9 Mitos Tentang ADHD, Benarkah Anak Laki-laki Lebih Rentan?

mitos tentang adhd

Saat ini, kita mungkin mulai banyak mendengar tentang anak-anak atau orang dewasa yang didiagnosa mengidap ADHD. Namun, gangguan ini sebenarnya belum dipahami dengan baik. Ada banyak mitos tentang ADHD yang belum tentu kebenarannya. 

Dilansir dari laman Healthy Children, banyak informasi yang salah beredar tentang ADHD dan penyebab, diagnosis, serta pengobatannya selama beberapa dekade terakhir.  

Mitos Tentang ADHD dan Faktanya

Berikut adalah beberapa mitos paling umum tentang gangguan ADHD.

1. Anak-anak dengan ADHD tidak bisa fokus dalam waktu lama

Anak-anak paling sering didiagnosis dengan ADHD karena mereka kesulitan memerhatikan atau fokus di sekolah. Padahal, itu bisa saja disebut deficit hyperactivity disorder. Jadi, banyak orang berasumsi bahwa anak-anak ADHD tidak dapat berkonsentrasi pada apa pun selama lebih dari beberapa menit. 

Caroline Mendel, PsyD, seorang psikolog klinis di Pusat ADHD dan Gangguan Perilaku di Child Mind Institute, sering membantah mitos ini. “Kenyataannya, jika itu adalah sesuatu yang sangat menarik bagi anak (ADHD) tersebut, dan itu adalah aktivitas yang disukai, mereka tetap mampu mengarahkan perhatian mereka pada tugas tersebut,” kata Dr. Mendel.

Terlepas dari namanya, masalah pada anak-anak yang memiliki ADHD sebenarnya bukanlah kekurangan perhatian, melainkan kesulitan mengarahkan perhatian pada hal-hal yang tidak terlalu bermanfaat bagi mereka, termasuk instruksi dari orang tua dan guru. Bahkan, banyak anak dengan ADHD mengalami hiperfokus, memberikan perhatian intens pada hal-hal yang menarik bagi mereka.

Itulah mengapa, anak-anak ADHD mampu fokus pada video game atau fokus mengerjakan PR matematika yang mereka sukai. 

2. Jika anak tidak hiperaktif, mereka tidak mungkin ADHD

Sekali lagi, terlepas dari namanya, tidak semua anak yang memiliki ADHD hiperaktif. 

Ada dua presentasi ADHD. Jika seorang anak memiliki presentasi hiperaktif-impulsif, gejalanya termasuk gelisah dan sangat aktif. Gejala-gejala tersebut juga mencakup perilaku impulsif –– tidak berpikir sebelum bertindak. Berbicara berlebihan dan sering menyela, ketidaksabaran yang ekstrem, dan kesulitan bermain dengan tenang adalah contoh dari gejala ADHD ini. Inilah gejala ADHD yang diketahui banyak orang. 

Namun, ada juga yang disebut gejala kurang perhatian. Anak-anak dalam kelompok ini mudah teralihkan perhatiannya dan kesulitan fokus pada hal-hal yang membutuhkan usaha berkelanjutan, seperti pekerjaan rumah. Pelupa dan kesulitan dalam mengatur sesuatu, juga termasuk dalam gejala ini. Hiperaktivitas bukanlah gejala di sini.

“Pengidap bisa hanya memiliki gejala kurang perhatian, hanya gejala hiperaktif-impulsif, atau gejala gabungan di mana ia memiliki gejala di kedua area tersebut,” jelas Dr. Mendel.

3. Hanya anak laki-laki yang memiliki ADHD

Dua kali lebih banyak anak laki-laki yang didiagnosis ADHD daripada anak perempuan, tetapi itu sebagian karena lebih sedikit anak perempuan yang hiperaktif. Dan hiperaktivitas lebih terlihat dan mengganggu daripada gejala ADHD lainnya, terutama pada anak-anak yang lebih muda.

“Biasanya, anak laki-laki lebih cenderung menunjukkan gejala tersebut daripada anak perempuan. Anak perempuan jauh lebih cenderung menunjukkan gejala kurang perhatian,” kata Dr. Mendel. 

Gejala umum lainnya pada anak perempuan yang terlihat dalam praktiknya adalah labilitas emosional yang tinggi. Mereka kesulitan menghambat respons emosional. Hal ini dapat terlihat sebagai perilaku yang terlalu emosional terhadap sesuatu yang tampaknya sepele, seperti berakhirnya screen time. 

4. ADHD hanya menjadi masalah di masa kanak-kanak, dan akan hilang seiring waktu

mitos tentang adhd, anak adhd

ADHD memang berubah seiring waktu, tetapi bukan berarti menghilang. “Seorang remaja atau orang dewasa dengan ADHD mungkin tidak akan beranjak dari tempat duduknya, tetapi mereka mungkin merasa tidak nyaman, gelisah, atau resah secara internal,” kata Dr. Mendel. Perjuangan tersebut mungkin tidak begitu terlihat secara eksternal.

Saat anak-anak memasuki usia sekolah menengah atas, ekspektasi meningkat. Remaja dengan ADHD dapat mengalami kesulitan secara akademis, sosial, dan emosional. Jika tidak diobati, ADHD dapat menyebabkan perilaku impulsif dan berisiko seperti penggunaan narkoba dan masalah hukum lainnya.

Menurut Dr. Mendel, sekitar sepertiga anak dengan ADHD tidak akan lagi memiliki gejala ADHD saat mereka dewasa. Sepertiga lainnya akan memiliki gejala ADHD hingga dewasa, tetapi gejalanya tidak akan separah saat masih anak-anak. Dan hampir sepertiga akan memiliki gejala ADHD yang signifikan sepanjang hidup mereka.

Namun, Dr. Mendel tidak menganjurkan orang tua untuk menunggu dan berharap anak mereka akan sembuh dari gejala ADHD seiring bertambahnya usia. Perawatan yang direkomendasikan termasuk mengajarkan anak-anak keterampilan akan membantu mereka mengelola gejala mereka sepanjang hidup mereka.

5. ADHD disebabkan oleh pola pengasuhan yang buruk

Mudah untuk menyimpulkan ketika seorang anak impulsif, tidak mengikuti instruksi, dan sering bertingkah, bahwa mereka belum diajari untuk berperilaku baik di rumah. Namun ADHD adalah gangguan perkembangan saraf, dan pencitraan otak menunjukkan perbedaan cara kerja otak pada anak-anak dengan gangguan tersebut.

Strategi pengasuhan yang umum seringkali tidak berhasil pada anak-anak yang memiliki ADHD, sehingga orang tua perlu beradaptasi. Meskipun pengasuhan tidak menyebabkan ADHD, peran orang tua sangat penting dalam membantu anak-anak dengan ADHD belajar mengelola perilaku mereka.

Orang tua dapat dengan jelas mengungkapkan dan mencontohkan perilaku yang tepat dan memuji anak-anak mereka karena mengikuti arahan tersebut. Penguatan positif penting untuk membangun hubungan yang saling percaya dengan orang tua dan memotivasi anak untuk melanjutkan perilaku yang tepat. Latihan perilaku yang melibatkan orang tua dan anak-anak dapat membantu anak-anak dengan ADHD mengelola gejala mereka baik di rumah maupun di sekolah.

6. ADHD dan ADD adalah dua gangguan yang berbeda

Attention deficit disorder, atau ADD, adalah ADHD tanpa “hiperaktivitas,” dan beberapa orang menggunakannya untuk menggambarkan presentasi ADHD yang kurang perhatian. Namun sebenarnya, istilah ADD adalah istilah lama yang telah digantikan oleh ADHD.

7. Anak-anak yang mengonsumsi obat stimulan untuk ADHD berisiko lebih tinggi mengalami kecanduan

Beberapa orang berpikir bahwa mengonsumsi obat stimulan ADHD saat masih kecil, dapat menjadi pintu gerbang menuju penyalahgunaan zat di kemudian hari.

Namun sejumlah penelitian telah menemukan bahwa untuk anak-anak yang didiagnosis dengan ADHD, mengonsumsi obat stimulan tidak meningkatkan atau mengurangi risiko kecanduan alkohol, nikotin, ganja, dan kokain.

Sayangnya, anak-anak dengan ADHD berisiko lebih tinggi mengalami penyalahgunaan zat daripada anak-anak lain. Tetapi ini terkait dengan gangguan itu sendiri, bukan obat-obatan yang digunakan untuk mengobati gangguan tersebut. Karena banyak anak dengan ADHD cenderung impulsif, kesulitan fokus, dan hiperaktif, zat-zat yang mengurangi masalah ini dengan upaya minimal menjadi menarik. Obat tersebut bisa terasa seperti solusi cepat bagi anak yang sedang kesulitan.

Dan anak-anak ini cenderung merasakan efek zat tersebut lebih intens, sehingga mereka lebih rentan terhadap kecanduan. 

8. Obat ADHD akan mengubah kepribadian anak 

Obat stimulan untuk ADHD terkadang dikatakan membuat anak-anak menjadi murung atau mengantuk. Tetapi, itu tidak terjadi pada sebagian besar anak. Dan jika itu terjadi, artinya anak tersebut mendapatkan dosis yang salah atau obat yang salah yang tidak sesuai untuk kebutuhannya.

Ketika efek samping yang tidak diinginkan terjadi, biasanya obat dan formula diganti. Dosis juga penting. Misalnya, jika dosisnya terlalu tinggi, anak mungkin mulai tampak murung atau mudah marah. Jika itu terjadi, pengobatan perlu disesuaikan.

Namun, ada sekelompok kecil anak dengan ADHD yang menjadi murung dan mudah tersinggung ketika mereka mengonsumsi obat stimulan, bahkan pada dosis efektif terendah. Untuk anak-anak ini, pilihan pengobatan lain, termasuk obat non-stimulan, perlu dieksplorasi.

9. Pengobatan untuk ADHD akan menyembuhkan

Gangguan perhatian/hiperaktivitas adalah kondisi kronis yang seringkali tidak sepenuhnya hilang, tetapi malah berubah bentuk seiring waktu. Banyak remaja dan orang dewasa yang lebih tua mampu mengatur kehidupan mereka dan menggunakan teknik yang memungkinkan mereka untuk tidak memerlukan pengobatan medis, meskipun sejumlah besar orang terus melanjutkan berbagai bentuk pengobatan dan dukungan sepanjang hidup mereka. 

Ini tergantung pada keadaan dan tuntutan saat seseorang dewasa.

Penting untuk memahami mitos dan fakta ADHD. Karena, sudah saatnya kita berhenti mempercayai informasi yang keliru dan mulai membangun pemahaman yang lebih tepat serta empati terhadap individu dengan ADHD. 

Dengan edukasi yang benar, dukungan yang tepat, dan lingkungan yang inklusif, mereka dapat tumbuh, belajar, dan berkembang secara optimal tanpa stigma sosial tertentu.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen − = 9