Anak Gifted Bukan Cuma Soal Pintar: Memahami Kebutuhan Mereka dari Rumah hingga Sekolah

memahami anak gifted, anak main

Sudah pernah dengar istilah cerdas istimewa atau gifted MamPap? Apa yang terlintas saat mendengar kata ini? Apakah langsung terbayang anak yang IQnya tinggi, cepat memahami pelajaran, selalu mendapat nilai tinggi, atau menjadi juara kelas? Jika ya, MamPap perlu menyimak artikel ini sampai habis. Sebab, faktanya kemampuan intelektual yang menonjol hanyalah salah satu bagian dari cerita anak gifted. Lantas, bagaimana memahami anak gifted?

Ada banyak kebutuhan yang perlu dipahami secara lebih menyeluruh. Cara mereka belajar, berpikir, berinteraksi, hingga mengelola emosi bisa membutuhkan pendekatan yang berbeda. Karena itu, mendampingi anak gifted tidak cukup hanya dengan memberikan materi pelajaran yang lebih sulit atau menargetkan prestasi akademik yang lebih tinggi.

Memahami anak gifted membutuhkan kolaborasi dari berbagai sisi, mulai dari keluarga, sekolah, hingga perspektif medis dan psikologis. Hal inilah yang jadi salah satu pembahasan dalam Seminar Nasional “Berbagai Sudut Pandang dan Kolaborasi untuk Memahami Anak Gifted” dalam rangkaian 12 tahun Parent’s Support Group for Gifted Children (PSGGC).

Anak Gifted Tetap Butuh Ruang Menjadi Anak-anak

Yang perlu dipahami semua orang terutama orang tua, terhadap anak gifted adalah bagaimana melihat kemampuan anak. Bagi Ines Handayani, orang tua dari empat anak gifted, pengalaman mengasuh anak dengan kemampuan yang berbeda mengajarkan bahwa anak gifted tidak bisa hanya dilihat dari potensinya.

Read More

Kemampuan anak yang menonjol terkadang justru membuat orang dewasa tanpa sadar memasang ekspektasi yang lebih tinggi. Anak dianggap mampu memahami banyak hal sehingga diharapkan selalu mandiri, berprestasi, atau mampu memenuhi tuntutan orang dewasa. Padahal, kemampuan kognitif yang tinggi tidak berarti anak otomatis matang dalam semua aspek. “Pertama kali dealing sama anak gifted, saya pikir kalau pintar ya pintar aja terus, ternyata ada yang tidak sinkron dengan kemampuannya menangkap ilmu dengan cepat.” Ujarnya.

Menurut Ines, orang tua perlu benar-benar memahami karakteristik dan traits anak gifted agar bisa mengetahui kemungkinan masalah yang timbul akibat karakter-karakter tersebut baik plus dan minusnya. Di samping itu, orang tua juga perlu menurunkan ekspektasi dan tuntutan terhadap anak-anak ini. Pada hakikatnya, mereka tetap butuh kesempatan untuk bermain, melakukan kesalahan, belajar mengelola emosi, dan merasa diterima tanpa syarat.

“Anak perlu mengalami rasa gagal di awal, dengan begini dia belajar bahwa prestasi bisa naik dan turun, bisa saja kita sudah berusaha keras tapi tetap kalah karena ternyata ada yang usahanya lebih keras dari kita.“Tutur Ines.

Dengan begitu, rumah tidak hanya menjadi tempat untuk mengembangkan potensi, tetapi juga menjadi ruang aman bagi anak untuk bertumbuh. Namun, memahami anak gifted tidak berhenti di rumah. Sebagian besar waktu anak juga dihabiskan di sekolah, sehingga guru perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai karakter dan kebutuhan anak. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk berdiskusi dengan pihak sekolah, bukan hanya ketika muncul masalah, tetapi sejak awal untuk bersama-sama mencari pendekatan yang paling sesuai bagi anak.

Tidak Semua Anak Gifted Perlu Akselerasi, yang Penting Sesuai Kebutuhannya

Ketika anak memiliki kemampuan akademik yang jauh di atas rata-rata, sebagai orang tua kita mungkin berpikir akselerasi atau naik kelas lebih cepat adalah pilihan paling tepat. Padahal, ternyata tidak semua anak gifted butuh hal tersebut, MamPap.

Menurut Dosen Prodi Pensif- Politeknik Bentara Citra Bangsa sekaligus salah satu founder PSGCC, Patricia Lestari Taslim, S.Pd., M.Pd., kebutuhan setiap anak gifted perlu dilihat secara individual sesuai kebutuhannya. “Tidak semua anak gifted perlu akselerasi, terutama anak-anak yang enjoy belajar sosialisasi bersama teman-teman.”

Karena itu, keputusan untuk melakukan akselerasi sebaiknya tidak hanya didasarkan pada kemampuan akademik anak. Kenyamanan anak dalam belajar, kebutuhan sosial, serta bagaimana ia menikmati interaksi dengan teman sebaya juga perlu menjadi pertimbangan.

“Ketika anak-anak ini bisa mendapatkan pendampingan yang baik, mereka bisa menunjukkan diri mereka dan apa yang bisa mereka lakukan,” ujar Patricia.

Lantas, bagaimana sekolah dapat mengakomodasi kebutuhan anak gifted tanpa harus langsung memindahkannya ke jenjang yang lebih tinggi?

Salah satu caranya adalah melalui modifikasi gaya belajar dan materi belajar. Anak dapat tetap berada di kelas sesuai usianya, tetapi mendapatkan materi yang lebih sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Misalnya, materi dapat dibuat lebih mendalam, diberikan tantangan yang lebih kompleks, atau anak diberi kesempatan untuk mengeksplorasi topik yang membuatnya tertarik.

Dengan pendekatan seperti ini, anak tetap bisa mendapatkan stimulasi intelektual yang dibutuhkannya, sekaligus tetap memiliki kesempatan untuk belajar dan bersosialisasi bersama teman-teman seusianya.

Sebab, memberikan tantangan kepada anak gifted bukan selalu berarti membuat mereka belajar lebih cepat. Yang lebih penting adalah memastikan mereka mendapatkan pengalaman belajar yang sesuai dengan cara berpikir, kemampuan, dan kebutuhan mereka.

Di sinilah komunikasi antara orang tua dan sekolah menjadi penting. Orang tua dapat berbagi mengenai karakter anak di rumah, sementara guru dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana anak belajar dan berinteraksi di kelas. Dari sana, keduanya dapat bersama-sama menentukan bentuk pendampingan yang paling tepat, bukan sekadar mengejar seberapa cepat anak dapat menyelesaikan pelajaran, tetapi memastikan potensinya berkembang tanpa mengorbankan kebutuhan sosial dan emosionalnya.

Memahami Anak Gifted dan Perkembangan Otaknya

memahami anak gifted

Anak gifted kerap terlihat seperti “melangkah lebih cepat” dibandingkan anak seusianya. Mereka dapat menangkap konsep dengan cepat, menemukan pola yang belum tentu dilihat anak lain, atau memahami sesuatu yang biasanya baru dikenalkan pada usia lebih besar. Namun, kemampuan berpikir yang lebih maju tidak berarti seluruh aspek perkembangan anak harus berjalan dengan kecepatan yang sama.

Menurut Pendiri Otak Anak Indonesia, dr. Irnova Suryani, gifted bukanlah penyakit maupun diagnosis kesehatan mental. Anak gifted juga bukan sekadar anak yang “berbakat”, melainkan memiliki variasi perkembangan otak yang berbeda, “Gifted bukan sebuah penyakit atau diagnosis, bukan bakat juga, tapi variasi perkembangan otaknya berbeda.”

Karena itu, kemampuan anak gifted pun tidak bisa hanya dilihat dari angka IQ. Terlebih pada anak gifted yang juga memiliki kondisi seperti autisme atau ADHD, hasil tes intelegensi belum tentu sepenuhnya menggambarkan kemampuan yang mereka miliki. Tantangan dalam menerima, memproses, atau mengekspresikan informasi dapat membuat potensi anak tidak selalu terlihat secara utuh. Kondisi masking, misalnya, dapat membuat kemampuan yang terukur tampak lebih rendah dibandingkan kapasitas sebenarnya.

Di sisi lain, perkembangan otak yang cepat bukan berarti anak perlu terus-menerus didorong untuk mengejar hal yang lebih sulit. Menurut dr. Irnova, pengalaman nyata justru menjadi bagian penting dalam perkembangan otak anak gifted. “Otak manusia butuh pengalaman nyata agar terjadi perkembangan. Lebih resilien sebenarnya kalau kita membangun dulu skill-skill yang lain untuk melengkapi. Selain perkembangan otaknya cepat, jendela mielinnya lebih panjang sehingga kesempatan untuk merasakan pengalaman nyata juga lebih panjang.” Urainya.

Artinya, anak gifted tetap perlu diberi kesempatan untuk bermain, mencoba berbagai hal, berinteraksi dengan lingkungan, dan mengalami situasi yang mungkin belum pernah mereka hadapi. Pengalaman konkret tersebut membantu anak membangun pemahaman yang lebih utuh sekaligus menjadi pijakan ketika mereka mulai berhadapan dengan konsep yang semakin abstrak. Termasuk pengalaman untuk salah dan gagal.

Tidak apa-apa jika anak melakukan kesalahan. Tidak apa-apa jika sesuatu yang dikerjakannya tidak langsung berhasil. Justru dari pengalaman tersebut, anak belajar menghadapi frustrasi, mencari solusi, beradaptasi, dan membangun kemampuan coping.

Hal ini penting karena kemampuan akademik yang tinggi tidak otomatis membuat anak memiliki ketangguhan dalam menghadapi berbagai situasi. Jika sejak awal anak hanya diarahkan pada hal-hal yang menjadi keunggulannya, ada kemungkinan ia justru memiliki lebih sedikit kesempatan untuk melatih keterampilan lain yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Terlebih ketika anak menghadapi tekanan atau burnout, kemampuan untuk memahami pelajaran dengan cepat tentu tidak selalu cukup untuk membantunya melewati situasi tersebut. Anak tetap perlu memiliki keterampilan sosial-emosional, kemampuan menghadapi kegagalan, serta pengalaman menghadapi hal-hal yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Pada akhirnya, mendampingi anak gifted bukan tentang seberapa cepat mereka bisa berada di depan, melainkan bagaimana memastikan mereka memiliki bekal yang cukup untuk tumbuh dan menghadapi kehidupan secara utuh.

Sebab, meski kemampuan berpikirnya mungkin jauh lebih maju, anak gifted tetap membutuhkan kesempatan untuk menjalani pengalaman masa kanak-kanaknya: bermain, mencoba, salah, gagal, belajar, dan tumbuh.

Kebutuhan Emosional Tetap Perlu Dipahami

Kemampuan intelektual yang menonjol sering kali membuat anak gifted lebih dulu dilihat dari apa yang bisa mereka lakukan. Padahal, di balik kemampuan tersebut, mereka tetap memiliki kebutuhan emosional dan psikologis yang perlu diperhatikan. Hal ini diungkapkan Psikolog Klinis, Fabiola Audrey Najoan, M.Psi., “Kognitif anak gifted melaju lebih cepat daripada emosinya, jadi lebih menantang untuk orang tua.”

Oleh karena itu, memahami anak gifted tidak cukup hanya dengan melihat skor IQ atau pencapaian akademiknya. Orang tua dan guru juga perlu melihat kebutuhan anak gifted, terutama jika membutuhkan intervensi terapi tertentu.

Pada sebagian anak, kemampuan yang tinggi dapat datang bersama tantangan tertentu. Misalnya, mereka bisa memiliki ekspektasi yang sangat tinggi terhadap dirinya sendiri, merasa berbeda dari teman sebaya, atau terbiasa mendapatkan label sebagai anak yang “pintar” sehingga merasa harus terus mempertahankan prestasinya.

Namun, hal tersebut bukan berarti setiap anak gifted pasti mengalami masalah psikologis. Setiap anak memiliki karakter, lingkungan, pengalaman, dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, penting bagi orang tua maupun guru saling berkomunikasi untuk memahami anak secara lebih utuh. Orang tua dapat berbagi mengenai karakter dan kebiasaan anak di rumah, sementara guru dapat memberikan gambaran mengenai proses belajar, interaksi sosial, dan perkembangan anak di lingkungan sekolah.

Pada akhirnya semua mengarah pada satu hal: anak gifted membutuhkan pendampingan yang sesuai dengan dirinya, bukan sekadar tuntutan untuk terus mengembangkan potensinya. Mereka bukan hanya membutuhkan ruang untuk menjadi pintar, tapi juga ruang untuk bermain, mencoba, gagal, belajar, bersosialisasi, merasa aman, dan tumbuh sebagai anak-anak.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− three = 7