Fenomena Latte Dad, Mungkinkah Ayah Indonesia Menerapkannya? 

latte dad
Foto: Blackrancho

Sebagian MamPap mungkin baru mendengar istilah ini: Latte Dad. Ya, istilah parenting ini memang baru mulai viral secara global di berbagai platform di awal tahun 2025. Tapi sebenarnya, fenomena ini sudah ada sejak lama dan mengakar kuat di salah satu negara di Eropa Utara. Apa itu Latte Dad dan mungkinkan metode ini diterapkan di Indonesia, simak penjelasannya, ya. 

Apa Itu Latte Dad?

“Mungkin untuk memahaminya, kita bisa membayangkannya begini: pagi-pagi di kafe, banyak stroller berjajar, dan sekumpulan ayah-ayah muda duduk santai sambil ngopi. Mereka ngobrol tentang tumbuh kembang bayi, sharing pengalaman punya bayi, berbagi hacks ngerawat bayi, dan sesekali nenangin bayinya yang menangis. Gambaran inilah yang melahirkan istilah populer ‘Latte Dad,” kata Psikolog Anak dan remaja Kanti S Pernama, M.Psi

Masih kata Kanti, istilah Latte Pappor atau Latte Dad pertama kali dikenal di Swedia –istilah ini mulai dipakai media-media di Swedia tahun 2017. Seperti diketahui, negara ini dikenal dengan budaya minum kopinya. Inilah yang menjadi dasar kemunculan istilah Latte Dad. 

latte dad, ayah di cafe bersama teman
Foto: Monkey Business Images

Namun lebih jauh dari itu, metode parenting ini sebenarnya bermula dari kebijakan “Daddy Quota” (parental leave) yang disahkan pemerintah Swedia di tahun 1974. Ini adalah kebijakan yang mewajibkan suami-istri mengambil cuti paska persalinan guna mengoptimalkan tumbuh kembang anak di bulan-bulan pertama kehidupannya. 

Read More

Gongnya di tahun 1995, di mana jumlah ayah yang mengambil cuti ini meningkat pesat. Sejak itu, masyarakat di Swedia menganggap buruk para ayah yang tidak mengambil Daddy Quota. Mereka dianggap tidak mau terlibat dalam pengasuhan anak. 

“Jadilah sejak itu di Swedia ada banyak ayah yang membawa bayinya berkumpul di kafe untuk ngobrol atau berjalan-jalan pagi sambil mendorong baby stroller dan memegang cup coffee, kata Kanti. 

Dengan kata lain, Latte Dad menggambarkan ayah-ayah modern yang hands-on, involved, dan aktif co-parenting. Bukan sekadar membantu jaga anak, tapi menjadi partner setara (dari istri) dalam membesarkan dan mendampingi tumbuh kembang anak.

Dampak Positif Latte Dad

Keterlibatan ayah sebagai co-parent aktif itu, menurut Kanti, memberi efek seperti domino, baik pada kesehatan mental ibu juga pada perkembangan anak. 

“Ketika ayah hadir dan berbagi peran, kesehatan mental dan mood ibu lebih terjaga. Risiko depresi pasca persalinan, distress, dan masalah emosi lainnya juga menurun.” 

Disebutkan Kanti juga, keberhasilan menyusui juga umumnya meningkat, karena ibu merasa didukung, rileks, dan aman. 

“Dengan kondisi rumah yang lebih stabil, anak mendapatkan lebih banyak momen interaksi berkualitas, baik saat bersama kedua orangtuanya atau bergantian (ayah atau ibu) ketika salah satu dari mereka fokus pada urusan rumah tangga,” Kanti menambahkan. 

Kondisi yang seperti ini tentunya dapat menciptakan lingkungan yang aman, responsif, dan kaya stimulasi, sehingga anak jadi lebih banyak mengalami interaksi dua arah, percakapan, dan permainan bermakna. 

Hasil lainnya, perkembangan kognitif, bahasa, dan sosial anak meningkat jauh lebih optimal, kemampuan regulasi emosinya jadi lebih matang, dan anak tumbuh dengan rasa aman serta kepercayaan tinggi terhadap lingkungannya.

Perbedaan Bayi Diasuh Ibu Saja dengan Ibu-Ayah Sekaligus 

Berdasarkan penelitian, memang benar ada perbedaan signifikan jika bayi hanya diasuh ibu dengan diasuh ibu dan ayah sekaligus. Meski kata Kanti sifatnya tidak mutlak. 

Saat pengasuhan hanya dilakukan oleh ibu saja, bayi tetap bisa berkembang dengan baik. Tetapi ritme interaksi dan kapasitas respons emosional pada bayi bisa terbatas, karena beban stimulasi ditanggung satu pihak. 

“Sementara itu ketika ayah dan ibu hadir bersama, bayi mendapat variasi kualitas interaksi: suara berbeda, cara bermain berbeda, dan respons emosional yang lebih kaya. Lingkungan rumah juga lebih tenang dan teratur, karena beban mental terbagi, membuat si orangtua lebih sabar dan responsif. Kombinasi faktor-faktor ini memberi bayi lebih banyak kesempatan eksplorasi, stimulasi sosial, dan pembelajaran dua arah,” jelas Kanti.

Apakah Bayi Dapat Merasakan Kehadiran Ayahnya? 

Ya, bisa! Bukan berarti bayi hanya mengenal ibunya saja karena sebelumnya ada di kandungan ibu selama 9 bulan, ya, MamPap. 

Meski usianya masih sangat dini, bayi sudah peka terhadap pola kehadiran, suara, sentuhan, dan respons orang-orang terdekatnya. Ini yang sering kita lihat bayi punya cara menenangkan yang berbeda dengan setiap orangtua. 

“Misalnya, bayi bisa cepat tenang saat digendong ibu dalam posisi tertentu. Tapi saat bersama ayah, ia lebih nyaman dengan cara dan posisi yang berbeda.” 

Interaksi-interaksi ini memberikan bayi pengalaman sensorik dan emosional yang unik, dan sejak awal otaknya merekam pola-pola itu. 

Kehadiran ayah sejak hari pertama membuat bayi punya lebih banyak variasi stimulasi, rasa aman, dan bonding, yang akan membentuk dasar kepercayaan dan keterikatannya di kemudian hari,” kata Kanti lagi.

Penerapan Latte Dad yang Ideal

 

Kanti menegaskan, momen Latte Dad ini idealnya dilakukan di 3 tahun pertama kehidupan anak. Alasannya, karena lebih dari 80 persen koneksi otak anak terbentuk di fase ini. 

Tapi bukan berarti setelah 3 tahun ayah berhenti membersamai anak, ya. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, konsistensi ayah dalam rutinitas, stimulasi, dan koneksi emosional yang berkelanjutan sangat berdampak di jangka panjang pada rasa aman, kepercayaan diri, dan kecerdasan sosial anak. 

Jadi, semakin awal dan semakin lama ayah terlibat, semakin kuat fondasi tumbuh kembang anak.

Kapan Ayah Memberi Waktu untuk Ibu? 

latte dad, ayah bersama bayi
Foto: Kyonntra/Getty Images Signature

Menurut Kanti, 3 bulan pertama paska persalinan baik ibu, ayah dan bayi sama-sama berada dalam fase penyesuaian besar. 

Ada baiknya di bulan pertama ayah fokus dalam mendukung pemulihan ibu secara fisik dan emosional, sekaligus bersama-sama mengenal ritme harian bayi. 

Ayah bisa membantu memastikan kebutuhan dasar ibu terpenuhi, seperti istirahat cukup, makan teratur, waktu mandi tenang, serta menyediakan ruang untuk ngobrol dan memberi dukungan emosional. 

Ini penting, karena di fase ini ibu paling rentan mengalami baby blues dan postpartum distress

Memasuki bulan kedua dan ketiga, ayah mulai bisa membagi waktu lebih seimbang. Misalnya, saat bayi tidur. Ayah mengalokasikan 15–30 menit sehari untuk quality time bersama ibu, baik itu sekadar mengobrol ringan, deep talk, atau recharge bareng. 

Ketika bayi terbangun, pembagian peran dilanjutkan seperti yang sudah berjalan. 

“Usahakan untuk ayah juga menjaga keseimbangan diri sendiri, ya. Sediakan waktu untuk olahraga ringan, kebutuhan dasar, atau aktivitas singkat yang disukai, supaya energi dan emosi tetap stabil,” saran Kanti.

Mungkinkah Latte Dad diterapkan di Indonesia? 

Yang menjadi pertanyaan kemudian, mungkinkah Latte Dad diterapkan di Indonesia, di negara yang budaya patriarkinya kuat sekali? 

Kanti mengatakan, menerapkan pola Latte Dad di Indonesia memang bukan hal yang mudah –karena budaya patriarki tadi. Di sini, masih banyak laki-laki yang memandang pengasuhan anak sebagai tanggung jawab utama ibu. 

Tapi apapun itu, bukannya tidak bisa dicoba, dan setiap langkah kecil ayah untuk terlibat dalam pengasuhan anak sangat perlu diapresiasi. 

Seperti yang saat ini sudah banyak kita lihat, makin ke sini makin banyak ayah yang ikut bangun malam sekadar menemani ibu menyusui bayi, mengganti popok di mol, ikut kelas parenting, atau ikut ke puskesmas/RS untuk imunisasi bayinya. 

Apresiasi yang dibarengi dengan dukungan edukasi parenting dan paparan gaya parenting global ini tentunya sangat membantu generasi ayah muda untuk lebih terbuka terhadap konsep co-parenting

“Jadi, meskipun belum bisa sepenuhnya seperti model di Swedia, arahnya sudah bergerak ke sana. Intinya, butuh edukasi, dukungan lingkungan, dan apresiasi untuk setiap langkah kecil ayah yang mulai hadir lebih dekat dalam pengasuhan,” ucap Kanti.

Kanti juga menyarankan agar diskusi mengenai parenting sudah dilakukan dari sebelum pasangan suami-istri menikah. 

“Bukan soal teknisnya ya, tapi lebih ke visi, nilai, dan ekspektasi. Banyak konflik rumah tangga muncul karena asumsi yang berbeda. Satu pihak merasa tugas mengasuh anak sepenuhnya tanggung jawab ibu, sementara yang lain ekspektasinya ada co-parenting yang setara,” terang Kanti. 

Dengan diskusi sejak awal, pasangan bisa menyamakan persepsi. Mau menerapkan pola asuh yang seperti apa, bagaimana membagi peran ketika bayi lahir, sampai batas keterlibatan keluarga besar. 

Karena, kata Kanti, mengasuh anak itu kerja sama jangka panjang. Dan ketika fondasi komunikasi ini dibangun sejak awal, ayah-ibu jadi lebih siap menghadapi dinamika setelah punya anak. Saat ada perbedaan pandangan atau perubahan kondisi di tengah jalan, diskusinya juga bisa lebih sehat dan solutif karena fondasinya sudah kuat.

Jadi Pap, sudah siapkah Anda menjadi Latte Dad?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five + 3 =