Hati-Hati, Anak Bisa Alami Otak Popcorn, Pahami Tanda dan Dampaknya 

otak popcorn pada anak

Istilah ini tidak ada hubungannya dengan makanan, bahkan ‘rasanya’ tidak enak sama sekali. Ini adalah salah satu kondisi yang bisa mengacu pada kesehatan mental. Iya, otak popcorn pada anak seberbahaya itu, bukan hanya untuk MamPap tapi juga si kecil. 

“Yang penting anak sudah menyelesaikan pekerjaan sekolah dan rumahnya, terserah kalau setelah itu dia mau menghabiskan sisa waktunya bermain HP,” demikian kata beberapa orang tua. Tapi bagaimana jika seharian itu anak tidak ada tugas rumah dan sekolah, apakah MamPap tetap akan membiarkannya bermain HP seharian? 

Apa Itu Otak Popcorn?

Entah MamPap sebelumnya sudah pernah mendengar istilah ini atau belum. Memang, diagnosis otak popcorn tidak diakui oleh Psychological Association atau American Psychiatric Association, tapi sepertinya tidak ada salahnya MamPap mempelajari hal ini. Setidaknya bisa menambah wawasan dan membantu mengedukasi anggota keluarga mengenai pemicu dan cara mengatasinya. 

Istilah popcorn brain yang sedang tren di dunia kesehatan mental ini pertama kali dicetuskan tahun 2011 oleh David M. Levy, Ph.D., Pakar Stres dan Ilmuwan Komputer di Universitas Washington. 

Read More

Dalam bukunya, Mindful Tech dan No Time to Think, David menggambarkan istilah popcorn brain sebagai kondisi otak yang terbiasa dengan perangkat digital karena screentime berlebihan, sehingga menyebabkan overstimulation (stimulus otak meletup-letup) dan tidak berminat menjalani aktivitas di dunia nyata. 

Menurut penjelasan para psikolog, otak popcorn mengacu pada kecenderungan perhatian dan fokus yang berpindah cepat dari satu hal ke hal lain sehingga memicu multitasking di dunia digital.

Misalnya, seseorang call group sambil bermain games dan tracking pesanan online. Di waktu itu, ia sama sekali tidak menaruh perhatian pada apa yang terjadi di sekitarnya.

Dampaknya pada Anak: Otak Anak Belum Siap dengan…

Direktur Pusat Media dan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Anak Boston Michael Rich, MD, MPH, melakukan penelitian terhadap ribuan anak usia dini hingga 10 tahun. Dari penelitian ini ia ingin memahami, bagaimana perilaku anak setelah terdampak paparan digital secara terus-menerus. 

“Yang mau dicari tahu bukan berapa lama otak anak sanggup terpapar layar ponsel, melainkan bagaimana mereka menggunakannya dan seperti apa respons pada otaknya,” kata Michael yang juga profesor madya pediatri di Harvard Medical School dan profesor madya ilmu sosial dan perilaku di Sekolah Kesehatan Masyarakat Harvard T.H. Chan.

Menurut Michael, di usianya saat ini, otak anak sedang tumbuh membangun koneksi saraf. Sementara itu, ada banyak hal pada tayangan yang ditonton anak justru memberikan stimulasi yang ‘kurang memadai’ bagi otak yang sedang berkembang itu. 

Dampak paparan ponsel berlebihan pada anak tidak main-main. Ini kata Michael: 

  • Cahaya biru pada layar ponsel dapat mengganggu pola tidur dengan menekan sekresi hormon melatonin –kurang tidur dan kurang tidur dengan REM dalam. Padahal di usianya anak butuh tidur malam yang nyenyak untuk membantu perkembangan otaknya. 
  • Anak jadi kecanduan main game, media sosial, dan aktivitas online lainnya yang mempengaruhi kesehatan dan kehidupan sehari-hari, baik di rumah dan sekolah. “Hampir semua game dan media sosial bekerja berdasarkan apa yang disebut sistem penghargaan variabel –persis sama dengan yang Anda dapatkan ketika bermain mesin slot. Otak anak belum memiliki sistem pengendalian diri yang sepenuhnya berkembang untuk membantu mereka menghentikan perilaku obsesif semacam ini,” kata Michael.
  • Dunia online juga membuat perhatian anak menjadi mudah teralihkan. 

Tanda Otak Popcorn pada Anak

Jika MamPap tidak begitu yakin apakah Anda, pasangan atau anak sudah atau belum mengalami otak popcorn, coba lakukan eksperimen ini: Letakkan ponsel di ruangan yang berbeda, lalu catat berapa kali Anda merasa ingin mengambilnya. 

Atau, MamPap juga bisa mencari tahu melalui tanda-tanda yang ditunjukkan Mayo Clinic berikut ini: 

  1. Tidak fokus. Otak kerap melompat dari satu tugas/pikiran ke tugas/pikiran yang lain. 
  2. Hanya fokus pada ponsel. Kalau sedang bersama seseorang atau sekelompok orang, pikirannya akan terus-menerus terganggu untuk memeriksa media sosial, chat seseorang, mengecek email. 
  3. Kemampuan kognitif. Algoritma dalam menampilkan konten di linimasa yang relevan dengan minat kita (kata kunci pencarian terbaru) berperan membangkitkan reaksi emosional yang kuat (insentif informasi). Insentif semacam ini, dijelaskan Forbes, diterima otak ‘penghargaan’ dan ‘penguatan yang kemudian membantu meningkatkan dopamin hormon ‘bahagia’ atau sebaliknya, oksitosin –jika kata kunci pencarian terbarunya banyak memuat hal-hal yang meresahkan kita.
  4. Multitasking di dunia digital. Mungkin MamPap merasa bangga karena dapat melakukan banyak hal dalam satu waktu (multitasking): menggoreng telur sambil balas chat teman, tracking pesanan online, dan memakaikan kaos kaki anak. Namun sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa multitasking itu buruk bagi otak. Mengapa? Itu karena beralih perhatian di antara berbagai tugas sangat menuntut otak bekerja keras. Tanpa disadari, otak menjadi sangat lelah, kurang fokus, terlalu sering teralihkan, dan kemudian mengalami gangguan lain. 

Seperti dikutip dari laman RS Radjiman Wediodiningrat, dampak dari otak popcorn sebagai berikut: 

  • Hobi scrolling lama-lama. 
  • Menonton serial atau film secara maraton tanpa jeda.
  • Adanya notifikasi tanpa henti pada smartphone secara terus menerus.
  • Berkurangnya rentang perhatian.
  • Berkurangnya kemampuan kognitif.
  • Meningkatnya stres dan kecemasan. 
  • Sering lupa.
  • Kurangnya kedalaman pemikiran.
  • Gangguan pola tidur.
  • Penurunan kemampuan fokus pada tugas-tugas yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
  • Sulitnya menikmati kegiatan tanpa stimulasi digital.
  • Gangguan mental yang mengakibatkan depresi hingga menurunkan kualitas kesehatan.

Cara Mengatasi Otak Popcorn pada Anak

otak popcorn pada anak, anak main hp

Otak popcorn sebenarnya bisa diatasi dengan cara yang cukup mudah, yakni jauhkan ponsel dari Anda. Tapi, apakah Anda cukup mampu melakukannya? Ya, memang dibutuhkan keberanian dan kesadaran tinggi untuk bisa ‘sembuh’. 

Jika Anda belum sanggup jauh-jauh dari ponsel, coba lakukan perlahan-lahan dengan cara ini:

  • Matikan notifikasi push dan fitur pop-up. Seperti Menu Fokus yang ada pada Pengaturan untuk membantu meminimalkan jumlah pemberitahuan push sepanjang hari, Anda juga bisa mengatur notifikasi aplikasi apa saja yang bisa muncul pada ponsel. 
  • Jangan bawa ponsel saat hendak tidur. Dan cukup mengaktifkan nada dering untuk memantau pesan/panggilan darurat saja. 
  • Coba metode Pomodoro. Ini adalah strategi manajemen waktu dengan pembagian waktu 25 menit untuk bekerja dan 5 menit istirahat (lepas dari ponsel). Pertama-tama, coba lakukan ini selama empat interval kerja berturut-turut. Setelah itu tingkatkan bertahap durasi istirahat menjadi 10 menit, 15 menit dan seterusnya hingga 30 menit. 
  • Praktikkan rumus 20 x 2 x1. Yaitu, batasi scrolling media sosial hanya maksimal 20 menit sebanyak 2 kali dalam 1 hari. “Di waktu lain, cukup gunakan ponsel hanya untuk panggilan, pesan teks, dan mengecek email penting,” kata Dr Aditi Nerurkar, salah seorang dokter di Harvard, melansir laman CNBC.
  • Lakukan rutinitas terstruktur untuk bantu tingkatkan fokus. Yakni, dengan membuat jadwal rutinitas harian yang terstruktur. Menurut Forbes Ini terbukti efektif  mencegah kebiasaan negatif, menumbuhkan kebiasaan positif, dan mempersiapkan pikiran dan tubuh untuk periode kerja yang terfokus dan produktif secara berkelanjutan yang dilengkapi dengan istirahat teratur.
  • Batasi screentime pada anak. 

Berikut ini panduan yang disarankan The American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP):

  • Hingga usia 18 bulan, penggunaan layar hanya untuk obrolan video dengan orang tua (misalnya, dengan ayah yang sedang berada di luar kota).
  • Usia 18-24 bulan, penggunaan layar dibatasi untuk menonton program pendidikan bersama pengasuh. 
  • Usia 2-5 tahun, penggunaan layar non-pendidikan sekitar 1 jam per hari kerja dan 3 jam di akhir pekan. 
  • Usia 6 tahun ke atas, dorong kebiasaan sehat dan batasi aktivitas yang melibatkan layar.

Tips lain mengenai penggunaan ponsel yang disarankan AACAP adalah: 

  • Matikan semua layar selama makan dan jalan-jalan keluarga.
  • Gunakan fitur Parental Control.
  • Hindari menggunakan ponsel sebagai penenang, pengasuh, atau untuk menghentikan tantrum.
  • Hentikan penggunaan ponsel 30-60 menit sebelum waktu tidur.

Dari penjelasan di atas, Anda jadi lebih tahu seberapa berbahayanya masalah ini. Yuk, tumbuhkan kesadaran diri untuk menggunakan ponsel dengan lebih bijak lagi. Ingat, kesehatan fisik dan mental Anda dan keluarga lebih penting dari segalanya. 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × three =