanakan, ya, Ma. Wanita berusia 40an lebih profesional (dalam hal pekerjaan), percaya diri, dan lebih aktif dalam perawatan kehamilan. “Mereka umumnya mengajukan lebih banyak pertanyaan kepada dokter kandungan tentang banyak hal seputar kehamilan,” ujar dr. Geeta.

Kalau menurut Mama sendiri, bagaimana? Apa beda kehamilan usia 20an 30an dan 40an?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fifty + = 60