Disclaimer: Informasi dalam artikel ini tidak bermaksud menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Jika Anda merasakan gejala masalah mental, depresi hingga keinginan untuk mengakhiri hidup, segera dikonsultasikan ke ahli yang profesional.
Baru-baru ini, publik sempat dihebohkan dengan kasus tewasnya seorang ibu yang diduga juga meracuni 2 anak kandungnya di Bandung hingga tewas. Ketiga jasadnya ditemukan pada Jumat (5/9/2025) lalu di kontrakannya. Kasus ibu yang membunuh anaknya sendiri dan kemudian ikut mengakhiri hidupnya ini dikenal dengan istilah Filisida Maternal.
Apa sebenarnya penyebab terjadinya kasus ini dan bagaimana langkah pencegahan dan pendampingan bagi semua ibu agar Filisida Maternal tidak lagi terjadi di sekitar kita? Simak artikel berikut ya, Mam.
Kasus Ibu dan 2 Anaknya Tewas di Bandung
Pilunya jasad seorang ibu asal Bandung berusia 34 tahun ditemukan tewas bersama kedua anaknya yang berusia 9 tahun dan 11 bulan di sebuah kontrakan di Kampung Cae, Banjaran, Kabupaten Bandung. Ketiga jenazahnya ditemukan oleh sang suami sepulang kerja.
Setelah pendalaman kasus oleh polisi, akhirnya disimpulkan bahwa penyebab meninggalnya dua orang anak akibat diracun oleh ibunya sendiri hingga akhirnya meninggal. Kemudian, sang ibu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di tiang pintu rumahnya. Kesimpulan itu diambil setelah ditemukannya sebuah surat wasiat yang diduga ditulis sang ibu di TKP.
Dalam surat wasiat tertulis curahan hati sang ibu tentang himpitan ekonomi yang dialaminya dan mengaku lelah dengan perilaku suaminya yang banyak berbohong dan terlilit hutang yang tak ada habisnya. Ia juga menyampaikan permohonan maaf pada kedua anaknya dan anggota keluarga lainnya karena keputusan yang ia ambil.
Ia pun mengungkapkan alasannya melibatkan kedua anaknya karena takut menyulitkan hidup kedua anaknya jika ditinggalkan olehnya.
Peristiwa ini pun masih didalami oleh penyidik Satreskrim Polresta Bandung yang juga sudah memeriksa beberapa saksi, termasuk suami, ayah, dan tetangga korban.
Filisida Maternal Bisa Terjadi Karena Depresi yang Dirasakan Seorang Ibu
Kasus di atas mengingatkan kita pada filisida maternal yang berkaitan dengan kondisi psikologis seorang ibu. Filisida maternal adalah tindakan seorang ibu yang menyebabkan kematian anaknya sendiri.
Seperti yang kita tahu, menjadi ibu itu tidak mudah dan sangat rentan mengalami kondisi psikologis tertentu. Hal ini pun sering kali merupakan puncak dari tekanan psikologis yang ekstrem, gangguan mental, atau kondisi emosional dari seorang ibu yang sangat kompleks.
Biasanya, tindakan ini karena adanya keputusasaan, delusi, atau keyakinan keliru bahwa ia sedang “menyelamatkan” anaknya dari penderitaan. Padahal, tidak seperti itu.
Depresi Postpartum Bisa Jadi Pemicu

Walau banyak dan rentan terjadi pada semua ibu setelah melahirkan, depresi postpartum memang tidak bisa disepelekan dan dianggap biasa. Jika ini tidak tertangani dengan baik dan diperparah dengan kondisi stres lainnya bisa berdampak kemana-mana, termasuk risiko depresi kronis dan berat di kemudian hari.
Menurut Psikolog Agstried Elizabeth Piether dari Rumah Dandelion, tindakan yang tidak dibenarkan seperti filisida maternal ini bisa karena depresi postpartum atau postpartum psikosis. “Bisa jadi diperparah juga oleh stres kronis karena isu sosial lainnya, seperti tekanan ekonomi, konflik rumah tangga, serta kemungkinan riwayat trauma dan kekerasan yang mungkin pernah diterima sebelumnya. Ditambah, minimnya akses dan dukungan mengenai kesehatan mental,” ungkap Agstried pada tim Parentsquads.
Pentingnya Support System bagi Ibu
Salah satu faktor utama dari post partum depression atau post partum psikosis adalah kurangnya dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Karena itu Agstried menambahkan, suami, keluarga, dan lingkungan terdekat seorang ibu perlu menjadi sistem pendukung yang nyata, bukan hanya simbolik.
“Selain dari keluarga, layanan kesehatan mental pun perlu menjadi perhatian untuk bisa diakses oleh semua kalangan,” tambahnya.
Pendampingan kesehatan mental juga diperlukan bagi seorang ibu. “Dan tentu saja sebenarnya harus ada perubahan pendekatan komunitas mengenai dukungan untuk ibu agar tidak ada kasus serupa terulang lagi,” kata Agstried.
Untuk bisa saling mendukung dan menyelamatkan ibu lainnya yang ada di sekitar Anda, penting bagi Anda untuk lebih peka dan mengetahui bagaimana gejala baby blues hingga depresi yang bisa dirasakan seorang ibu:
- Saat mengalami baby blues, suasana hati ibu mudah berubah, merasa cemas, sedih, kewalahan, menangis tanpa sebab, konsentrasi menurun, nafsu makan berkurang, susah tidur, dan gejala kecemasan lainnya.
- Jika mengalami depresi pascapersalinan, ibu akan mengalami gejala mirip baby blues, namun gejalanya berlangsung lama dan intens. Gejalanya termasuk, kesulitan menjalin ikatan dengan anak, menjauh dari keluarga dan teman, kehilangan energi, berkurangnya minat dan kesenangan dalam aktivitas yang dulu ibu nikmati, meragukan diri sendiri, hingga muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri dan bayi.
- Ibu yang mengalami psikosis pascapersalinan akan merasakan bingung dan kehilangan arah, pikiran obsesif tentang bayi sendiri, berhalusinasi dan mengalami delusi, memiliki terlalu banyak energi dan merasa kesal, paranoid, hingga perilaku yang mengancam jiwa.
Jika keluarga Anda seorang ibu baru dan mengalami gejala depresi atau kecemasan setelah kelahiran, bicarakan dengan layanan kesehatan mental terdekat. Perawatan dan dukungan serupa yang diberikan kepada ibu dapat membantu mengatasi depresi pascapersalinan pada orang tua lainnya.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Suami Bukan Support System yang Baik?
Salah satu penyebab kasus yang dialami ibu yang bunuh diri bersama kedua anaknya itu disebut karena perilaku sang suami yang tidak supportif dan memiliki kebiasaan buruk dengan berhutang yang tidak terkendali dengan baik.
Kita tahu, kesulitan atau masalah ekonomi terkadang tidak bisa terhindarkan dalam sebuah keluarga. Namun jika ada yang mengalami hal serupa, dan suami bukan termasuk support system yang baik, apa yang harus dilakukan?
Menurut Agstried, perilaku suami yang tidak supportif seperti kasus ini bukan masalah yang bisa diselesaikan sendiri.
“Mau punya harta berapapun kalau suami berjudi atau suka berhutang tak terkendali misalnya, kita menghentikannya gimana? Paling yang bisa dilakukan adalah keluar dari lingkungan yang memang sudah tidak kondusif untuk kehidupannya. Tapi kalau istrinya bukan perempuan bekerja, dan tidak punya lingkaran dukungan sosial akan sulit. Lalu kemana? Jika memang ada yang dalam kondisi di mana merasa tidak ada jalan keluar dalam hidup, mungkin yang bisa dilakukan adalah mencari pertolongan profesional,” tegas Agstried.
Dukungan untuk Ibu Ternyata Masih Rendah
Menurut Agstried, tragedi ini benar-benar membuka mata bahwa dukungan untuk ibu di negara ini masih sangat rendah. “Kita menuntut banyak untuk ibu, tapi teriakan minta tolongnya tidak terdengar, kecuali sudah di titik ekstrim. Dan yang lebih sedih lagi, dari kasus ini kita belajar juga bahwa menghakimi jauh lebih mudah daripada empati. Bayangkan, dalam keputusasaan seperti apa dia bisa sampai berpikir seperti itu. Bayangkan penderitaan semasa hidup seperti apa yang sudah dia rasakan dan saksikan sampai seputus asa itu”.
Bagaimana pun, ibu bukanlah makhluk super. Ibu adalah manusia biasa yang perlu perlakuan baik yang manusiawi, perlu kondisi yang manusiawi, dengan dukungan baik yang manusiawi pula. Semoga kita bisa sama-sama berempati dan lebih peka dengan lingkungan sekitar kita, terutama dengan sosok ibu ya, MamPap.
***
Content Writer Parentsquads










and then